Hari kedua penyambutan mahasiswa baru, Rina masih menyisakan semangat dalam diri. Tidak penuh euforia seperti tempo hari. Gadis itu belajar bahwa terlalu tinggi berekspektasi sering mengantar kita pada rasa kecewa. Karena tingginya ekspektasi bisa jadi pertanda tingginya hati. Padahal, kita cuma manusia. Prasangka baik memang perlu. Namun, segala sesuatu setelah itu cukup diserahkan pada Yang Maha Memelihara.
Sebelum berangkat, gadis rantau itu menyempatkan diri mengamati rumah tingkat di depannya. Temboknya warna putih. Pagar hitam tinggi membuat kesan tertutup. Di lantai dua, tampak jendela—entah kamar atau bukan—yang langsung menghadap jalan. Sudah setahun ia menempati rumah Pakde, baru kali ini mengamati rumah di depan sedemikian lekat. Bukannya Rina kurang perhatian pada lingkungan—atau mungkin memang begitu?—ia hanya memerhatikan apa yang menurutnya menarik. Lagipula, siapa sangka rumah itu merupakan sebuah indekos?
Deru mobil mengalihkan atensi perempuan itu.
"Eh, Mbak Rina. Mau berangkat kuliah, Mbak?" sapa wanita muda berpakaian formal. Senyum terkembang di wajahnya yang dipoles riasan natural.
"Iya, Tante. Masih penyambutan maba, sih. Hehe," jawab Rina sambil tersenyum pula. Nah, siapa bilang Rina tidak perhatian pada lingkungan. Ia kenal beberapa tetangganya, kok.
Wanita muda itu Tante Dian, tetangga persis sebelah rumah. Rina kenal dekat dengan beliau karena ia merupakan guru les bagi anak-anak Tante Dian, si kembar Delima dan Nilam. Terbukti, setelah ia menyalami sang ibu muda, ganti si kembar mencium punggung tangan Rina. Gadis itu membelai kepala si kembar yang ditutupi jilbab. Gemas.
"Kami duluan, ya, Mbak." Tante Dian membimbing si kembar memasuki mobil. Suami beliau sudah menunggu di kursi sopir.
"Iya, Tante."
Begitulah kendaraan roda empat itu melaju. Tujuan pertama mereka adalah sekolah anak-anak. Setelah itu, sang suami akan mengantar Tante Dian yang bekerja sebagai pegawai bank. Dirinya sendiri merupakan pegawai negeri. Sungguh keluarga yang sibuk.
Rina melirik jam di layar ponsel. Ia juga harus segera berangkat. Hari ini, gadis rantau itu bertekad menggunakan angkutan kota. Biar hemat.
-o0o-
"Di sini kosong?" tegur seseorang seraya menunjuk kursi di sebelah Rina. Suaranya nyaring padahal tidak sedang berteriak.
Rina mengangguk, mengiyakan lirih. Dilihatnya perempuan berjilbab yang kini duduk di sampingnya. Kacamata bundar bertengger di hidungnya yang mancung. Rona kemerahan menghiasi pipinya dan bibirnya seperti diukir untuk senantiasa tersenyum.
"Hai!" sapanya riang. "Saya Meutia." Ia menyodorkan tangan.
"Hai." Rina menjabat tangan Meutia dengan gugup. Agak tak menyangka ada yang tiba-tiba menyapa. Apa ia perlu memperkenalkan diri juga?
"Namanya siapa?" respons Meutia lebih cepat dari pikiran Rina.
"Rina."
"Siapa?"
Gadis berkacamata itu mencondongkan badan. Sepertinya suara Rina terlalu pelan. Suaranya mengecil ketika gugup. Masalahnya, sikap Meutia yang kelewat supel membuat Rina makin gugup.
"Ri ... na." Ia mencoba sekali lagi.
"Hima?" ulang Meutia.
Salah. Rina ingin meluruskan. Namun, lidahnya tiba-tiba kelu dan suaranya tercekat di kerongkongan. Apa istilahnya, nge-freeze? Nge-blank? Diliriknya tangan mereka yang masih dalam posisi berjabat tangan. Tepatnya, Meutia menggenggam tangannya erat, sedangkan jemari Rina sudah lemas sedari tadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah, Kerja, Nganggur
Fiction Générale[Periode II Lengkap] Sebelumnya berjudul, "Panggil Aku Dik Saja." Sebagai mahasiswa, Seno kerap mengalami masalah gara-gara: terlalu aktif berorganisasi, terlalu bebas bergaul, dan terlalu sering terbawa perasaan untuk ukuran seorang laki-laki. Menj...
