Kala Ramadan tiba, ibu Rina suka membuat takjil untuk dijual ke tetangga. Rina kira Ibu melakukannya untuk menambah pemasukan. Namun, setelah belajar bahwa memberi makan orang puasa sama ganjarannya dengan orang yang berpuasa, pahamlah Rina bahwa keuntungan bukan motivasi Ibu yang utama.
Sekarang, Rina berazam melakukan hal serupa. Sejak jauh-jauh hari, ia memupuk niat membuat kudapan berbuka. Baru Sabtu ini—hari pertama libur kuliah, tetapi Rina tidak bisa mudik karena pandemi—rencana itu terealisasi.
Rina mau bikin roti goreng. Resepnya sering lewat di medsos, bahan-bahannya terjangkau, dan tidak perlu oven. Ia hanya butuh roti tawar, meses sebagai isian, telur-tepung sebagai perekat, dan panir. Rina membeli versi murah dari bahan-bahan tersebut, alias roti tawar tanpa merek, meses curah, dan tepung panir kasar yang dijual di warung Bu Siti.
Sang gadis mengambil pisau, talenan, dan aneka wadah. Disisihkannya pinggiran roti yang kasar—barangkali bisa digunakan untuk resep lain. Pada wadah berukuran kecil, Rina membuat adonan tepung-telur sebagai perekat. Sementara wadah yang pipih dan lebar digunakan untuk mewadahi tepung panir.
Di luar dugaan, proses memanir roti yang diisi meses tidak mudah. Mesesnya kadang tumpah-tumpah sebab roti tawar yang kasar itu tidak langsung rekat dengan sedikit adonan telur. Panir yang bertekstur kasar juga kerap menggumpal alih-alih menempel rapi pada permukaan roti. Rina harus sedikit memijat pinggir-pinggir roti yang ia lipat jadi dua itu. Tidak masalah, ia sudah cuci tangan, kok.
"Allahumma ... kok, susah banget, sih," gerutu Rina tak peduli apakah ada yang mendengar. Resep sederhana pun rupanya bisa memancing emosi keluar.
Satu jam lebih sang gadis berkutat dengan roti, meses, adonan telur, dan tepung panir sampai tungkainya kebas dan tangannya penuh sisa-sisa adonan yang mengering berikut panir yang menempel. Hasilnya, dua puluh buah roti berpanir ditumpuk rapi di dalam wadah.
"Akhirnya jadi juga. Ya Allah. Alhamdulillah."
Rina mencuci tangan sambil berdesah. Memasak itu melelahkan. Tak apalah. Semoga lelahnya jadi bermakna dan tiap gerak tangannya berbuah rida.
Sementara roti-roti itu didiamkan di suhu ruang—sebab tak ada kulkas, Rina membersihkan diri dan mengisi luang dengan ibadah.
Bakda Asar, barulah perempuan itu kembali ke dapur. Wajan dipanaskan, minyak dituang. Kali ini, Rina memastikan ia tidak ceroboh. InsyaAllah. Satu per satu, ia cemplungkan roti berbalut tepung; begitu menyentuh minyak panas, muncul gelembung-gelembung. Saat warnanya berubah kecokelatan, roti goreng itu ia tiriskan.
Tahan, Na! Puasa!
Batin Rina tak sabar ingin mencicip kudapan yang begitu menggoda. Dua puluh buah roti goreng sudah siap saji. Tentu saja Rina tak akan menghabiskannya sendiri. Sudah dinyatakan bahwa niatnya adalah memberi makan orang puasa. Untuk itu, Rina sudah memanggil bala bantuan.
"Wih, Mbak Rina masak jajan," komentar Fio, si bocah periang, tak kalah antusias.
"Nah, tugasmu bantu Mbak ngantar ini ke teman-teman yang lain, oke?"
Fiolet mengacungkan jempol. Meski sudah setahun lebih tinggal di perumahan ini, Rina masih takut nyasar kalau jalan-jalan sendiri. Jadi, ia meminta Fio, yang konon hafal tiap rumah di gang ini, untuk menemani.
Setelah memberi tiga buah roti goreng untuk Delima-Nilam, mereka beranjak ke rumah Eren. Kepada si anak tunggal, Rina memberi dua buah saja. Begitu juga untuk Glen. Rina dan Fio melanjutkan perjalanan ke rumah Luki. Karena Lukita tiga bersaudara, Rina memberinya tiga buah, biar enggak rebutan. Terakhir, Rina mengantar Fio kembali ke rumahnya.
"Nah, ini buat kamu. Bagi-bagi sama kakak-kakakmu, ya." Rina memberi Fio empat buah roti goreng.
"Mbak, kok, baik banget," puji Fio. "Kemarin ngasih kerudung. Sekarang bagi-bagi takjil. Aku dapat banyak lagi."
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah, Kerja, Nganggur
Ficción General[Periode II Lengkap] Sebelumnya berjudul, "Panggil Aku Dik Saja." Sebagai mahasiswa, Seno kerap mengalami masalah gara-gara: terlalu aktif berorganisasi, terlalu bebas bergaul, dan terlalu sering terbawa perasaan untuk ukuran seorang laki-laki. Menj...
