Bagi Rizqi, Ramadan adalah puncak rezeki. Ibu memasak hidangan paling lezat untuk sahur. Bapak pulang membawa takjil gratis. Ia dan adik-adiknya menikmati momen sahur dan buka puasa tanpa khawatir akan kondisi ekonomi. Pada bulan mulia, rasanya dunia begitu murah hati.
Sekarang, Bapak sudah tidak ada dan Rizqi tidak berada di kampung halaman. Pukul tiga dini hari, anak sulung itu memeriksa pesan yang dikirim Ridho, adiknya. Bunyi pesan itu, Ibu masak ikan, diikuti gambar piring berisi lima ikan goreng ukuran sedang. Hati sang pemuda kontan diliputi syukur. Ia bersyukur Ibu dan adik-adiknya bisa bersahur dengan layak.
Setelah membalas pesan Ridho dengan emoji, Rizqi keluar kamar menuju dapur. Tampak olehnya Ibu Nur baru mulai memasak. Waktu salat di Semarang memang lebih lambat sebab letaknya lebih barat dari kampung halamannya.
"Saya bantu, ya, Bu," tegur Rizqi.
Pemilik indekos itu menyambutnya ramah.
Seperti malam-malam sebelumnya, seperti tahun sebelumnya, Rizqi membantu Ibu Nur menyiapkan sahur, mengobati rindunya pada Ibu di kampung halaman.
"Cobain, Qi." Wanita berdaster itu menyodorkan sesendok kuah sayur bening. "Udah pas?"
"Pas, Bu," sahut Rizqi usai mencecap dan menelan kuah segar itu.
"Syukur, deh. Takutnya Ibu kena covid, haha," gurau Ibu Nur.
Rizqi lalu merapikan meja makan: membawa wadah kotor bekas berbuka semalam ke wastafel, menyemprot cairan pembersih, mengelap meja hingga kinclong, dan memindahkan sepanci sayung bening. Pemuda itu beralih mencuci piring sementara Ibu Nur menggoreng ayam. Saat itulah Arseno memasuki dapur, mungkin wangi rempah yang beradu dengan minyak panas membangunkannya dari tidur.
"Mama masak apa?" racau si bungsu dengan suara parau.
"Eh, Adik udah bangun. Mama masak ayam goreng, bentar lagi mateng."
Seno masih setengah sadar, berjalan gontai, mendekat. Tangannya lantas melingkar di pinggang Ibu Nur sementara kepalanya ia jatuhkan di ceruk leher sang ibu.
"Heh, Adik, Mama nggak bisa gerak, dong."
Bukannya sadar, Seno malah mengigau manja, "Adik sayang Mama," lantas kembali mendengkur.
Rizqi tersenyum menyaksikan adegan ibu-anak itu. Untunglah ia selesai mencuci piring dengan cepat. Jadi, ia lekas menawarkan diri menggantikan Ibu Nur berkutat dengan percikan minyak panas.
"Tolong, ya, Qi." Ibu Nur kagok mengoper spatula.
Pukul tiga lewat dua puluh menit, menu lengkap telah tersaji cantik di meja. Arseno juga sudah sepenuhnya terjaga.
"Kok bau gosong, ya?" gumam Sen.
"Kompornya udah tak matiin, kok."
Setelah Rizqi bilang begitu, Seno tak ambil pusing. Ia beringsut mengambil secentong nasi, sepotong ayam, dan menyiramnya dengan seciduk sayur bayam. Ibu Nur dan Rizqi melakukan hal yang sama.
"Tinggal Dik Dipta, ya." Rizqi urung menyantap menu sahurnya. Ia beranjak, hendak ke lantai dua untuk membangunkan rekan indekosnya.
Baru beberapa anak tangga, Rizqi berpapasan dengan Dipta yang turun tergopoh. Saat Rizqi menyapa, yang terdengar dari pemuda dengan rambut berantakan itu adalah gumaman panik, "Kebakaran," dan "Rumah Dik Rina."
Rizqi ikut berlari ke luar dengan cemas hati.
Benar kata Dipta. Asap membumbung dari lubang ventilasi rumah seberang. Rizqi bertukar pandang dengan Dipta yang menghentikan langkah, dan Arseno yang ikut menyusul ke luar rumah. Ketiganya seiya sekata, khawatir akan keselamatan Rina.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah, Kerja, Nganggur
General Fiction[Periode II Lengkap] Sebelumnya berjudul, "Panggil Aku Dik Saja." Sebagai mahasiswa, Seno kerap mengalami masalah gara-gara: terlalu aktif berorganisasi, terlalu bebas bergaul, dan terlalu sering terbawa perasaan untuk ukuran seorang laki-laki. Menj...
