Tahu apa yang lebih mematikan dari kuliah dalam jaringan? Kombinasi pandemi, kuis Aljabar Linier, dan kondisi berpuasa. Rina merasa nyawanya berkurang separuh setelah menjalani kombinasi akbar tersebut. Bercanda, astaghfirullah.
"Baik. Yang sudah men-submit jawaban diperkenankan meninggalkan zoom. Waktu untuk submit sisa 5 menit, semoga tidak ada yang terkendala."
Rina mengembuskan udara—gabungan ekspresi lelah dan lega. Ditekannya ikon untuk keluar dari telekonferensi yang mengharuskannya menyalakan kamera—mencegah kecurangan, katanya. Setidaknya, dengan izin dan pertolongan Allah, sang mahasiswa telah mengerjakan ujian dengan maksimal. Usahlah ada ruang untuk menyesal.
Sekarang pukul sebelas lewat lima. Setelah mengenakan masker, gadis itu berjalan gontai ke luar kamar, menuju ruang depan. Disunggingkannya seulas senyum melihat tugasnya mendampingi anak-anak Pelangi diambil alih pemuda bernama Dipta dengan cukup baik. Hampir satu bulan pemuda itu membantu Rina. Amat bersyukur gadis itu bahwa bebannya berkurang separuh—honornya juga.
"Eren udah pulang?" tanya Rina menyadari raibnya si anak pendiam.
Dipta membenarkan. "Iya. Barusan dijemput."
Nilam menambah, "Eren sekolahnya cepet. Katanya hari efektif fakultas soalnya bulan puasa."
"Efektif fakultatif kali," ralat Rina.
Sekarang bulan Ramadan. Waktu efektif KBM anak SD jadi lebih singkat. Beberapa malah diganti dengan kegiatan keagamaan, meski masih via jaringan. Yang tidak berubah adalah jadwal kuliah Rina—dunia perkuliahan memang kejam.
Rina lalu duduk berselonjor bersandar tembok.
Melihat hal itu, Dipta berkomentar, "Udah selesai kuliahnya?"
"Udah. Alhamdulillah." Gadis itu lantas menambahkan, "Ini minggu terakhir, insyaAllah."
"Oke." Dipta mengalihkan tatap pada anak-anak. "Berhubung udah ada Mbak Rina, Mas pulang dulu."
Usai berpamitan, cowok jangkung itu beranjak. Hal kedua yang Rina syukuri: pemuda itu amat paham batasan. Area sang pemuda tidak lebih dari ruang tamu. Bahkan, untuk urusan kamar mandi pun laki-laki itu memilih kembali ke kos—yang memang dekat. Sebagai orang dewasa yang bijak, mereka berdua juga selalu memakai masker menutupi wajah, mencegah penularan wabah—sekaligus mencegah fitnah. Akan tetapi, daripada semua itu, yang paling Rina syukuri adalah—
"Mas, aku ikut!"
—Glen jadi punya teman; figur laki-laki dewasa yang bisa ia jadikan panutan.
Sebagai pengganti surau yang dibatasi akibat pandemi, sekarang Glen kerap mengekor Dipta ke indekos seberang buat numpang salat dan bermakmum. Anak laki-laki itu masih ogah jadi imam.
"Kalian juga siap-siap salat sana! Bentar lagi masuk Zuhur," imbau gadis itu kepada empat anak perempuan yang tersisa.
"Habis Zuhur mau belajar lagi, Ki?" tawarnya pada Lukita.
Tumben, Lukita menolak. "Nggak dulu, deh. Sekolahku juga lagi efektif fa-kul-ta-tif."
"Kalau gitu gantian aku!" sergah Fio. "Barusan dapat tugas bikin poster apalah itu. Bingung banget."
Rina menyanggupi. Gadis itu kemudian kembali mengingatkan supaya anak-anak mulai berwudu, antre.
"Oh, iya. Aku lagi nggak salat, Mbak," ucap Fio.
Sang gadis memutar mata. Skeptis. Ia merespons dengan teguran, "Fio, Mbak 'kan udah bilang jangan bercanda soal begituan. Apalagi sekarang bulan puasa."
"Ih, beneran, Mbak!" Anak periang itu menyanggah dengan suaranya yang melengking.
Pernyataan selanjutnya membuat Rina kontan memelotot.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kuliah, Kerja, Nganggur
Ficción General[Periode II Lengkap] Sebelumnya berjudul, "Panggil Aku Dik Saja." Sebagai mahasiswa, Seno kerap mengalami masalah gara-gara: terlalu aktif berorganisasi, terlalu bebas bergaul, dan terlalu sering terbawa perasaan untuk ukuran seorang laki-laki. Menj...
