23. (b) Ikhlas

35 2 0
                                        

Hari itu, Rina bangun lebih lambat dari biasanya. Bunyi-bunyian dari langgar sudah tak terdengar—artinya jamaah sudah bubar—digantikan rombongan burung yang berkicau menyongsong fajar. Seketika gadis itu merasa takut untuk bangun. Posisinya saat ini—ia dalam kondisi berbaring—sudah nyaman. Ia takut begitu beranjak, rasa sakitnya kembali.

Ah! Rina tidak boleh begini. Bagaimana Tuhan akan mengabulkan doanya, jika perintah-Nya tak ia jalankan. Begitulah ia menunaikan Subuh sesaat sebelum matahari terbit. Sejujurnya, kekhawatirannya tidak terbukti. Lukanya sudah tidak sesakit itu. Agaknya semalam sel-sel tubuhnya beregenerasi dengan baik.

Kendati fisik Rina membaik, psikisnya masih dilanda kabut. Pikirannya semrawut. Hal tersebut membuatnya malas melakukan apa-apa. Padahal, hari ini jadwal les anak-anak Pelangi. Rina merasa kepalanya seperti wadah yang penuh. Ia butuh kanal untuk menyalurkan pemikirannya agar tidak keruh. Mengeluh bukan solusi. Pun tawakal jadi kehilangan makna jika ikhtiar belum dilaksanakan. Dalam kasus Rina, ikhtiar yang tepat adalah menemukan orang untuk berbagi cerita. Tapi, siapa?

Orang tua sudah ia keluarkan dari opsi. Anak tunggal itu belum siap menceritakan insiden malam itu pada mereka, dan sepertinya tidak akan pernah siap. Rina hanya tidak siap mendengar tanya penuh kekhawatiran Ibu atau ceramah Bapak yang mungkin justru membuatnya makin tertekan.

Biasanya, kalau sedang ingin didengar, Rina akan mengandalkan Mbak Veya, sepupunya—yang juga penghuni asli rumah yang ia tempati. Akan tetapi, saat ini mereka terpisah oleh jarak. Selain itu, menceritakan detail kejadian semalam pada Mbak Veya yang tidak ada sangkut-pautnya pasti akan melelahkan.

Pilihan yang tersisa adalah Meutia. Ah, kawannya itu sungguh baik. Rina ingat bagaimana kemarin Meutia begitu pengertian mengantarnya ke parkiran, tanpa bertanya apa-apa. Ia berutang cerita pada gadis Aceh itu. Namun, itu berarti ia harus menunggu esok lusa.

Ya, sudahlah. Sekarang, ia akan menunggu kedatangan anak-anak Pelangi saja untuk menghibur diri.

Saat itulah, Rina melihat Rizqi, tetangganya, dan laki-laki jangkung yang ia lihat di rumah sakit kemarin. Jika ada orang yang paling paham kronologi peristiwa malam itu; menyaksikan bagaimana Rina terbawa emosi kala itu; maka orang itu adalah pengemudi yang bersamanya saat kejadian, Rizqi.

Ragu-ragu Rina keluar rumah. Rina bisa melihat air muka Rizqi jauh lebih cerah daripada saat terakhir kali mereka bertemu. Ketika pandangan mereka bersitatap, ia memutuskan menghampiri pemuda itu.

"Mbak, gimana kabarnya?" respons Rizqi atas sapaan Rina.

"Um, ya .... Alhamdulillah."

"Alhamdulillah."

Pemuda jangkung yang bersama Rizqi lantas menyeru, "Aku masuk duluan!" Meninggalkan mereka berdua.

Rina mendadak bingung. Apa yang harus ia katakan?

Mendapati Rina hanya diam, Rizqi menegur dengan halus, "Ada yang mau disampaikan?"

"Ada tapi bingung," sahut Rina spontan. Gadis itu lantas memalingkan wajah dan menggaruk kepala yang ditutupi khimar. Ah, kenapa ia jadi kekanak-kanakan?

Rizqi tersenyum maklum, menawari Rina untuk berbincang sambil jalan. Gadis itu mengiyakan, asal jalannya pelan-pelan. Sepertinya ia butuh menggerakkan tubuh dan menghirup udara segar biar pikirannya tidak sumpek.

Rizqi berjalan di samping, agak mendahului Rina, dengan tetap menjaga jarak di antara keduanya. Rina jadi ingat bagaimana wajah memelas sang driver saat mencegahnya melakukan hal yang membahayakan.

"Waktu itu saya jahat banget, ya," gumam Rina seraya memainkan ujung kerudung.

Rizqi diam sejenak, mengingat waktu itu yang dimaksud. "Kan dalam rangka membela diri," responsnya.

Namun, Rina menyanggah. Kalau sekadar membela diri, harusnya ia tak sampai bertindak sedemikian. "Kayaknya aku cuma mau membalas orang itu."

Saat itu, yang ada di pikirannya: kalau ia disakiti, orang itu harus merasakan hal yang sama, bahkan berkali lipat lebihnya. Inilah yang membuat Rina dihantui sesal di kemudian hari. Tindakannya saat itu tidak dilandasi niat yang benar. Tak ada dalih jika ia dituntut di hari kemudian.

"Kalau mereka betulan jahat, kita enggak bakal selamat, nggak, sih?" tanya Rina. Ini mungkin terdengar naif, tetapi gadis itu merasa orang-orang itu berbuat jahat karena terpaksa. "Jangan-jangan mereka orang yang lagi butuh uang dan pertama kali nyoba nyuri motor orang?"

"Iya, juga, ya. Makanya orang yang satu lagi agak luluh waktu saya ngaku driver ojol," timpal Rizqi. "Mana ada preman takut sama cewek megang pisau. Luka lagi."

"Nah, kan? Aku jadi makin kelihatan jahat. Kira-kira bakal ketemu orang itu lagi, nggak, ya?"

"Buat?" Rizqi mengernyit heran.

"Um ... ya ... Kan nggak lucu nanti aku mau masuk surga nggak jadi gara-gara dia nggak maafin aku. Padahal situ yang mulai duluan," gerutunya.

Rizqi tertawa kecil. "Nggak gitu juga konsepnya."

Rina manyun. Ia sudah gagal jaga image setelah mengatakan hal-hal konyol barusan.

"Di dunia ini, ada hal-hal yang nggak bisa kita kendalikan," ucap Rizqi. "Pikiran dan tindakan orang lain, contohnya. Sementara yang bisa kita kendalikan: pikiran dan tindakan kita."

"Haah... Harusnya waktu itu aku nggak kebanyakan polah," potong Rina.

"Iya, kamu salah," ucap Rizqi.

Rina terpana. Itu bukan kalimat yang lazim digunakan untuk menghibur seseorang. Biasanya 'kan orang bilang, kamu enggak salah.

"Kamu mungkin salah karena dikuasai amarah. Tapi, bukan cuma kamu. Saya juga salah: waktu itu, saya terlalu mentingin harta benda, padahal ada nyawa orang lain yang jadi taruhan. Mereka juga salah—enggak usah dibahas salahnya apa. Namanya manusia, diciptakan dengan nafsu, selalu mendorong pada kejahatan. Tinggal gimana kita menjinakkannya."

Gadis itu menyimak penjelasan Rizqi. Bukan hal baru, tetapi itulah yang ia butuhkan saat ini. Benang kusut di kepalanya mulai terurai. Mereka masih berjalan dengan tempo yang amat pelan.

"Apa kamu juga nyesel karena salat Isya dulu waktu itu? Padahal kalau berangkat lebih cepat mungkin—"

"Ya enggaklah!" sergah Rina. "Iya, sih. Kalau berangkat lebih cepat kita mungkin enggak ketemu mereka. Tapi, amit-amit kita ketemu musibah yang lain, terus mati dalam kondisi belum salat Isya, dong."

"Nah, itu. Takdir 'kan memang sudah ada yang ngatur. Yang sudah terjadi, ya sudah. tinggal diambil hikmahnya. Kita nggak tahu apa bakal ketemu mereka lagi. Semoga saja orang itu nggak dendam setelah tangannya kamu tusuk. Tapi, bisa jadi kejadian itu justru berdampak baik, bikin mereka insaf, misalnya."

Pemuda itu menoleh ke arah Rina seraya tersenyum. "Selain memperbaiki diri, yang bisa kita lakukan: memaafkan diri sendiri."

Rina tertegun. Langkahnya berhenti. Memaafkan diri sendiri, mungkin itu yang ia butuhkan saat ini.

"Iya, juga, ya."

Akhirnya, gadis itu merasa lega.

"Makasih, Mas."

Setelah itu, percakapan mereka jadi lebih ringan. Pembawaan Rizqi yang dewasa mengingatkan Rina pada Mbak Veya, membuat gadis itu merasa nyaman. Mungkin, itu juga karena ia sudah banyak menunjukkan kelemahannya di depan tetangganya.

Tahu-tahu, mereka sudah kembali ke depan rumah. Sepertinya sudah hampir pukul delapan, karena Lukita sudah menunggu di depan.

"Duluan, ya, Mas. Sudah sudah ditunggu, hehe."

"Kalau ada apa-apa jangan sungkan berkabar, ya, Dik Rina," pesan Rizqi.

Rina mengangguk dan bergegas menghampiri Lukita. Sesaat kemudian ia baru sadar: sejak kapan Rizqi memanggilnya 'Dik'? Hatinya menghangat. Mungkin begini rasanya punya kakak laki-laki.

-o0o- 

AN Yeay, tamat!---Nggak, ding, bercanda---Tamat periode I, maksudnya. Alhamdulillah.

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang