19. Khilaf

24 3 0
                                        

Warning: Senjata Tajam, Darah, dan Kekerasan

Rina hanya ingin pulang.

Berkeliaran di kampus sampai malam bukan tabiatnya. Ia bukan manusia kelelawar. Otak dan tubuhnya bekerja dengan prima di pagi hari, bukan di waktu malam. Kalau bukan karena kerja kelompok, ia sudah pulang dari tadi sore. Menunaikan Magrib di rumahnya yang nyaman. Membaca Al-Kahfi sambil menunggu Isya. Dan tidur awal agar besok bisa bangun dini hari.

Jam segini, angkot sudah tidak ada. Kalau pun ada, gadis itu tidak berani naik angkot malam-malam. Rawan. Selain itu, ia ingin cepat-cepat pulang. Badannya sudah pegal-pegal karena beraktivitas seharian. Itulah mengapa ia memesan ojol, dapat driver bernama Rizqi Arroyyan yang ternyata tetangga sendiri, tetapi mari kita abaikan hal tersebut saat ini.

Rina sama sekali tak punya praduga ketika motor mereka tiba-tiba dihadang. Gadis itu selalu duduk miring di atas motor, jadi saat kendaraan roda dua itu berhenti, ia spontan turun sambil memeluk tas. Pandangannya terhalang karena sedang memakai helm. Namun, ia bisa melihat pria berpakaian hitam menodongkan pisau. Di sisi lain, didapatinya Rizqi tengah sibuk meladeni pria berkumis yang bersenjata celurit.

Ia perlu berpikir cepat: apa yang harus dilakukan untuk keluar dari situasi ini? Menghubungi nomor darurat?—tetapi ponselnya tersimpan di tas. Rina bukan orang yang tangkas. Otaknya pun sedang tidak bisa membantu. Buntu.

Apakah para begal—atau apalah mereka itu—akan puas jika ia menyerahkan seluruh hartanya: tas berisi laptop, ponsel, dompet, dan buku kuliah? Namun, bagaimana Rina hidup tanpa benda-benda itu? Fail presentasi kelompok tersimpan di laptopnya dan besok ada kuliah pagi. Ah. Selain tidak membantu, otaknya suka memikirkan detail yang tidak perlu.

"Jangan bergerak!"

Tahu-tahu saja mata pisau itu semakin dekat ke arahnya. Tampaknya pria itu ingin menjadikannya sandera. Rina sebenarnya ingin cari aman. Akan tetapi, ketika pria itu mencoba mengalungkan tangan ke lehernya, Rina refleks menghindar. Gadis itu memang ceroboh. Reaksi tubuhnya kadang-kadang tidak bisa ia kendalikan. Entah gerakan apa yang ia lakukan, tetapi kali ini kecerobohan itu membawa malapetaka.

"Dikandani ojo obah!" hardik pria berpakaian hitam yang juga refleks menjauh.

Tahu-tahu saja perutnya mengucurkan darah. Pisau itu menggores tubuhnya sebelum jatuh ke tanah.

Sakit.

Gadis itu ingin berteriak, menjerit, meraung, melolong. Namun, tidak. Suaranya tidak keluar. Suaranya mengecil ketika gugup. Dan situasi kali ini lebih dari gugup. Rina kalut. Beragam emosi menguasai jiwanya. Takut. Bingung. Marah.

Namun, justru ketika fungsi hati Rina terganggu, otaknya menajam. Persetan pekerjaan kelompok atau kuliah pagi. Semua itu tak ada artinya kalau ia mati.

Rina melepas helm yang mengganggu pandangan. Juga tas yang lantas ia letakkan sembarangan. Dipungutnya pisau yang tergeletak di aspal. Seolah tanpa perhitungan, gadis itu tiba-tiba menyerang, mengayunkan pisau ke arah lawan.

Terkejut dengan manuver tiba-tiba sang gadis, pria berpakaian hitam itu menahan serangan dengan mencengkram pergelangan tangannya. Akan tetapi, memang itu yang Rina kehendaki. Ia mengoper pisau ke tangan kirinya yang bebas. Ditikamnya punggung tangan pria itu.

"Argh!"

Jeritan kesakitan itu entah kenapa membuat Rina merasa puas. Lega. Bukankah pria itu duluan yang menyakitinya. Sekarang, mereka impas.

Rina masih mengacungkan pisau. Masih ada kekhawatiran pria itu berbalik menyerang. Luka di perut bagian kanan atas baru kembali terasa sakit. Rasanya seperti kulitnya ditarik dengan keras. Nyeri. Semakin terasa sakit, semakin kuat pula genggaman tangan Rina pada gagang pisau. Benarlah bahwa orang yang memamerkan kekuatan sejatinya menyembunyikan ketakutan. Pihak yang menyerang duluan sebenarnya menyimpan kelemahan terbesar.

Berdasarkan logika Rina yang dipertanyakan kebenarannya, tangan adalah pusat pergerakan manusia. Kalau tangannya luka, ia tidak akan bisa memegang senjata. Karena itulah Rina mengincar tangan kanan pria itu. Kali ini, ia mengincar tangan kirinya. Bahkan, kalau ia ingin benar-benar melumpuhkan pergerakan pria itu, giliran selanjutnya adalah kaki kanan, lalu kaki kiri, dan jika Rina benar-benar berniat membalas perbuatannya ...

"Mbak!"

Demi mendengar pekikan itu, dan mendapati Rizqi menghampirinya, menghalang ayunan pisaunya; nurani gadis itu kembali. Pun akal sehatnya. Dilihatnya pria berpakaian hitam itu melindungi wajahnya dengan kedua lengan—yang berlumur darah. Itu gesur ketakutan. Pria satunya tampak tidak kekurangan suatu apa—selain celuritnya yang raib—tetapi juga tidak menunjukkan pergerakan berarti selain menghampiri kawannya. Pasrah. Mereka sudah kalah.

"Sudah, Mbak, sudah!" Yang paling menyedihkan adalah Rizqi. Pengemudi itu memasang wajah memelas, menatapnya. Rizqi lantas berbalik menghadap kedua pria tadi dan mengatakan hal serupa. "Sudah, Pak, cukup! Tolong, jangan ganggu kami," pintanya.

Rina masih menggenggam pisau. Tatapannya nyalang. Menyeramkan.

Kedua pria itu saling memberi isyarat untuk menyerah. Mundur. Mereka bergegas menaiki motor mereka yang tidak layak jalan. Kabur.

Barulah Rina menurunkan senjata. Diembuskannya napas kasar. Lega.

"Mbak, Mbak nggak papa?" tanya Rizqi dengan wajah cemas. "Mbak ... ada yang luka?"

Demi mendengar pertanyaan itu, Rina mulai menangis. "Saa ... kiit ... Hiks ... huu.. huu."

"Astaghfirullah. Kita ke rumah sakit, ya, Mbak. Mbak masih bisa naik motor?" tanya pengemudi itu hati-hati yang diangguki Rina.

Sungguh, Rina tidak menjerit ketika mata pisau itu menggores kulitnya. Gadis tidak menangis ketika darah mulai mengucur dari lukanya. Akan tetapi, sekarang seseorang menghampirinya, menanyai kondisinya. Bolehkah gadis itu mengadu, ia sedang tidak baik-baik saja? Fisik dan batinnya lelah. Namun, gadis itu kesulitan mengutarakan apa yang ia rasakan. Jadilah yang ia lakukan hanya tersedu-sedan.

Sepanjang perjalanan, Rina terus merengek. Pikirannya dipenuhi kekhawatiran akan hari esok. Ia akan sangat bersyukur jika terbangun dan ternyata semua ini hanya mimpi buruk. Namun, sakit yang ia rasakan terlalu nyata.

Ya Allah, sakit! Capek!

Di saat seperti ini, rasanya gadis itu begitu lemah, tidak bisa apa-apa. Maka ia menyeru Yang Mahakuat, Mahakuasa.

Ya Allah, tolong!

Dibenamkannya wajah pada punggung pengemudi yang hatinya juga sedang dilanda panik.

Allah, maaf!

Sungguh, ia cuma manusia yang penuh khilaf dan dosa.

Allah!

-o0o-

Kuliah, Kerja, NganggurCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang