Menggunakan nama orang untuk menjadi terkenal, seorang adik yang melihat keatas menatap kakak yang begitu tinggi menjulang. "ini adalah kesenjangan sosial" fikir si kakak dengan mata sayu nya.
"aku akan kembali, jangan kemana mana oke" menarik pelan celana kakaknya yang tidak bergerak.
cepat cepat si adik berlari mengitari rumah untuk mencari seseorang yang bisa diajak untuk menemui kakak nya, namun begitu banyak orang disana tidak ada yang bisa memahami apa yang dia katakan. kemudian si adik terdiam mendengar kakaknya berteriak dari lantai atas dia dengan segera langsung berlari menmui kakak nya.
baru ketika si adik menangis menjerit semua datang kelantai atas memastikan apa yang terjadi, dan itu terlambat sang kakak tewas tergeletak di lantai dengan kepala yang masih tersangkut di pintu loteng kamar nya.
=
10 tahun kemudian,
kecelakaan itu mengakibatkan semua pembantu dirumah itu di keluarkan dari rumah utama beberapa yang mengerti bahasa isyarat digugat dengan hukuman seumur hidup penjara.
Not Me
"anak dari ketua K kembali menginjak kan kaki ketanah air nya, mengakibatkan beberapa perusahaan terguncang karena kembali nya ahli waris yang sesungguhny..."
"kami meliputi beberapa yayasan yang terkait dengan perusahaan K yang mendapat bantuan yang lebih banyak namun di korupsi oleh beberapa oknum. tapi terselesaikan dengan ahli waris perusahaan K yang.."
klep. layar besar itu dimatikan.
"tolong turunkan dokumen ini, berikan beberapa anjing daging" memutar kan kursi, muak dengan berita yang tidak penting.
"tuan, kami memberikan beberapa daging tadi pagi juga"
"yaa berikan juga malam ini beberapa"
"tapi, nyonya mengatakan.."
"siapa tuan mu disini?" aku mengerutkan kening.
"baik" dia menunduk dan pergi.
aku lagi lagi hanya melihat tinggi nya langit langit, kakak laki laki ku yang pertama menatapku disofa yang menyajikan teh dan beberapa makanan manis.
"jangan tegang, kali ini aku akan memastikan kalau kau hidup nyaman disini"
aku mengangguk pelan, kakakku berdiri menghampiriku menggenggam rahangku dengan satu tangannya.
"huh, ahli waris sesungguhnya" menghempaskan wajahku.
"kali ini aku cuman bisa diam karena kau terus terusan diawasi oleh wartawan, tapi ketika kau menjadi sainganku"
aku menatap mata abangku karna dia mendekatkan wajahnya kearahku, "kau akan mati seperti adik laki laki ku kan" dia tersenyum.
dia menjauh duduk di kursinya kembali, "ubah tatapanmu itu, menjijikkan"
