Baby Bos

114 3 0
                                        


Not Me 

dengan keadaan lunglai bayi yang lucu datang menghampiriku dengan tangannya yang menginginkan pelukan, kakak mencoba untuk menggapainya sebelum dia jatuh namun kakakku tidak sigap dia terjatuh dan terduduk dibawah tepat didepan ku dengan hampir menangis tidak bisa merasakan kehadiran siapapun disisinya.

"aaa" teriaknya, tapi aku tetap tidak bersuara dan membiarkannya. dia menangis tersedu sedu menatapku yang tidak bergerak dari posisi duduk, lagi lagi membuatku luluh dan mengangkatnya dan duduk dipangkuanku.

"hiks kakak" setelah puas menangis dia tertidur lagi, abangku yang duduk disampingku hanya bisa menggeleng geleng dengan tingkah kami. namun kakak ku yang segera mengambilkan selimut dan menyelimuti bayi kami dan sekaligus aku, kakak ku mengernyit dan mengambil rokokku yang ku isap dari tadi.

"bahkan tidak baik untuk adik kita, kau tau itu kan. bisa bisanya satu ruangan namun kau tidak menghiraukan adik kecil kita" ungkap nya kesal dan juga mengambil bungkusan rokokku ditangan.

"kakak, mau sampai kapan kalian memanjakan dia. dia sudah besar dan terus menempel kepadaku" aku mengeluh.

"ketika kau tidak ada, dia menempel kepada ku. tapi aku sangat menyukai itu" abangku menimpali.

"jangan katakan apapun lagi, ini kan amanah ibu. lagian hanya dia yang tersisa dari mendiang ibu kita"

aku menatap tajam kakak yang berbicara, "dia bukan ibu kandung kita, bahkan suami nya saja membunuhnya dihadapan anak ini"

"hy hy jaga omonganmu" abang dan kakak.

"ck" aku tidak lagi ingin berdebat tentang ini, tapi ada saja pemicu yang membuatku kesal, namun bodohnya adik bungsu kami mendengar semua itu dia terbangun dan dengan berjalan pelan kembali kekasur dan meringkuk dibawah selimut yang dia bawa.

kakak dan abang menghela nafas menatapku kesal, aku hanya mengangkat bahu mengambil kembali kotak rokok dan korek lalu keluar mencari udara segar.

abang mengikuti ku keluar dia tidak merokok lagi jadi dia membuka sebungkus permen gagangnya, 

"ketika nanti aku dan kakak tidak ada, kau yang akan menjaganya. aku merasa dia kewajiban kita karna ayah biologisnya penjahat yang akan kita buru, dia masih kecil dan butuh kasih sayang yang lebih. tidak pernah diberi pendidikan yang layak dan bahkan kemampuan bicara nya saja sangat sangat kurang"

aku terdiam, namun abang memberikan pistol padaku. "misi kita hanya organisasi yang tau, selagi kami berburu aku harap kau menjaga dia seperti kami menjaga nya. kakak dan aku tidak akan membiarkanmu ketika dia terluka ataupun tergores, jaga dia baik baik dik" 

aku tertegun, mendorong sodoran pistol itu. "aku tidak butuh, aku masih memiliki yang lebih bagus dari itu, dan jangan karna ada maunya abang memanggil ku adik" aku membuang rokokku yang sudah habis.

"kita sudah berlatih dari umur yang sangat kecil dengan misi misi yang tidak masuk akal, ini adalah misi yang sangat mudah"

"yayaya, aku tau namun bagaimana bisa sampai sampai kalian terus memandang dia dan hanya menatap dia begitu lama hingga aku yang adik kandung kalian terlupakan"

"apa itu kecemburuan?" kakak datang membawakan mantel abang, dia sudah bersiap untuk pergi.

"tidak, pergilah aku akan menjaganya. jangan sampai mati" aku memberikan 2 kotak peluru pada mereka.

"kami memercayaimu, kau juga jangan mati"

aku melihat kedua saudaraku yang pergi jauh.

=

Obses To My HannyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang