42. A Form of Regret

1.6K 114 54
                                        

A/N Hello, I'am back guys! so happy, akhirnya aku bisa menyapa kalian lagi, maaf ya sudah membuat kalian menunggu terlalu lama untuk bertemu dengan AgaGia lagi, aku harap masih ada yang mau menemani aku untuk menyelesaikan cerita ini sampai akhir, semoga kalian masih ada disini ya. Enjoy the story! jangan lupa berikan ungkapan cinta kalian di kolom comment dan vote, terima kasih<3

***

"Gue udah payment ticket, visa, pasport semua nya udah gue urus, dan jadwal keberangkatan gue ke Paris besok lusa."

"Siapa yang mau ke Paris?"

Gianna yang sebelumnya berdiri menghadap jendela kamar yang terbuka terhenyak saat suara Arla—tantenya terdengar dari arah belakang. Perempuan itu berbalik, dan menemukan tatapan penuh tanya dari wanita yang berdiri di ambang pintu.

"Nan, nanti gue telpon lagi." ujarnya kepada Nania yang berada di seberang telepon sebelum kemudian mematikan ponsel miliknya.

"Siapa yang mau ke Paris?" suara Arla terdengar lagi, "Terus ini kenapa? kamu lagi packing?"

Gianna mengikuti arah pandangan wanita di depannya yang sedang memperhatikan beberapa barang miliknya yang berada di lantai; koper yang terbuka, beberapa helai pakaian dan barang-barang penting lainnya.

"Gianna, siapa yang mau ke Paris?"

Perempuan yang ditanya itu masih tidak menjawab, ia berusaha untuk mengalihkan pandangan dari tantenya, walaupun sebenarnya mau ditutupi bagaimana juga ia sudah tertangkap basah dan keluarga nya pun juga berhak tau atas keputusannya itu, hanya saja—Gianna masih belum tau bagaimana cara menyampaikan alasan yang terdengar masuk akal tanpa harus menceritakan yang sebenar-benarnya terjadi.

Arla menatap penuh kecurigaan kepada keponakannya, melihat dari gelagatnya ia yakin jika Gianna tidak akan mulai bicara, pandangan Arla memandar ke sekitar, berusaha mencari jawaban itu sendiri, matanya tertuju pada dokumen yang berserakan diatas kasur, passport, visa. Tangannya terjulur, mengambil benda tersebut.

"Is yours?" tanyanya, mengangkat visa didepan wajahnya, matanya kembali kearah Gianna.

Gianna menghela napas berat sebelum perlahan mengangguk, "I should go, flight nya besok lusa."

"Gi, bukannya kita udah bahas ini ya?" ujar Arla, ia menghembuskan napas pelan, "Kamu tau kan kondisi Papa kamu sekarang gimana? dan bukannya kamu dan Papa kamu sudah sepakat kalaupun seandainya kamu tetap mau lanjutin study kamu di Paris ya itu setelah pertunangan kamu sama—"

"Gak akan ada pertunangan, dan tolong—kali ini biarin aku yang memutuskan sendiri apa yang terbaik buat aku, Tan."

Arla mengernyit bingung, ia memperhatikan Gianna yang terlihat berusaha menahan sesuatu yang ia sembunyilan, gadis itu nampak risau, tangannya sibuk membereskan pakaian miliknya yang ada dilantai, lebih tepatnya berusaha mencari sesuatu untuk dikerjakan sebagai pelarian mengalihkan pembicaraan.

"What happen, Gi? kamu lagi ada masalah sama Agara?"

Yang ditanya tidak menjawab, masih sibuk dengan pekerjaan tak menentunya.

"I am talking to you now, Gianna Edrea."

Gianna menghela napas kasar di tempatnya berdiri, pakaian yang baru saja ia ambil di atas kasur meluruh begitu saja dari genggamannya—terjatuh kembali ke lantai. Posisi berdirinya membelakangi Arla, sehingga wanita itu tidak bisa melihat bagaimana perubahan ekspresi pada keponakannya itu, Gianna memejamkan matanya seperkian detik, ia menarik napas sekali lagi sebelum kemudian menghela nya perlahan, matanya terbuka—dan ia berkaca-kaca.

Secret RelationshipTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang