44. Paris-Jakarta; Without You

1.3K 104 44
                                        

Begitu pintu kedatangan Charles de Gaulle Airport terbuka, aroma khas langsung menyergap—campuran roti panggang dari kafe bandara, parfum semerbak manis yang berasal dari lalu-lalang penumpang, dan sesuatu yang asing tapi menenangkan; tempat yang bukan rumah namun nyaman dijadikan tempat untuk sembuh.

Paris menyambut Gianna dengan langit kelabu dan udara sejuk musim gugur—menusuk hingga ke tulang pipi. Udara tidak terlalu dingin, tapi cukup untuk membuatnya mengeratkan syal di leher. Gianna berjalan di sisi kiri Lula yang tengah sibuk memotret setiap sudut yang ia rasa mengandung keestetikan untuk dijadikan bahan instastory. Caleb sedikit lebih depan, tenang dan fokus dengan troli koper di tangannya, berderak pelan menyusuri lantai marmer bandara.

"Nania bilang dia nunggu dimana?" tanya laki-laki itu.

"Di luar." jawab Lula, kamera analog nya sekali lagi memotret punggung Caleb yang berjalan lebih dulu sebelum kemudian mengarah kearah Gianna disampingnya, "Gi, liat sini, senyum dong"

Gianna menoleh, memberikan senyum tipis.

"Ih apaan, itu bukan senyum!" omelnya. "Cmon girls! lo lagi di Paris, tempat impian lo, masa gak ada senang-senangnya sih? ayo senyum"

Perempuan itu dengan terpaksa kembali memberi senyum, kali ini lebih lebar, dan cekrek!

"Nah gitu dong." ujar Lalu, ia memperhatikan hasil fotonya, Lula tau sahabatnya itu masih ingin menikmati masa sedih untuk meninggalkan sesuatu yang terasa berat untuk dilepaskan namun harus rela untuk dibiarkan lepas.

Lula tau betul bagaimana gejolak perasaan Gianna saat ini.

Di luar bandara, angin Paris menyambut lebih keras. Gedung-gedung tua menjulang dengan balkon besi berukir, jendela kaca besar dan tembok warna-warna nya yang telah pudar menua dengan anggun. Mobil-mobil kecil melintas di jalanan sempit, bersisian dengan pejalan kaki yang sibuk menahan syal di leher.

Gianna mendongak, memandangi langit yang hadir tanpa warna biru. Tanpa sadar dirinya menghela napas panjang—seolah mencoba menerima kenyataan bahwa ini bukan mimpi; ia sekarang berada disini, jauh—jauh dari luka, jauh dari dia.

"Gia! Lula!"

Kedua nama yang dipanggil menoleh, dan dalam sekejap tubuh mungil dengan setelan jaket bewarna coklat langsung memeluk Gianna dan Lula.

"Naniaaaa!" seru Gianna dan Lula kompak, balas memeluk dengan senyum mengembang.

"Kangen banget...sumpah ya gue nunggu kalian dari tadi, tiap orang yang keluar dari pintu itu gue perhatiin satu-satu sampe nyaris nyapa turis India karena dari belakang mirip Caleb," celetuk Nania cepat dan penuh ekspresi.

Caleb yang baru saja menurunkan ranselnya—menaikkan satu alis. "Gue mirip turis India?"

Lula dan Gianna terkekeh.

"Dikit, dari belakang kalau lagi pegang koper, tapi turis India nya ganteng kok." Nania tertawa. "Udah, ayo-ayo mobil nya nunggu di luar. Kalo kelamaan parkir, bisa ngabisin setengah uang kuliah."

Udara dingin musim gugur makin terasa menusuk saat mereka keluar ke area parkir. Tapi Nania, dengan gaya nyetir ala lokal Parisian—lengkap dengan kaca mata hitam, membuat mobil van itu terasa seperti potongan rumah kecil yang hangat.

Di sepanjang perjalanan, Nania nyaris tak berhenti bicara. Ia bercerita tentang bagaimana apartement yang akan mereka tempati, tentang bakery legendaris di ujung jembatan sungai Seine, sampai ke tetangga lantai dua yang katanya mantan model 90-an.

Gianna duduk di kursi tengah, menatap keluar jendela. Gedung-gedung khas Eropa meluncur pelan di balik kaca, dengan pepohonan tipis yang daunnya mulai meranggas, daun-daun kuning dan jingga beterbangan—berputar-putar sebelum mendarat di trotoar berbatu. Kafe-kafe kecil berjajar di sepanjang jalan, masing-masing dengan teras mungil dan kursi rotan, beberapa pengunjung menyelimuti diri dengan mantel sambil menyeruput kopi hangat.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 26 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Secret RelationshipCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang