43. Empty Space

618 69 35
                                        

"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan"

Lula menurunkan ponsel dari telinganya, ia sekali lagi berdecak memperhatikan layar dengan nama seseorang yang sejak kemarin tidak dapat dihubungi.

"Gimana?" Caleb yang duduk di sebelahnya bersuara. "Masih gak di angkat ya sama Dela?"

"Iya, sumpah ya dia tuh ke Lembang apa semedi di goa sih? dari kemarin susah banget dihubungi, padahal tempat yang dia kunjungin kan bukan tempat yang minim sinyal." Lula mendumel, "Ini kalau ntar dia balik ke Jakarta terus ngeliat keadaan udah berantakan kayak gini pasti shock berat deh."

"Mungkin memang kegiatan dia disana yang mengharuskan dia gak boleh pegang handphone atau semacamnya biar bisa fokus." ujar Caleb.

"Bisa jadi juga sih."

"Yaudah, toh kalaupun Dela bisa dihubungi dia juga gak akan bisa buat pulang ke Jakarta secara mendadak, pesawat juga udah mau take off lima belas menit lagi La, tetap gak akan keburu juga."

Gadis itu akhirnya mengalah, rencana nya kalah oleh waktu dan tak ada yang bisa di lakukan selain membiarkan semuanya berjalan sesuai dengan apa yang ada.

***

Langit Jakarta malam itu tak sepenuhnya cerah. Awan mendung tipis yang menggantung, seperti menggambarkan isi hati perempuan yang tengah duduk di salah satu kursi tempat menunggu sebelum boarding, hati yang berat—penuh gejolak, penuh rasa kehilangan. Bandara dipenuhi suara himbauan dan langkah-langkah terburu, tapi dunia Gianna seakan berjalan lebih lambat dari biasanya.

Hari ini, Gianna akan meninggalkan semuanya. Masa lalu dengan luka yang masih belum sepenuhnya sembuh. Apa yang ia lakukan bukan pelarian, namun sebuah bentuk cinta—cinta untuk dirinya sendiri, dan untuk dia.

Paris—tempat tujuannya yang baru. Kota yang selalu ia impikan, yang kini menjadi pelabuhan untuk menyembuhkan dan melanjutkan hidup.

"Everything okay, Gia?"

Suara Abhimana—ayahnya memanggilnya pelan, memecah lamunan. Gianna menoleh dan langsung terhanyut dalam pelukan hangat lelaki itu. Pelukan yang membuatnya ingin membatalkan semuanya dan tinggal di rumah.

Tapi dia tau, dia harus pergi.

"Kamu gak perlu khawatir kan kondisi Papa, yang terpenting disana kamu bisa menemukan ketenangan." ujar ayah nya lirih, "Everything gonna be okay, Sayang."

Nadin—ibunya ikut mengelus bahu putri semata wayangnya itu. "Papa benar, Gi. Lanjutkan hidupmu, dukungan dari Mama dan Papa akan selalu ada."

Gianna menggigit bibir, menahan air mata yang mengenang. Ia lalu menoleh ke Tante Arla, satu-satunya orang yang tahu betul alasan di balik kepergiannya.

Tentang luka.

Tentang seseorang yang telah membuat dunianya runtuh dalam diam.

Di tempatnya, Arla tersenyum penuh pengertian. Gianna membalasnya dengan mengangguk. Kata-kata rasanya tak mampu menggambarkan ribuan emosi yang menyesaki dadanya, dan biarkan itu bergerumul dalam diam.

Lula dan Caleb yang tadi pamit untuk ke toilet sebentar datang menghampiri, keduanya juga sudah siap dengan koper masing-masing. Gianna menatap keduanya yang kemarin keukeuh untuk menemani, keduanya tak berkata apa-apa, hanya menatap Gianna dengan mata yang dalam, seolah berkata; kita di sini, kamu gak sendiri. Dan Gianna mensyukuri keberadaan itu.

"Waktunya boarding, Gi." kata Caleb pelan.

Gianna menarik napas panjang, satu kali terakhir memandangi keluarganya. "Gia pergi dulu, ya?"

Secret RelationshipTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang