13. Cabai

302 20 0
                                        

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum! Halo semuanyaaa!!

Apa kabarr?

Semoga kalian sehat-sehat terus🫶🏻

Jangan lupa sholat 💙

Happy Reading ~

"Kamu siapa?!" Alee bertanya dengan cukup terkejut, bahkan refleks memegang lengan sang suami karena mendapati seorang pria asing berada di rumahnya. Kening Amal juga ikut menyerit bingung mendapati pria asing itu.

"Dia anak mendiang teman Ayah." Alee dan Amal sontak menoleh pada Pak Al-Dafi yang baru saja datang dari arah dalam dan memberikan klarifikasi terkait keberadaan pria asing yang kini duduk di sofa ruang tamu itu.

"Oalah." Embusan napas lega terdengar berasal dari pasangan suami istri tersebut yang sempat kaget mendapati pria asing tadi.

"Saya Haidar," tutur pria asing tadi memperkenalkan dirinya, tangannya juga terulur untuk berjabat tangan.

Amal menyambutnya dengan membalas jabatan tangan pria itu. "Saya Amal," kata lelaki itu. Sementara Alee, hanya menangkupkan kedua tangannya sembari memperkenalkan namanya.

"Kalau gitu, aku sama Amal ke kamar dulu ya, ayah, dulu Haidar." Alee lantas berpamitan pada dua lelaki itu, ia dan sang suami kemudian berjalan beriringan menuju kamar mereka.

**

Bulan kembali terlihat, warna langit pun tampak gelap, bukan karena mendung, tetapi karena malam sudah menyapa. Alee, yang baru saja menyelesaikan sholat magribnya segera berjalan menuju dapur untuk membantu sang ibu memasak makan malam.

Amal, Althaf, dan ayahnya seperti biasa akan menunggu sholat isya terlebih dahulu di masjid, Haidar yang katanya akan menginap beberapa hari juga ikut pada dua lelaki itu, membuat ia dan sang ibu memiliki waktu yang cukup untuk memasak.

"Bunda, hari ini mau masak apa?" Alee memberikan pertanyaan pada Bundanya setibanya ia di dapur, terlihat ibunya itu juga baru saja tiba di dapur seperti dirinya.

"Ayam goreng marinasi, tempe goreng, telur, sama sambel," jawab Bunda yang membuat Alee menganggukkan kepalanya.

"Kalau gitu, biar aku aja yang masak ayamnya, ya!" seru Alee kemudian segera mengambil ayam yang sudah dimarinasi dalam kulkas dan segera menggorengnya, tentunya sembari menunggu ayam matang, perempuan itu memilih membantu sang ibu untuk mengiris tempe.

Beberapa menit berkutat dengan alat masak, semua makanan yang direncanakan perempuan itu akhirnya matang sempurna dan kini sudah tersusun rapi di meja makan. Bersamaan dengan selesainya kegiatan makan mereka, azan isya terdengar, membuat keduanya segera menunaikan kewajibannya.

Tidak lama, setelah Alee dan Bundanya menyelesaikan sholatnya dan sudah kembali ke ruang makan, suara para pria mulai terdengar, disusul dengan wujud asli mereka yang tampak.

"Wah, harumnya masakan bunda aku!" Althaf berujar antusias saat mencium aroma masakan kesukaannya, matanya semakin berbinar bahagia saat mendapati benar bahwa masakan favoritnya ada di sana-ayam goreng marinasi.

"Kalian ganti baju dulu semuanya, baru kita siap-siap makan," ujar Bunda yang segera di turuti oleh para pria itu.

Hanya berselang beberapa menit, mereka semua kini sudah siap di meja makan. Bersiap untuk menyantap makan malam.

"Assalamualaikum!" Salam tersebut disusul dengan tampaknya seorang perempuan dengan hijab hitamnya yang berjalan ke arah mereka sembari memegang sebuah wadah makanan yang cukup besar.

Bekal in LoveTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang