29. Buku Sampul Biru

158 17 3
                                        

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum! Halo semuanyaaa!!

Apa kabarr?

Btw, Kalau ada yg typo, komen ajaa ya, Pinky, thank u😻✨

Sorry baru sempat update 🙏🏼

Semoga kalian sehat-sehat terus🫶🏻

Jangan lupa sholat 💙

Vote juga yaa biar aku rajin update~👀🥣

Selamat berpuasa, jangan lupa ibadah!🫶🏼

Happy Reading ~

Alhamdulillah, hari ini, tepat memasuki bulan keempat usia kehamilan istriku. Rasanya bahagia sekali...

Malaikat kecil kami akan segera hadir ditengah-tengah kebahagiaan pernikahanku dengan Alee.

Fase kehamilan memang sangat campur aduk. Pernah sekali, Alee mengatakan bahwa aku bau, lalu di hari esoknya, istriku justru mengatakan menyukai aroma tubuhku. Aneh, tapi aku menyukainya.

Kemarin kami sempat berkencan, salah satu wish list-ku yang ingin berkencan dengan Alee di pasar malam. Aku bahagia sekali, lebih lagi momen itu kami abadikan.

Aku juga senang sekali, akhir-akhir ini aku dan Alee sudah tidak malu lagi memperlihatkan kasih sayang satu sama lain.

Harapanku, semoga ke depannya, kami selalu bahagia di dunia dan di surga kelak, Aamiin.

Amal tersenyum lebar usai memberikan simbol titik sebagai akhir dari curahan hatinya kali ini. Lelaki itu lantas membaca ulang deretan paragraf tersebut—yang justru malah membuatnya harus tersenyum sendiri dengan pipi yang memerah.

Kecanduan, Amal tampak kecanduan membaca tulisannya sendiri. Tangannya dengan lihai membuka halaman satu ke halaman lain. Membuatnya merasakan kembali momen-momen terdahulu.

“Kamu lagi baca apa?”

Suara tanya yang tiba-tiba itu membuat Amal tanpa sengaja menjatuhkan bukunya. Sebelumnya sang istri mengambil benda itu, laki-laki tersebut sudah lebih dulu menyembunyikannya di belakang tubuh—hal yang membuat Alee mengerutkan keningnya.

“Itu buku apa? Kenapa di sembunyiin?” tanya wanita itu penuh selidik, membuat degup jantung Amal tidak karuan.

**

Beberapa waktu sebelum Alee datang ke kamar menghampiri sang suami, wanita itu masih asyik bersama ibu mertua dan adik iparnya—membersihkan udang untuk isian baksonya.

Hari Sabtu memang menjadi pilihan Amal dan sang istri untuk berkunjung ke rumah Mama Naomi dan Papa Mikail agar mewujudkan ngidam Alee hari itu—yang ingin memakan bakso seafood. Akhirnya, kini mereka sudah mencoba mewujudkan keinginan Alee.

“Aku harap rasanya enak!” ujar Alee antusias seraya membulat-bulatkan bakso yang sudah ia isikan udang di tengah-tengahnya.

“Insya Allah ini bakalan enak, sih! Kalau enak, aku kayaknya bakalan jadiin rekomendasi untuk dimasukkan dalam menu bakso kita,” terang Zahra yang disetujui oleh Alee.

“Mama juga berharap enak, walaupun bukan Papa yang bikin, setidaknya adonannya buatan Papa,” terang Mama Naomi yang membuat Alee dan Zahra tertawa kecil. Maklum, Mama Naomi tidak terlalu pandai dalam hal per-bakso-an.

“Ini bentar lagi kayaknya matang, deh. Mama minta tolong panggilin Amal, dong, Alee, biar bantuin kita, sekalian biar makan bareng,” lanjut Mama Naomi.

Bekal in LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang