21. Malu dan Menangis

360 20 3
                                        

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum! Halo semuanyaaa!!

Apa kabarr?

Btw, Kalau ada yg typo, komen ajaa ya, Pinky, thank u😻✨

Semoga kalian sehat-sehat terus🫶🏻

Jangan lupa sholat 💙

Vote juga yaa biar aku rajin update~👀🥣

Happy Reading ~

“Saya malu!” papar Amal kala mereka tiba di kamarnya. Membuat Alee tertawa melihat tingkah lelaki itu—yang kini menenggelamkan wajahnya di bantal.

“Saya udah pede banget negur Haidar kemarin, udah berburuk sangka sama dia pas dia datang ke sini, mana lagi saya cemburu buta, saya beneran harus tobat ini!” tutur Amal panjang lebar yang justru semakin membuat tawa Alee menjadi-jadi.

“Awalnya aku happy-happy aja pas kamu cemburu, tau! Tapi, tadi memang udah agak melantur ke mana-mana, sampai bawa kekayaan Haidar, aku mulai ngebatin, wah parah cemburunya bikin dia insecure. Eh ternyata!” Pecah lagi tawa Alee mengingat respon Haidar yang ternyata justru menyukai adik iparnya.

Amal masih dalam posisinya, menenggelamkan wajahnya ke dalam bantal karena masih malu, membiarkan istrinya tertawa seraya mengusap rambutnya.

Pikirannya melayang pada hari-hari sebelumnya, di mana ia mulai merasa tidak nyaman atas kehadiran Haidar, kemudian marah karena lelaki itu mengirimkan pesan random kepada istrinya.

Lalu, ia yang berakhir jujur mengenai perasaannya pada sang istri, padahal sebelumya ia sangat gengsi, kemudian cemburu buta hingga berburuk sangka pada seseorang—benar-benar membuatnya merasa seolah ini bukan dirinya.

“Saya beneran ngira dia suka sama kamu waktu itu, apalagi pas kita makan malem itu, dia natap kamu terus siapa yang enggak cemburu coba?” Amal menerjap pelan lagi. Aneh, kenapa dirinya sekarang mudah sekali berterus terang pada istrinya tentang perasaanya, ya?

“Waktu Zahra datang, bukan? Siapa tau kamu salah paham, Babe, Haidar bisa aja natap ke Zahra yang duduk dekat aku, bukan aku,” jawab Alee.

Amal membulatkan matanya, mengingat kejadian itu sembari mengubah posisinya menjadi duduk. Ia sangat terkejut mendengar penuturan dari Alee, pun pikirannya yang mulai membenarkan ucapan istrinya. “Kamu benar!” timpalnya ditengah keterkejutannya.

Alee tertawa, merasa lucu dengan tingkah suaminya akhir-akhir ini. “Kayaknya itu firasat kamu sebagai kakak,” jelas perempuan itu memberikan jawaban atas perasaan tidak nyaman yang dirasakan oleh suaminya.

“Kayaknya kecampur deh, Babe. Saya cemburu, terus ada firasat sebagai kakak, tapi saya enggak paham jadinya setan-setan bisikin saya buat cemburu banget!” kata lelaki itu.

Lagi dan lagi Alee tertawa mendengarnya. “Kamu kayaknya beneran harus sholat taubat, Babe. Setelah aku pikir-pikir kamu memang agak aneh akhir-akhir ini,” ujar Alee.
Bibir Amal maju, menampakkan ekspresi memelas khas anak kecil.

“Tapi kamu jangan tinggalin saya ya?”

Alee terkejut. Ah benar, suaminya memang tampak aneh.

**

Malam harinya, Amal benar-benar melaksanakan salat taubat usai melaksanakan salat tahajud berjamaah bersama sang istri.

“Udah lega?” tanya Alee saat suaminya kini berbaring di pahanya, seraya lelaki itu tampak memejamkan matanya.

Bekal in LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang