30. Ungkapan

158 16 1
                                        

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum! Halo semuanyaaa!!

Apa kabarr?

Btw, Kalau ada yg typo, komen ajaa ya, Pinky, thank u😻✨

Sorry baru sempat update 🙏🏼

Semoga kalian sehat-sehat terus🫶🏻

Jangan lupa sholat 💙

Vote juga yaa biar aku rajin update~👀🥣

Selamat berpuasa, jangan lupa ibadah!🫶🏼

Happy Reading ~

“Kamu kenapa?! Kita kan udah komitmen kalau enggak bakal rahasia-rahasiaan supaya enggak timbulin konflik, ini sekarang kamu kenapa kayak gini ke aku?!” Tangis Alee pecah saat itu juga.

Hari itu, pertama kalinya pasangan suami istri ini mengalami percekcokan hingga membuat Alee meneteskan air matanya karena amarah.

Melihat sang istri menangis, buru-buru Amal membawa wanita itu ke pelukannya. Beruntung, sang istri tidak memberontak dalam dekapan hangat itu.

“Apa yang kamu rahasiain?” Disela-sela isak tangisnya, Alee masih berusaha bertanya lagi pada sang suami.

Pertanyaan itu membuat Amal menelan salivanya susah payah. Apakah ini saatnya sang istri mengetahui tingkahnya selama ini? Ke bucinannya yang selama ini Amal tutup-tutupi?

“Jawab, Amal!” sentak Alee menyebut nama sang suami. Tatapannya tersorot langsung pada iris mata suaminya sembari melepaskan pelukan di antara mereka.

Amal mengatur napasnya sejenak. “Kamu ... mau baca sendiri?” tanya lelaki tersebut dengan gugup, seraya mengangkat buku bersampul biru gelap itu, tangannya bahkan sampai gemetaran saat menyodorkan buku tersebut.

Buku yang berisi curahan hati Amal. Amal yang jatuh hati pada wanita di depannya ini. Wanita yang ia kira hanya menjadi cinta monyetnya rupanya kini namanya kembali memenuhi hati.

Alee mengatur napasnya, menatap pada buku bersampul biru gelap yang kini sudah disodorkan oleh sang suami. Wanita itu perlahan menerimanya, bersiap untuk membaca buku yang tadi sudah sempat ingin ia baca.

Dibukanya halaman pertama buku itu, sebuah kalimat sontak membuat kening Alee berkernyit. “Namaku?” gumamnya sembari menatap bingung ke arah sang suami.

Detik berikutnya wanita itu mengerjapkan matanya mendapati bahwa wajah Amal kini sudah merona, menjalar hingga ke telinga dan leher lelaki itu. “Eum,” respons lelaki itu.

Karena kepalang penasaran, Alee mengabaikan reaksi suaminya. Matanya dengan lincah kembali membaca isi buku bersampul biru gelap itu.

Halaman demi halaman perempuan tersebut baca, membuat desiran aneh menghampiri, bibirnya tanpa bisa di cegah mengukir senyuman, mengganti air mata yang semula jatuh. Bersamaan dengan membaca kalimat yang dituliskan sang suami, perutnya seolah ada yang menggelitik, bersatu dengan debaran jantungnya yang terasa lebih cepat.

Kini, bukan hanya kulit Amal yang memerah, melainkan kulit Alee juga turut serta berubah kemerahan. “Aaa!” Alee terpaksa menutup buku tersebut, tidak membacanya sampai halaman terakhir dan memilih untuk berhambur pada dekapan sang suami.

Amal membalas pelukan itu. Ikut menyembunyikan wajahnya pada puncak kepala sang istri. Keduanya terdiam dengan debaran jantungnya masing-masing yang dapat mereka dengarkan satu sama lain.

“Kamu ... jangan ilfeel sama saya, ya, Habibati?” bisik Amal pelan, mengutarakan ketakutan yang selama ini ia pendam jika buku bersampul biru gelap itu, di baca oleh sang istri.

Bekal in LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang