25. Isi Hati

238 19 8
                                        

Bismillahirrahmanirrahim

Assalamualaikum! Halo semuanyaaa!!

Apa kabarr?

Btw, Kalau ada yg typo, komen ajaa ya, Pinky, thank u😻✨

Sorry baru sempat update 🙏🏼

Semoga kalian sehat-sehat terus🫶🏻

Jangan lupa sholat 💙

Vote juga yaa biar aku rajin update~👀🥣

Happy Reading ~

“Bunga ini aja?” Althaf bertanya dengan nada ketus, meminta pendapat pada Amal yang kini tengah merekam aksi mereka.

“Iya, itu aja,” jawab Amal seraya mengangkat jempolnya.

Saat ini, Amal dengan bantuan Althaf sedang menuruti keinginan Alee. Rasanya, Amal sangat sulit untuk menolak keinginan sang istri.

Bukannya apa, semenjak menikah kurang lebih setengah tahun, Alee tidak pernah bersikap manja seperti tadi kala meminta sesuatu. Belum lagi, permintaan perempuan itu bisa dikatakan merupakan sebuah rasa mengidam untuk pertama kalinya.

Jadi, karena Amal yang sangat lemah dengan wajah memelas sang istri saat meminta bunga tadi, lelaki itu akhirnya menuruti permintaan Alee.

Dengan jarum jam yang hampir menunjukkan pukul sembilan malam, Amal dan Alee berjalan menuju rumah sang mertua, lalu lelaki itu meminta tolong pada Althaf—yang sampai sekarang entah kenapa masih memusuhinya—untuk memetik bunga sekaligus mengabarkan terkait kehamilan istrinya.

Sekarang, di sinilah kedua lelaki tersebut. Sebuah taman milik tetangga mereka yang memiliki tanaman bunga matahari. Keduanya lantas meminta izin untuk membeli bunganya untuk mereka petik. Dengan pengawasan sang pemilik bunga, Althaf mulai mencoba untuk memetik bunga matahari itu setelah di ajarkan cara pemetikan yang benar.

Usai beberapa tangkai Althaf ambil, lelaki itu lantas tersenyum bahagia saat Amal berucap kata cukup.

“Terima kasih banyak ya, Kak, maaf merepotkan,” ungkap Amal pada perempuan pemilik taman itu.
Beliau tampak tersenyum manis.

“Sama-sama, nanti saya sampaikan ucapan terima kasihnya sama adik saya—yang punya taman ini. Semoga kehamilan istrinya lancar ya,” ungkap perempuan dengan ramah pada Amal.

Setelahnya, Althaf dan Amal berjalan dengan keheningan kembali ke rumah orang tua Alee, di mana sang empu tengah berada di sana.

“Kamu enggak mampir buat beli bahan-bahan untuk rangkai bunganya?” Althaf menjatuhkan pertanyaan kala mereka sudah hampir sampai di rumah.

Amal sontak menghentikan langkahnya, matanya sedikit membulat mendengar pertanyaan dari adik iparnya. “Kenapa kamu baru ingetin saya?” ujarnya panik. Ia benar-benar tidak terpikirkan akan hal itu.

Althaf yang mendengarnya mengangkat bahunya. “Aku pikir kamu udah tau,” jawabnya dengan santai.

“Terus gimana bagusnya?” Amal meminta pendapat, lelaki itu kini bingung sendiri.

Althaf tampak diam berpikir. Keduanya menghentikan langkah sejenak, memikirkan solusi yang tepat untuk masalah ini, padahal jarak rumah dari mereka sekarang sudah sangat dekat.

“Ikat pakai pita aja kalau gitu, aku pernah dapat bunga dari fans cuma di ikat pakai pita, hasilnya cakep,” ujar Althaf memberikan informasi yang membuat Amal berdecap kagum.

“Mantap, thanks idenya, bro!” ujar Amal kemudian segera beranjak buru-buru menuju rumah Mama Naomi yang berada dekat dari mereka untuk mencari pita.

Bekal in LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang