33. Perbincangan

136 10 0
                                        

“Iya, anak kita cewek,” ucap Alee setelah sekian lama hanya tersenyum menatap wajah semringah suaminya.

“Serius?!” tanya Amal memastikan, matanya membulat seolah tidak percaya.

“Iya, babe, insya Allah, anak kita perempuan,” jawab Alee.

Amal yang mendengar hal tersebut sontak langsung merengkuh tubuh istrinya. Sangat senang dengan informasi barusan.

Smooth banget, kan, cara aku ngasih suprise buat kamu?” ungkap Alee dengan intonasi bangganya.

Amal terkekeh pelan, mengusap lembut rambut istrinya. “Iya, istriku memang yang terbaik,” katanya dengan mata yang berkaca-kaca.

Melihatnya, kening sang wanita berkerut. “Kamu nangis?!” Alee bertanya dengan terkejut seraya merengkuh kedua pipi suaminya. Menatap manik sang suami yang kini mengeluarkan air mata, bibir lelaki itu tanpa ia sadari ikut melengkung ke atas.

“Aku ... seneng banget,” ucap Amal mengutarakan isi hatinya sembari kembali menjatuhkan diri ke dalam pelukan sang istri.

Alee tertawa kecil mendengarkan hal itu. “Masya Allah suamiku, ternyata kamu seseneng itu mau punya anak cewek?” tanyanya yang kemudian dibalas anggukan kepala oleh sang suami—Alee bisa merasakan gerakan tersebut di pundaknya.

“Tapi ini, kan, masih prediksi. Kalau yang lahir cowok gimana?” terang Alee seraya tangannya dengan aktif memberikan elusan pada surai sang suami.

“Aku enggak gimana-gimana, perempuan atau laki-laki semuanya sama,” jawabnya yang membuat Alee mengukirkan senyuman bahagia.

*

Hari ini, Alee dan Amal datang ke rumah sang Bunda. Selain ingin memberikan kabar secara langsung mengenai jenis kelamin anak mereka, pun hari itu juga sang Ayah dan bundanya tengah melangsungkan acara syukuran pernikahannya.

Seperti biasanya, pasangan suami istri itu memutuskan untuk mengendarai motor saja, selain karena jarak dekat, faktor utama lainnya karena Amal. Keduanya sampai di sana dengan kondisi rumah yang belum terlalu ramai. Sudah ada keluarga dari pihak Amal juga yang datang berkunjung.

Acara berjalan lancar, rencana keduanya untuk memberitahu mengenai jenis kelamin sang anak juga sudah tersampaikan dengan baik. Meskipun demikian, ada satu momen yang cukup tidak mengenakkan terjadi. Komentar salah satu keluarga jauh Alee.

Saat keduanya baru tiba, seorang ibu-ibu langsung bertanya dengan nadanya yang cukup  sinis? Ia berkata kurang lebih seperti ini; “Kenapa masih pakai motor? Istrimu lagi hamil loh! Harusnya pakai mobil!”

Hal yang sontak membuat Alee dan Amal terdiam dan saling tatap, kemudian keduanya memilih menjawab dengan senyuman saja tanpa membalas ucapannya. Tidak hanya sampai di sana, ucapan perbandingan antara Amal dan lelaki yang sempat melamar Alee dulu juga turut terdengar, hal yang membuat suasana hati Alee sempat menjadi buruk.

“Kamu enggak usah terlalu pikirin dan masukin dalam hati, ya, Babe, omongan beliau! Itu orang emang kayak gitu, hidupnya penuh agenda nyinyir mulu!” kata Alee kala malam hari, sebelum keduanya tidur. Ucapannya merujuk pada insiden tersebut yang ia ingat secara tiba-tiba.

“Iya, enggak aku masukin dalam hati dan pikirin, kok. Tapi memang muncul terus dipikiran aku,” jawab Amal dengan nada bergurau.

Alee memasang wajah memelasnya. “Kamu, mah! Aku minta maaf, ya, sama kelakuan beliau,” balas wanita itu merasa tidak enak dengan Amal atas perlakuan salah satu kerabatnya.

“Enggak apa-apa, Babe, justru aku tadi mikir, apa yang beliau katakan ada benernya—,”

“Apaan?! Asal kamu tau, Babe, cowok yang lamar aku sebelumnya itu red flag parah! Mendingan kamu di mana-mana!” potong Alee dengan nada protes, wajahnya yang menunjukkan ekspresi tidak terima itu pun terpampang jelas di hadapan Amal, hal yang membuat lelaki itu terkekeh gemas.

“Bukan itu maksud aku. Soal sebaiknya kita pakai mobil aja ke mana-mana, biar lebih aman, kan Alhamdulillah kita punya,” terangnya yang membuat Alee mengerjap pelan.

“Tapi kamu?” Alee bertanya bingung pada suaminya, mengingat sang suami sangat rentan terhadap mabuk perjalanan.

“Untuk jarak rumah ke kantor insya Allah kayaknya aman,” balasnya yang membuat Alee akhirnya menganggukkan kepalanya mengerti.

“Padahal aku enggak masalah kalau tetap pakai motor, toh, sama-sama kendaraan,” ujar Alee lagi.

“Enggak apa-apa, sekali-kali kita selingin,” timpal Amal. Akhirnya, malam itu mereka memberikan keputusan akhir perkara kendaraan.

“Ngomong-ngomong, soal tujuh bulanannya, kamu mau buat acara syukuran?” Amal memberikan pertanyaan, pikirannya kembali terlintas pada saran untuk syukuran tujuh bulanan dari keluarga jauh Alee itu—orang yang juga menyarankan menggunakan mobil tadi.

“Mau, tapi cukup berbagi aja. Aku enggak mau yang terlalu gimana-gimana kayak yang tadi beliau saranin, aku mau yang simpel aja. Mungkin, berbagi lagi?” kata Alee mengutarakan pendapatnya. “Gimana menurut kamu, Babe?” balasnya bertanya, menatap langsung pada manik sang suami.

Amal tampak menganggukkan kepalanya mengerti. “Aku ngikut kamu kalau gitu,” ujarnya. “Kali ini, kita berbagi di mana?” lanjut lelaki itu.

Alee tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Panti asuhan lagi? Tapi yang lainnya, jangan yang sama seperti sebelumnya,” katanya yang akhirnya diangguki persetujuan dari Amal.

Malam itu, masalah yang sempat mereka hadapi terselesaikan dengan baik berkat komunikasi yang berjalan lancar.

**

Amal terbangun saat jarum menunjukkan pukul setengah dua dini hari, lelaki itu terdiam sejenak untuk mengumpulkan nyawanya. Usai kembali fokus, ia melirik ke arah sang istri sambil tersenyum tipis.

Beberapa hari yang lalu, lelaki itu sudah memikirkan sebuah ide sebagai hadiah untuk ulang tahun sang istri. Alee tepat bertambah usia hari ini. Amal tersenyum tipis, kemudian dengan lembut mengusap puncak kepala istrinya. “Ayo salat tahajjud, Habibati,” bisiknya pelan pada sang pujaan hati.

Alee tampak melenguh pelan, matanya mengerjap beberapa kali, menyesuaikan cahaya yang masuk. “Ayo,” ujarnya sambil mengambil posisi duduk.

Amal tersenyum melihatnya, lantas lelaki itu dengan cepat mengecup pipi sang istri. “Semoga semakin Sholehah di umur barunya, Istriku!” kata lelaki itu seraya menatap langsung ke wajah Alee yang kini memasang ekspresi bingung.

Setelah terdiam beberapa saat, Alee kemudian tersenyum malu-malu. “Aku makin tua,” celetukannya yang disusul oleh tawa keduanya.

**

Kado untuk hari kelahiran Alee dari Amal merupakan suatu hal yang sangat disukai oleh yang berulang tahun. Bagaimana tidak, sepulang dari kantor, Amal mengajaknya untuk berbelanja disalah satu pusat perbelanjaan, dan lelaki itu berjanji untuk mengatakan “Iya” pada apa pun yang diinginkannya.

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Batin Alee sembari menatap penuh kebahagiaan ke arah jejeran tas jinjing hasil belanjanya hari ini.

Meskipun Amal tidak pelit dan tentunya akan selalu menjadi pihak yang mengeluarkan dana kala berbelanja, entah kenapa momen seperti ini tetap saja menyenangkan. Mungkin karena ini hari spesial untuknya?

“Terima kasih banyak, Suamiku!” kata Alee dengan nada super centilnya kala keduanya sudah berada di dalam mobil, wanita itu juga dengan penuh semangat mengecup punggung tangan sang suami serta tidak lupa pula menjatuhkan kecupan di pipi Amal. Ia kemudian terkekeh gemas melihat wajah sang suami yang kini sudah sangat memerah karena salah tingkah.

I love you very very very much! Insya Allah, karena Allah,” sambung Alee yang justru semakin membuat rona wajah Amal semakin terpampang nyata, lelaki itu bahkan menatap memelas ke arah sang istri karena tak kuat dengan kalimatnya itu.

Babe...,” rengek Amal dengan wajah yang memerah. Jangan lupakan jantungnya yang berdebar kencang!

Amal kembali dibuat salah tingkah oleh sang istri!

Bersambung....

Maaf baru bisa update, yaa🥹☹️🙏🏻🩷

9 Juni 2025





Bekal in LoveCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang