Azellia sudah tak berdaya karena tak tau mengapa teman yang lainnya juga ikutan memukulnya. Darah bercucuran dari kepalanya karena benturan di tembok. Rambutnya sudah berantakan karena tarikan yang keras. Tubuhnya sudah sangat lemah.
"Mati gak lo sekarang! Gue gamau lo ngambil kebahagiaan gue, harusnya gue yang erick suka, harusnya gue yang nilai nya bagus. Gue udah kerja keras dan lo yang dapet nilai bagus itu". Kesalnya sembari menendang azellia bertubi-tubi.
"Bunaaa, ayaaahhh, tolongin azel". Teriak azellia yang tak begitu keras dalam hatinya.
"Riri, yeona, roro, rara, cya, ru.... ruu". Ucap azellia menyebut teman-temannya. Di akhir kata ruru ia sudah tidak sanggup lagi. Tubuhnya sudah tak berdaya.
Ruby yang sedang berjalan sembari memainkan ponselnya pun menoleh ketika mendengar sekilas namanya disebut, tapi ia tak melihat siapapun disana. Suara itu lembut namun lemah. Awalnya ia menghiraukan, tapi suara itu membuatnya tak tenang.
"Gue harus nyari siapa yang udah manggil gue". Pikirnya meskipun ia juga ragu apa ada orang yang memanggilnya atau hanya halusinasinya saja. Ruby berjalan perlahan mencari asal suara yang memanggilnya itu. Setelah berjalan lama, ia tak menemukan apa-apa.
"Gak ada apa-apa. Apa gue aja yang salah denger, mana ada orang disini. Tempat kosong juga". Ucapnya hendak pergi, namun suara benturan keras membuatnya kembali menoleh.
"Ini gak beres nih". Pikirnya mencari asal suara itu. Ketika ia melihat seseorang disana, tanpa pikir panjang ruby segera berlari.
"Woi anjir lu apain orang". Teriak ruby memisahkan semuanya yang mendekati azellia. Ruby segera mendorong mereka pergi. Beberapa ada yang ia tonjok dan dipukul karena ruby sudah emosi. Sebagian lari dari sana karena takut ketahuan. Setelah ruby melihat, ternyata azellia membuat matanya melebar karena kaget. Ruby emosi dan melihat salah seorang disana yang baru saja ingin lari. Hampir saja ruby berdiri menghantamnya, namun sudah lari
"Woi azelllll, azel lu gak mati kan?". Tanya ruby yang sudah bergetar.
"Hei bangsat lu tanggung jawab gak? Jangan larii!". Teriak ruby memanggil yang sudah membuat azellia terkapar lemah. Dengan keberanian, ia menggendong tubuh azellia untuk keluar dari sana meminta pertolongan.
***
Yeona sudah selesai bernyanyi. Ia benar-benar gugup sampai menghembuskan napasnya berulang kali. Ia juga gelisah entah gelisah karena apa. Pricia pun menghampirinya.
"Tenang yeon, kamu hebat banget tadi". Ucap pricia menenangkan.
"Makasih kak". Ucapnya sembari memeluk pricia. Entah mengapa ia ingin memeluk pricia. Pricia juga kaget, namun ia merasa yeona butuh kakak untuk mendukungnya.
"Iya yeon". Ucap pricia sembari menepuk punggung yeona menenangkan. Ia merasakan jika yeona sedang panik saat itu.
"Kak, gue kepikiran kak azel mulu dari tadi di panggung. Dia gak ngangkat telpon gue". Kata yeona membuat pricia kaget.
"Aku juga belum ngeliat dia beberapa hari ini, soalnya aku sibuk banget. Semoga dia gak kenapa-napa. Biasanya kalo ada apa-apa dia nge chat buat ngasih tau apapun yang dia alamin, tapi kali ini aku gak tau kabar dia". Jelas pricia membuat yeona makin panik.
"Udah gak ada acara lain kan kak? Gue mau nyariin dulu gue beneran khawatir sama kak azel". Pamit yeona. Pricia juga ingin ikut namun tugasnya masih belum selesai saat itu.
***
Kini ruby ada di sebuah rumah sakit. Ruby sangat-sangat emosi dan sangat khawatir pada azellia. Kekerasan adalah hal yang sangat ruby benci sehingga ia belajar beladiri agar bisa menjaga dirinya. Tangannya gemetar, ia tak sanggup lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Destiny
Roman pour Adolescents[Luka yang berbeda] "kalo ada bunda, lo gak akan bisa nyakitin gue" -Ruby Aletta "aku hanya manusia biasa, aku juga butuh kebebasan, aku ingin menjadi diri sendiri. bisakah aku beristirahat sebentar saja?" -Pricia Olivia "memiliki prestasi yang ting...
