part 27

317 37 2
                                        

Di mobil, pricia dan ibunya tidak selesai berdebat. Cyara memakai headphonenya agar tidak mendengarnya.

"Mami tau kan azel itu dibully mi, dia sampe berdarah gitu loh kepalanya". Ucap pricia.

"Mami kenal azel kan?". Lanjut pricia.

"Mami kenal, dia anaknya baik. Tapi kamu gak mikir kalo kamu terus bantuin dia, kamu bisa dimanfaatin. Apalagi mami dapet kabar kamu mau nutup sekolah gara-gara masalah azel". Ucap ibunya.

"Manfaatin gimana sih mi, azel gak pernah loh minta bantuan riri, riri aja yang mau bantuin dia. Dan untuk yang nutup sekolah, mami bayangin aja, riri udah diskusi sama pak kepsek masalah pembullyan ini dari tahun kemarin, tapi gak ada tindakan. Gitu-gitu aja. Mami mau sekolah namanya jadi tercemar karena kasus pembullyan?". Jelas pricia.

"Tapi bisa gak bukan kamu yang urus? Yang ada kamu masuk-masuk masalah orang. Kamu juga yang repot. Apalagi kamu mau ikut lomba ajang model. Nanti latihan kamu terganggu".

"Jangan karena nama kamu udah masuk di nama donatur sekolah ya, kamu seenaknya mau bantuin orang. Papi kamu sih ngubah tanpa persetujuan mami". Lanjut ibunya.

"Riri bantuin azel bukan karena riri namanya ada di donatur sekolah. Riri ikhlas mi, karena azel temen riri. Gimana kalo posisi mami di posisi orangtua azel? Anaknya dibully gak ada yang bantuin".

"Tapi kamu tuh harus fokus sama pendidikan dan model kamu riri, kalo kamu ngurus itu, maka akan terganggu nantinya". Ucapan itu membuat pricia menggeleng kepala.

"Bisa gak mi, mami berhenti obsesi sama model dan mikirin aku. Bisa gak mami mikir kebahagiaan aku?" Tanya pricia emosional.

"Ini juga demi kebahagiaan kamu nantinya riri". Ucap ibunya.

"Mami bisa jamin riri bahagia? Riri capek mi. Riri jadi korban obsesi mama. Riri bukan manusia sempurna yang bisa lakuin segalanya dalam sekejap. Riri juga butuh waktu mikirin kesenangan riri. Kalo mami begini, riri gak bisa tau apa yang riri senangi. Riri butuh waktu buat mikirin semuanya bukan cara dikekang kek gini". Jelas pricia membuat ibunya menurunkan kecepatan mobilnya. Beberapa lama, mobilnya berhenti.

“cy, bangun, kamu udah sampai". Panggil ibu pricia membangunkan cyara yang ketiduran. Ia sudah sampai rumahnya.

"Eh iya udah sampai ya tante, kak riri". Ucapnya sembari keluar dari mobil.

"Salamin tante sama mama kamu ya cy". Pinta ibu pricia. Pricia hanya menoleh dan sedikit tersenyum. Ia memperbaikin keadaannya yang baru saja mengeluarkan emosi nya

"Oke tante". Balas cyara. Cyara pun segera masuk kedalam rumahnya.

***
Sementara di rumah sakit, yeona, rochelle dan ruby masuk melihat keadaan azellia. Mereka mendapat kabar jika azellia sudah lumayan membaik dari sebelumnya namun ia belum sadar.

"Kak azel cepet sembuh ya, gue mau nyobain masakan kak azel yang enak itu". Bisik yeona.

"Iya gue mau diajak ke rumah kak azel bikin makanan sama kue lagi". Tambah rochelle. Ruby hanya terdiam duduk disebuah kursi disana.

"Kak ruby gak pulang? Nanti di cariin loh". Tanya yeona pada ruby.

"Gue di cariin? Gak mungkin gue dicari. Gak ada yang nyariin gue". Jawab ruby membuat keduanya saling melihat.

"Hah? Maksudnya?". Tanya rochelle bingung.

"Emang kalian gak dicariin". Tanya ruby balik meski sebelumnya belum menjawab.

"Gue udah kabarin ibu gue tadi". Jawab rochelle.

"Hmm gue udah ngasih tau sopir gue. Dia nungguin gue diparkiran sekarang". Jawab yeona.

Our DestinyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang