Yeona terbangun dari tidurnya. Ia merasakan sakit di kepalanya.
"Akhh sakit banget kepala gue". Ia berusaha mengingat apa yang terjadi.
"Bentar, gue kan tadi malem..". Ucapnya mengingat jika semalam ia keluar ke sebuah club. Ia menatap lagi ruangan sekeliling. Ternyata kamarnya, ia juga bercermin melihat dirinya memastikan jika tidak terjadi apa-apa padanya malam tadi. Tenggorokannya kering sehingga ia hendak menuju ke dapur untuk mengambil minum.
"Non yeona". Panggilan itu membuat yeona kaget.
"Ihh bibi ngagetin aja deh, hampir aja yeon keselek". Ucap yeona kaget.
"Maaf non". Kata pembantunya meminta maaf.
"Oh iya non gimana keadaannya? Tadi malem bibi syok banget loh non, pak dedi aja kaget karena gak liat non keluar tapi tiba-tiba dateng dengan keadaan yang berantakan". Jelas pembantunya. Yeona berusaha mengingat apa yang terjadi malam tadi.
"Beneran bi?". Tanya yeona.
"Iya non, non juga kenapa lagi bisa keluar rumah. Untung ada temen non yang anter pulang, katanya nemu di jalan". Jawab pembantunya.
"Temen? Siapa bi? Cewek apa cowok?". Tanya yeona penasaran, ia benar benar tak mengingat apa-apa.
"Siapa tuh namanya bibi lupa yang dulu sering kesini".
"Neng...oh iya neng roro". Lanjut pembantunya mengingat. Yeona terkejut bukan main. Matanya sampai terbuka lebar karena kaget. Ia pun berusaha mengingat.
Flashback:
Yeona berjalan dengan tak karuan lagi karena pengaruh minuman. Ia juga berusaha lari dari seorang lelaki yang tak ia kenali mengajaknya pulang namun ditolak yeona. Ternyata lelaki itu mengejarnya sampai diluar. Yeona segera berlari meskipun tak sanggup berlari. Sebelumnya, yeona menendangnya sehingga lelaki itu mengejarnya. Yeona segera berlari mencari tumpangan atau taksi yang lewat karena sebelumnya ia keluar diam-diam tanpa supirnya. Supirnya ketiduran sehingga ia denga cepat keluar dari rumahnya. Ia sangat frustasi karena kedua orangtuanya sangat sibuk, tidak ada juga sahabat yang bisa ia tempati bercerita. Ia tak ingin sahabatnya merasakan sakit apa yang yeona alami jika ia bercerita sehingga ia melampiaskan dengan minum minuman keras.
Beberapa lama berlari, ia bertemu sebuah motor. Ia tak tau siapa orang itu, yang yeona pikirkan cepat pulang dari sana. Entah mengapa ia berani pergi sendiri. Itu adalah pertama kalinya pergi sendiri ketempat seperti itu. Dulu di australia, ia akan pergi jika ada teman yang menemaninya.
"Tolongin gue". Pinta yeona dengan suara khas orang mabuk.
"Apa ini?!". Tanya rochelle dan berusaha melihat siapa karena rambutnya menghalangi wajahnya. Setelah berhasil membuka rambut yang menghalangi, betapa kagetnya rochelle jika itu adalah yeona. Ia sampai mematung tak percaya.
"Ayo jalan! Gue dikejar". Ucap yeona yang sudah naik di belakang rochelle. Rochelle menatap dari jauh seorang lelaki mengejar sehingga rochelle segera pergi dengan kecepatan tinggi meskipun ia masih syok dan tak percaya. Lelaki itu tidak terlalu mengejar setelah rochelle melaju kencang. Namun rochelle masih saja melaju kencang karena ia takut dikejar lagi.
"Pegangan yang kuat yeon". Pinta rochelle berusaha membuat tangan yeona memeluknya. Yeona sudah tak sadar sehingga pegangannya selalu ingin lepas.
Sesampainya di depan rumah yeona, Tiba-tiba motor rochelle oleng karena ia menahan tubuh rochelle. Mereka jatuh bersama di depan rumah rochelle.
"Akkh..". Jeritan rochelle karena kakinya terjepit motor sementara yeona masih tak sadar di belakangnya.
"Tolong!?". Teriak rochelle agar ada yang membuka gerbang rumah yeona dan menolong mereka. Beberapa lama rochelle berusaha berdiri, datanglah supir yeona membantu mereka. Rochelle segera berdiri sementara supirnya membopong tubuh yeona masuk.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Destiny
Teen Fiction[Luka yang berbeda] "kalo ada bunda, lo gak akan bisa nyakitin gue" -Ruby Aletta "aku hanya manusia biasa, aku juga butuh kebebasan, aku ingin menjadi diri sendiri. bisakah aku beristirahat sebentar saja?" -Pricia Olivia "memiliki prestasi yang ting...
