Malam harinya, yeona hendak menutup jendela kamarnya, namun sebelum itu ia melihat keluar sebentar.
"Siapa dia?". Tanya yeona saat melihat ada beberapa orang yang memperhatikan rumahnya. Yeona sangatlah takut apalagi beberapa hari ini ia seperti diintai. Ia segera menutup jendelanya dan segera menelpon.
"Halo pak, bapak dimana? Di bawah aman kan?". Tanya yeona pada supirnya.
"Ini lagi di pos non sama satpam lagi main kartu sambil ngopi, emang kenapa non, butuh sesuatu? Bapak bisa beliin". Tanya supirnya.
"Enggak pak cuma nanya doang mastiin semuanya udah dikunci". Ucap yeona sedikit lega. Ia sangat gelisah saat itu. Walaupun sudah menelpon dan semuanya aman, yeona masih kepikiran dan terus memantau diluar. Terakhir kali ia melihat, sudah tidak ada lagi. Yeona sedikit lega dan segera menuju ke tempat tidurnya.
***
Azzellia yang hendak tidur melihat bingkisan yang sebelumnya di berikan oleh keenan. Keenan memberikannya di parkiran sebelum pulang.
"Apa ini?". Tanya azellia bingung. Setelah ia membukanya, azellia bingung dengan isinya. Ada beberapa coklat dan bunga kecil disana. Azellia membuka suratnya.
Zel, makasih ya udah mau bikin rara happy setiap hari. Sekarang rara udah gak sedih lagi karna kamu, rara mau ngelawan penyakitnya karna kamu. Ini buat kamu sebagai tanda Terima kasih aku. Gak seberapa sih, tapi semoga berharga soalnya aku gatau kamu suka apa selain coklat dan bunga soalnya kamu itu perfeksionis takutnya kamu gasuka kalo bukan pilihan kamu sendiri. Hehehe..
Oh iya, aku taro bunganya di dalem bingkisan ini karena takutnya ada yang fotoin kita lagi, trus aku bilang dari rara biar orang-orang ngiranya bukan dari aku. Wkwkwk.
Azellia menggeleng setelah membaca surat dari keenan.
"Kamu tau kan nan, aku lagi menghindari makan coklat banyak. Tapi kenapa kamu ngasih nya kebanyakan, kamu mau aku gendut?". Ucap azellia. Bunganya ia simpan dengan rapi diatas lemari kecilnya. Setelah itu, azellia menyimpan coklat itu kemudian tertidur.
***
Esok hari, setelah masuk jam istirahat, pricia dengan terburu buru menuju ke kelas cyara. Ia sepertinya gelisah.
"Cy, cya ini beneran cy?". Tanya pricia panik. Cyara sedang bersama rochelle, ramya dan yeona disana.
"Kok bisa?". Tanya pricia lagi.
"Gak tau gue, gue pusing". Jawab cyara. Pricia duduk di depan bangku milik cyara.
"Abang kamu beneran ditangkep polisi? Kronologinya gimana? Aku dapet info dari mami". Tanya pricia lagi karena penasaran.
Cyara menghela napas "Gue beneran gak percaya abang gue nyulik orang. Padahal abang gue sama mantannya itu udah putus gak mungkinlah dia mau nyulik". Jelas cyara.
"Nyulik? Kok bisa". Tanya rochelle kaget. Sedari tadi mereka disana karena hendak mengobrol saja tanpa tau yang terjadi.
"Gini, kemarin abang gue emang gada kabar jadi mama gue itu panik dan hubungin berkali kali tapi tetep gak diangkat. Trus malemnya dapet kabar katanya abang gue nyulik cewek. Keluarga cewek itu udah laporin ke kantor polisi. Makanya malem itu abang gue ditangkep tapi masih diproses sih karena belum fiks itu bener". Jelas cyara membuat semuanya kaget tak percaya.
"Padahal abang gue udah putus sama tuh cewek kok bisa-bisanya dituduh nyulik sih anjir. Pasti tuh cewek ngejebak abang gue biar gak ditinggalin trus dinikahin". Lanjut cyara.
"Gue sepemikiran sama lu cy, kalo emang nyulik trus apa motif nyulik nya coba?". Tanya yeona.
"Itulah gue pusing, sampe sekarang gue belum ketemu abang gue. Belum lagi bokap nyokap gue berantem gara-gara ini". Lanjut cyara memegangi kepalanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Destiny
Fiksi Remaja[Luka yang berbeda] "kalo ada bunda, lo gak akan bisa nyakitin gue" -Ruby Aletta "aku hanya manusia biasa, aku juga butuh kebebasan, aku ingin menjadi diri sendiri. bisakah aku beristirahat sebentar saja?" -Pricia Olivia "memiliki prestasi yang ting...
