Ruby bangun dengan kaget yang luar biasa. Di ruang tamu itu sangatlah berantakan. Sepertinya ayahnya dan teman-temannya pesta minuman malam tadi sehingga disana terlihat sangat berantakan.
"Kurang ajar emang mereka ngotorin rumah bunda gue". Kesal ruby melihat pemandangan pagi itu. Sepertinya ayahnya belum sadar di kamarnya. Ia memungut dan membersihkan sisa makanan, botol minuman, puntung rokok yang bertebaran disana meskipun ia sudah harus berangkat ke sekolah saat itu juga karena ia sudah siap.
"Mau gak mau gue lagi yang harus beresin ini". Ucap ruby karena di rumahnya tidak ada pembantu. Ia takut kejadian lalu terulang lagi. Saat itu 1 tahun lalu, ada pembantu di rumahnya namun, hampir saja ayahnya melecehkan pembantunya karena pengaruh minuman untung ruby melihat hal itu dan segera menolong pembantunya. Ternyata tak hanya waktu itu, jika tidak ada ruby, ayahnya suka mengganggu dan menggoda pembantu itu. Itulah sebabnya ruby memberhetikan pembantu itu sebelum terjadi yang lebih lagi yang tidak diinginkan. Ruby sudah tidak ingin ada pembantu.
Dirumah itu juga jarang mereka makan disana. Ruby kadang masak sendiri untuk dirinya, ayahnya makan diluar, kadang juga ruby memasak yang lebih dan disimpan di tempat makanan. Jika tidak ada makanan, ayahnya juga tidak peduli dan akan makan diluar. Mereka ini tinggal bersama namun seperti orang lain.
"Capek juga ya masih pagi, masih ngantuk gue harus beresin sisa sialan itu. Pasti dia belum bangun. Dasar emang pengangguran. Sukanya cuma minta duit warisan bunda gue". Kesal ruby.
Ternyata selama ini, ia hidup dengan uang warisan ibunya. Ayahnya kadang kerja, kadang tidak. Ayahnya kerja di perusahaan yang dikelola oleh ibunya ruby. Ia yang melanjutkan. Jika tidak masuk kerja, maka ruby yang akan memantau dari jauh. Saudara ibunya lah yang diberikan kepercayaan itu mengelolanya.
"Tuh orang dikasih kepercayaan malah males-malesan. Kalo masuk kerja sukanya cuma marah-marahin karyawan. Gue pecat tau rasa". Ucap ruby sembari duduk memeriksa ponselnya. Ternyata ada pamannya yang menghubunginya.
"Halo om". Sapa ruby pada penerima telpon.
"ru, ayah kamu dimana? Gak masuk hari ini?". Tanya pamannya. Ruby memasang wajah kesal.
"Ya biasalah om, lagi kambuh lagi tuh penyakit malasnya. Taulah habis ngapain kalo belum bangun jam segini". Jawab ruby.
"Mabuk lagi? Padahal hari ini ada meeting loh pagi-pagi". Ucap pamannya.
"Gak bisa di cancel om hari ini?". Tanya ruby.
"Gak bisalah, kliennya udah dateng makanya om nelpon kamu". Jawab pamannya.
"Yaudah bisa gak om yang handle? Soalnya males ruby bangunin. Ntar ruby telat lagi debat mulu sama dia". Ucap ruby.
"Bisa aja sih, tapi om juga ada kerjaan lain ru, tadi aja niatnya cuma mau mantau kantor bentar doang eh malah ada tamu. Ini aja om udah telat nih". Jelas pamannya.
"Plis lah om temenin meeting bentar doang, kalo ruby gak bisa soalnya hari ini ada ujian mendadak". Ucap ruby yang sebelumnya diberitahu oleh gurunya di grup whatsapp.
"Gimana ya, yaudah deh nanti om usahain. Om juga usaha nelpon ayah kamu buat cepet kesini deh". Kata pamannya membuat ruby bernapas lega.
"Makasih ya om, om bener-bener pahlawan buat ruby. Kalo gak ada om, mungkin perusahaan bunda udah bangkrut dari dulu". Ucap ruby.
"Iya ruby, om begini juga ingat perjuangan bunda kamu. Bangun perusahaan tanpa uang dari ayah kamu. Bangun bisnis demi hidupin kamu, tapi malah dikasih suami yang gak tau diri". Kata pamannya. Sebenarnya, ibu ruby menikah dengan ayahnya juga karena perjodohan. Ibu ruby dari keluarga yang kaya sedangkan ayahnya hanya karyawan biasa yang berjasa bagi kakek ruby. Sebelumnya kakek ruby dibantu oleh ayahnya sehingga kakek ruby ingin balas budi. Saat itu juga ibunya ruby juga menyukai ayahnya sehingga mereka dijodohkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Destiny
Teen Fiction[Luka yang berbeda] "kalo ada bunda, lo gak akan bisa nyakitin gue" -Ruby Aletta "aku hanya manusia biasa, aku juga butuh kebebasan, aku ingin menjadi diri sendiri. bisakah aku beristirahat sebentar saja?" -Pricia Olivia "memiliki prestasi yang ting...
