Pagi harinya, ruby bangun dengan kesakitan di tubuhnya. Ia berusaha untuk bangun tapi tubuhnya sangatlah sakit.
"Ini beneran gue hidup sama binatang di rumah ini?". Kesalnya.
"Kenapa ada iblis kayak dia sih". Lanjutnya sembari menjambak rambutnya sendiri. Malam tadi, setelah ia selesai masak untuk makan malam, ia hendak ingin makan di meja makan. Baru kali ini ia ingin merasakan makan di meja makan, biasanya ia akan membawa ke dalam kamarnya. Namun, belum ia mengunyah, rambutnya sudah ditarik oleh ayahnya. Ayahnya saat itu sedang mabuk berat sehingga melampiaskan amarahnya pada ruby. Bahkan tubuh ruby dihempaskan ke lantai dan tembok.
"Wei anjing, lu udah bunuh bunda gue, sekarang lu mau bunuh gue juga?". Teriak ruby agar ayahnya berhenti memukulnya.
"Sadar gak lu? Sakit!?". Ucap ruby menghentikan ayahnya.
Pagi itu ruby sangatlah muak mengingat kejadian itu. Ia tak tahu mengapa semuanya terjadi padanya.
Namun pada malam kejadian itu, ruby akhirnya bisa menghentikan ayahnya dengan menahan tubuhnya ketika ayahnya terjatuh ke lantai.
"Kalo gue bukan manusia sekarang, udah gue bunuh lo tau gak". Ucap ruby.
"Dasar anak haram! Kamu udah bikin keluarga ku hancur". Ucapan itu yang berulang kali ruby dengar selama ini. Ketika ayahnya tak sadar, ia akan terus mengatakan itu. Sepertinya ada penyesalan pada ayahnya, namun ia melampiaskannya ke ruby.
"Yang bikin keluarga lu hancur lu sendiri anjir bukan gue!". Balas ruby bergetar.
"Karna kamu, hubunganku sama bundamu tidak baik". Ucapnya setengah sadar. Iya, ruby selalu disalahkan. Karena dulu ruby hasil hubungan luar nikah kedua orangtuanya. Karena itu, mereka terpaksa menikah. Setelah menikah, hubungan keduanya tidaklah harmonis.
Walaupun ruby sudah tidak menganggapnya ayah lagi, tapi ia masih berusaha membawa ayahnya kedalam kamarnya agar tidak memberontak lagi. Ruby mengunci pintu dari luar agar ayahnya tak keluar. Tubuh ruby sudah tak berdaya untuk berjalan ke kamarnya.
"Kalo lu gamau hubungan lu hancur, kenapa lu bawa gue ke dunia ini. Kenapa gue dilahirin anjir". Kesal ruby ketika sampai didalam kamarnya. Ia tak ingin merasakan lahir seperti ini. Kedua orangtuanya yang salah tapi ia yang disalahkan.
"Gue butuh rumah yang benar-benar rumah, gue mau tubuh gue gak sakit kayak gini". Lanjut ruby.
"Gue anak yang gak diinginkan, dan sekarang gue yang disalahin? Mereka yang ngelakuin tapi gue yang disalahin?". Ucap ruby sembari duduk menatap foto ibunya.
"Tapi bunda gak pernah nyakitin gue, dia berusaha jadi bunda yang baik, tapi kenapa bunda harus ketemu sama dia? Kenapa bunda buta milih dia sih?".
"Bunda, ruru capek, ruru mau ikut bunda aja". Tangis ruby pecah bahkan mengucapkan nama kecil yang selama ini tak ingin ia dengar lagi dari siapapun. Ia berbaring sembari memeluk foto ibunya.
Tring tring tring
Suara alarm ruby mengagetkan nya.
"Telat anjir, gue udah bangun duluan dari elu ya alarm". Ucap ruby. Kini ia harus mengobati lukanya sendiri.
***
"Mommy". Panggil yeona. Baru kali ini ia bisa melihat ibunya sebelum pergi.
"Honey, come here". Panggil ibunya. Yeona langsung saja memeluk ibunya.
"Mom, miss you". Ucap yeona pada ibunya.
"Miss you too". Balas ibunya.
"Gimana sekolahnya? Kamu sehat kan honey?". Tanya ibunya setelah sekian lama. Yeona seperti ingin meneteskan air mata mendengar nya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Destiny
Teen Fiction[Luka yang berbeda] "kalo ada bunda, lo gak akan bisa nyakitin gue" -Ruby Aletta "aku hanya manusia biasa, aku juga butuh kebebasan, aku ingin menjadi diri sendiri. bisakah aku beristirahat sebentar saja?" -Pricia Olivia "memiliki prestasi yang ting...
