Happy Reading, Readers!♥️
***
Setelah melalui rangkaian pingitan, siraman, pengajian dan adat pranikah lainnya. Tiba saatnya hari pernikahan datang. Akad dilakukan pada pukul 07.00 pagi. Calon pengantin wanita tentu bangun sebelum subuh untuk proses rias dan keriwehan lainnya. Di sisi lain pihak calon pengantin laki-laki juga sibuk dengan persiapan keberangkatan. Pukul 06.00 keluarga pihak Anjar berangkat dari hotel menuju rumah Fia.
"Mas, Anjar dan keluarga berangkat sekarang." Isi pesan Anjar kepada Fahmi.
"Siap, good luck bro! Hati-hati di jalan." Balas Fahmi.
Di sisi lain..
"Mba, Mas Anjar sudah berangkat belum ya?" Tanya Fia pada Berli dengan cemas.
"Infonya sudah Dek. Tenang, jangan keluar-keluar dari kamar ya! Mba Berli mau ambil minum dulu buat kamu biar ga gugup." Ucap Berli menuju dapur.
Namun, sebelum benar-benar melewati pintu kamar Fia, "Mba Berli!", panggil Fia.
"Iya? Mau diambilin apa lagi?" Tanya Berli
"Di luar aman? Ayah, Mas Fahmi, Abah, saksi lainnya sama pak penghulu sudah siap kan?" Tanya Fia cemas.
"Hahahaa.. Kamu tenang saja, di luar sudah terkendali. Anjar sudah deket." Balas Berli.
"Mba, ini Fia beneran nikah sama Mas Anjar kan?" Tanya Fia lagi.
"Ya iyalahhh lelaki idamanmu! Udah jangan bingung, udah cantik gini. Udah ya tunggu sini bentar." Ucap Berli.
Tak kama kemudian.. Tokkk.. tokk.. tokk..
"Dek, Anjar udah sampe.." Ucap Fahmi.
"Mas, Fia perlu keluar ngga?" Tanya Fia yang penasaran ingin melihat Anjar.
"Ngga, kamu tunggu sebentar lagi Ibu kesini. Ntar kalo udah selesai akad kamu baru keluar." Fahmi mengakhiri pembicaraan dan menutup pintu kamar Fia.
"Mas Anjar seganteng apa yaa.." Gumam Fia.
Anjar terlihat sangat gagah, mengenakan jubah dan jas berwarna putih lengkap dengan kalung bunga melati khas pengantin yang telah dikalungkan oleh Ibu Fia. Anjar beserta rombongan disambut hangat oleh Kakak dan keluarga besar Fia. Ia berjabat tangan dengan satu-persatu keluarga Fia.
Kemudian dengan langkah gagahnya Anjar memasuki ruang tamu yang digunakan sebagai ruangan dirinya mengucap janji suci. Dalam ruangan itu terdapat Ayah Fia sebagai wali nikah, Kyai Yazid, Fahmi, Gus Cahyo serta tokoh masyarakat setempat sebagai pemandu dan saksi akad nikah.
Setelah dibuka dengan pembacaan ayat suci al-Qur'an dan khutbah singkat. Anjar menjabat tangan Ibrahim selaku Ayah kandung yang menjadi wali nikah untuk Fia.
"Sudah siap dimulai Le?" bisik Ibrahim, Ayah Fia kepada Anjar.
Anjar menghela nafas sejenak, menenangkan degup jantungnya yang tak karuan.
"InshaAllah, Anjar sudah siap Pak." Ucap Anjar.
"Nanti ijab qabul tidak perlu terburu-buru supaya tidak salah ucap ya, Le." Bisik Kyai Yazid, dan dibalas anggukan kepala oleh Anjar.
"Bismillahirrahmanirrahim.. Ananda Ahmad Anjar Kurnia binti Ahmad Suryono Almarhum.." Ucap Ibrahim dengan sedikit menggoyangkan jabatan tangannya.
"Iya saya.." Sahut Anjar pelan.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya Zulfania Deasy Ismail binti Muhammad Ibrahim dengan maskawin 3gram cincin emas, 4gram logam mulia, dan uang tunai sebesar Rp.2.412.000 dibayar tunai. " Ucap ibrahim melanjutkan kalimat ijab.
"Saya terima nikah dan kawinnya Zulfania Deasy Ismail binti Muhammad Ibrahim dengan maskawin 3gram cincin emas, 4gram logam mulia, dan uang tunai sebesar Rp.2.412.000 dibayar tunai."
"Sah?" Tanya Ibrahim kepada saksi nikah.
"Sahh!!" Balas para saksi nikah dan semua tamu yah hadir dalam prosesi akad nikah.
"Alhamdulillah.." Ucap Anjar dalam hati.
Anjar mencium punggung tangan Maryani (Ibu Anjar) dan juga kedua orang tua Fia. Fia pun membuka pintu kamarnya dengan di temani Alin (Adiknya), dan juga Berli (Saudara iparnya), Anjar melangkah menjemput perempuan yang kini sudah sah menjadi istrinya. Dijabat dan dicium punggung tangan kanan Anjar oleh Fia, sedang tangan kiri Anjar mengusap puncak kepala Fia dengan berbisik lirih doa untuk keberkahan pernikahan mereka berdua.
"Barakallah likullin minna fi shohibi. Allahumma inni as-aluka khayraha waa khayra maa jabaltahaa 'alaih, Wa auudzu bika min syarriha wa min syarri maa jabaltahaa 'alaih"
(Ya Allah berikanlah keberkahan pada kami satu sama lain untuk pasangan kami. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan pada dirinya. Dan aku memohon perlindungan kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan apa yang Engkau ciptakan pada dirinya).
Di-Aminkannya doa itu oleh kedua mempelai. Anjar mencium kening Fia dan keduanya tersipu malu. Air mata bahagia menetes dari keduanya, membuka langkah baru bagi keduanya untuk saling mencintai dan melengkapi.
-Tamat-
"Cinta bisa menjadi celaka jika kau tak mampu menahan nafsumu. Kendalikan perasaanmu dan jemputlah dia yang kau cinta ketika engkau merasa mampu untuk memelihara cinta itu sendiri."
-Pantaskah Aku? 2024-
(Terima kasih kepada semua readers 'Pantaskah Aku?' yang sudah membaca cerita ini sampai akhir. Mohon maaf apabila terdapat banyak salah kata dan penulisan dalam ceritanya.
Ini adalah cerita pertamaku, yang sesungguhnya adalah kehaluanku sejak SMA hehehe.. Dan baru sempat untuk menulis ketika aku berusia 20 tahun (2018), dipublikasi (2019), dan direvisi upload dari awal (2020), hingga saat ini baru tamat (2024).
Semoga suatu hari aku juga akan disatukan dengan laki-laki baik, mungkin tak sesempurna karakter 'Anjar', tapi aku percaya bahwa Tuhan akan mempertemukan aku dengan 'Anjar' terbaik versi pilihan-Nya. Aamiin..)
Salam Sayang
-merahatijuni-
KAMU SEDANG MEMBACA
Pantaskah Aku?
Dla nastolatkówBagaimana bisa seorang laki-laki sholih penyandang santri terbaik, datang melamar begundal wanita sepertiku ini? Cerita berbahasa Indonesia dicampur dengan sedikit Bahasa Jawa. hehe. -Selamat menikmati cerita pertama saya. Jangan lupa vote terus y...
