Kembali pada kenyataan bahwa mereka benar-benar menjalankan misi labirin. Mengantarkan banyak nyawa berharga terbuang selama masa percobaan membuat Enver menentangnya. Dalam proses yang begitu mengerikan, Enver yang berusaha menyelamatkan seseorang pada akhirnya menerima hukuman. Enver kecil dengan segala idenya tentang nyawa yang berharga dan hak asasi manusia di kurung di ruang isolasi. Tanpa pernah tahu berapa lama waktu telah berlalu. Tanpa pernah tahu siapa saja yang akhirnya dipilih untuk menjalani hidup yang baru.
Ide itu pada akhirnya berhasil tanpa perlawanan. Keputusasaan membuat anak-anak malang itu menerimanya dengan berbagai harapan tanpa pernah tahu bahwa mereka mungkin tidak akan pernah kembali.
Enver telah memendam amarah ini terlalu lama hingga pada akhirnya dia melupakannya. Namun sesaat ketika benturan akan segala ingatan itu kembali dia seolah tersadar.
Tanganya melayang pada wajah Teresa sampai dia terhuyung begitu hantaman keras mendarat dipipinya. Suara plak yang terdengar diantaranya terdengar cukup keras hingga Enver tersadar begitu saja pada perbuatannya.
Tidak ada yang mengucapkan sepatah katapun. Keduanya sama-sama terkejut. Teresa hanya memandang Enver dengan tatapan tidak percaya sampai akhirnya dia bangkit dan berlari entah kemana.
Enver merasakan pedih merambat dari telapak tangannya. Berdenyut hingga kemudian rasa sakit menggantikan. Dia mampu merasakan jantungnya berdebar dengan kencang disusul dengan rasa panas yang merambat di wajahnya. "Ini tidak benar," gadis itu berbisik lirih sambil menatap perubahan warna pada telapak tangannya yang sebelumnya tampak memerah.
Mata Enver beralih ke sekitarnya, "Aku di labirin? Bagaimana bisa?" dia kembali bertanya pada dirinya sendiri.
Udara disekitar tampak begitu familiar. Dinding kayu serta atap ilalang yang ada diatasnya membuat segala ingatan menyeruak masuk bertubi-tubi. Segala bentuk informasi menusuk kepalanya dari berbagai arah, gambaraan akan semua yang telah dia lakukan di labirin muncul seperti layar yang mengambang.
Hingga suara seseorang membuatnya tersadar. Wajah lainnya yang begitu familiar. Teman yang mengetahui segalanya sekaligus perancang labirin berdiri tepat didepan matanya. Sang pengacau yang akan datang untuk menjadi trigger ketika misi labirin berlangsung terlalu lama telah dikirim. Tetapi mengapa mereka berdua datang bersamaan?
Sebelum sempat jawaban itu terdengar, Thomas yang nampak begitu bersemangat telah menyerangnya mendekat. Gerakan terburu-buru itu membuat Enver tersadar akan bahaya yang mungkin sedang berlari kearahnya. Dengan cepat Enver meraih apapun yang mampu tergapai oleh tangannya. "Berhenti disana, jangan mendekat!"
"Enver kita harus membicarakan sesuatu" Thomas berusaha bernegosiasi.
Dahi Enver mengkerut ketika ia mendengar Thomas menyebut namanya seolah mereka adalah teman dekat. "Hahh, siapa kamu berani menyebut namaku seperti itu."
"Oh, aku Thomas ak—"
Gadis itu memotong kalimat lawan bicaranya yang tidak peka. "Aku tidak tanya namamu dasar sialan. Tentu kamu pasti Thomas yang jadi favorit semua orang."
Tetapi sarkas itu tidak tertangkap karena seperti yang kita sebutkan, Thomas itu pintar tapi tidak peka. Wajahnya bukan kesal namun kebingungan seolah telinganya salah mendengar. "K-kau tahu namaku?"
Enver melepaskan pertahanannya lalu mengusap wajah seolah begitu frustasi. Ia akhirnya menghela nafas seperti membuang seluruh rasa sebal yang dia terima. "Hey Thomas sialan, aku akan membalasmu setelah ini."
Gadis itu berjalan kearah mereka namun tidak berniat untuk berdiri disana. Langkahnya terus bergerak sampai melaluinya. Dia akhirnya mampu melihat pemandangan yang biasa dilihat seolah sudah sangat lama. Enver memang sebal dengan dinding super tinggi yang meblokir pemandangan mereka akan luasnya langit diatas sana, namun perasaan familiar ini terasa seperti rumah yang lumayan dia rindukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
LOVE
RandomLOVE // THE MAZE RUNNER Alih-alih Teresa, bagaimana bila ada gadis lain yang dikirimkan terlebih dahulu ke Labirin? Seorang gadis yang sengaja diciptakan untuk dibuktikan kekuatannya. Terlihat biasa saja dari luar tapi jelas tidak biasa untuk kapas...
