Hari selanjutnya, setelah Esha menemui Janu di tempat tinggalnya, hari ini dia pergi ke kediaman Edmund demi menemui kedua orangtua Esha. Pagi-pagi sekali dia sudah bersiap. Kata Esha, mereka ingin bertemu untuk menanyakan keadaan Janu.
Drtzzz
Ponsel Janu berdering. Ia tersenyum ketika melihat siapa yang menelponnya.
" Halo, assalamualaikum Nona Esha."
" Kan udah ku bilang jangan panggil aku nona, Janu. Iya Waalikumsalam. Kamu udah jalan belum?"
" Nih udah diparkiran, udah masuk mobil juga tinggal jalan."
" Oke, ditunggu ya."
Entah sejak kapan terakhir dia merasa sebahagia ini. Ya, Esha adalah tempatnya kembali dari semua kekacauan yang terjadi dalam hidupnya. Ia baru menyadari bahwa keberadaan Esha lebih dari apa yang ia bayangkan.
Cekleek
Bruuum
Janu menyalakan mobil dan menginjak pedal gas. Mobilnya mulai keluar dari gedung apartemen dan menuju ke jalan raya, membaur dengan beberapa mobil lainnya. Sepanjang perjalanan Janu terus memikirkan apa yang ia lakukan dengan Esha kemarin.
Wajahnya tiba-tiba memerah. Baginya Esha adalah yang pertama, dan ciuman itu sama sekali tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Janu jadi membayangkan hal yang lebih dari itu. Terlebih dia kemarin mencium Esha dengan sedikit lebih dalam dan hal itu membuat seluruh tubuhnya terbakar.
" Ahhh ini gila. Kok bisa-bisanya kamu mikirin itu sih Jan. Sabar Jan, jadikan dia sah milikmu dulu baru bisa berbuat yang lebih. Ya, aku harus menahannya, aku nggak boleh memanfaatkan apapun. Entah itu situasi ataupun kondisi ketika bersamanya."
Janu mengeratkan pegangannya terhadap setir kemudi mobilnya. Ia meneguhkan dirinya untuk kembali membuat batasan kepada Esha. Semua itu semata-mata agar dirinya tidak melewati batas. Dia adalah pria yang normal, ia juga bisa merasakan hasrat jika berdekatan dengan wanita yang dicintainya.
Selama sejam berkendara, akhirnya Janu sampai juga di kediaman Edmund. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini hanyalah pertemuan biasa. Tuan Darius dan Nyonya Cilla hanya ingin tahu cerita tentang dirinya selama menghilang kemarin. Namun tetap saja rasanya berbeda. Terlebih dia sudah menyatakan cinta kepada Esha, jadi bertemu dengan kedua orangtua wanita itu membuatnya berdebar.
Namun ketika dia sampai di jalan depan rumah, sebuah pemandangan yang baginya tidak mengenakan itu terlihat jelas. Dua mantan Esha yang kalau tidak salah bernama Ferdy dan Artan ada di sana. Mereka nampaknya juga baru datang, karena belum ada satupun dari orang rumah yang keluar. Atau mungkin mereka memang sengaja tidak keluar.
Janu tentu tidak peduli dengan dua orang yang sudah jadi masa lalu Esha tersebut. Baginya saat ini adalah dirinya yang sudah ada di sisi Esha, meskipun ia juga belum tahu seperti apa hubungan mereka nanti kedepannya.
Dengan begitu tenang, Janu melangkah melewati kedua orang itu. Terlihat wajah Ferdy dan Artan yang kesal bukan main.
" Heh jongos, ngapain ke sini, aah pasti disuruh majikan ya? Mau jemput majikan ya?"
Artan, mulut pria itu memang selalu membuat orang kesal. Tapi Janu abai, dia tidak peduli dan tidak sekalipun menjawab. Karena baginya semua itu tidaklah penting.
" Heh, gue ngomong sama lo. Malah diem aja!" Artan tidak menyerah, dia sungguh ingin mengusik Janu.
Janu sampai di depan pintu, dia mengambil ponsel lalu menghubungi Esha, ia tahu pasti Esha tidak ingin melihat dua mantan kekasihnya itu, jadi dia memberi kabar bahwa dirinya sudah sampai. Dan benar saja tanpa menunggu lama, pintu rumah kediaman Edmund terbuka.
" Jan, udah dateng. Lama ya, maaf. Yuk masuk."
" Esha! Kami."
Braaak
Wajah Ferdy dan Artan memerah karena marah. Rahang keduanya juga mengeras karena mereka sudah menunggu disana lebih dari setengah jam tapi Esha mengabaikan.
" Gue nggak bakalan tinggal diam. Jongos itu beneran pengganggu," geram Artan.
" Setuju, gimana kalau kita kerja sama buat ngerjain tuh orang," timpal Ferdy.
Kedua mata mereka beradu, dan seringai pun terbit dari bibir kedua pria mantan kekasih Esha. Agaknya mereka memiliki sebuah rencana untuk Janu.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Dicintai Nona Muda
Romance" Jadilah suamiku!" " Maaf Nona, saya tidak berani." Janu Mahendra, pria berusia 25 tahun yang belum lama bekerja sebagai asisten pribadi Eshania Riulla Edmund dengan tenang dan ekspresi datar menolak dengan tegas keinginan nona nya. Track record Es...
