Pede Banget

158 3 0
                                        

Untung-untungan, itulah jalan yang ditempuh Ferdy saat ini. Dia sangat beristirahat untuk menemui Esha di rumahnya sehingga memilih untuk pulang dari pekerjaan lebih awal.

Pada intinya Ferdy memiliki insting bahwa Esha ada di rumah, dan menemuinya pada jam ini adalah cara yang paling aman. Bagaimanapun Ferdy juga sangat belum siap jika bertemu dengan salah satu keluarga dari Esha. Jadi, pria itu sebisa mungkin ingin bertemu Esha tanpa diketahui oleh kedua orang tua dan kakak laki-lakinya.

Dulu sempat dekat, bahkan sangat dekat sekali, namun perilaku Ferdy yang tiba-tiba meninggalkan Esha untuk wanita lain dengan dalih dijodohkan itu tentu menyakiti hati semua anggota keluarga Edmund.

Ferdy tersenyum lebar saat mobil miliki Esha terparkir sendirian di depan rumah. Itu menandakan bahwa wanita itu di rumah sendiri. Ia lalu turun dari mobil sambil merapikan bajunya. Setelah mengambil nafas dalam-dalam, Ferdy memencet bel pintu masuk.

Tak tak tak

Suara langkah kaki terdengar mendekat ke pintu membuat Ferdy semakin senang karena tidak lama lagi akan bertemu dengan Esha. Namun rasa senangnya hancur seketika saat dia melihat  orang datang membuka pintu adalah bukan orang yang ia harapkan.

" Siapa kamu, mana Esha?"

Seorang pria tinggi dan tampan, kemeja berwarna navy yang lengannya digulung hingga ke siku dan rambut yang sedikit basah membuat tampilan pria itu semakin menawan. Sejenak Ferdy beranggapan bahwa pria itu mungkin saja kekasih Esha. Tapi ia mengusir kemungkinan itu dan kembali meyakini bahwa Esha tidak mungkin memiliki pengganti yang cepat. Meskipun wajah pria yang berdiri di depannya tersebut sangatlah sesuai dengan selera Esha.

" Anda siapa?" tanya Janu kembali. Meskipun ia sudah tahu siapa si tamu tapi tentu dia harus berpura-pura tidak tahu.

" Ekheem, aku ... aku ini mantan pacar Esha."

" Aah mantan, sebentar saya tanyakan ke Nona apakah mau menemui MAN-TANNYA atau tidak."

Braak

Janu menekankan kata mantan kepada Ferdy sambil kembali menutup pintunya. Ya, dia tidak akan membiarkan pria itu masuk karena harus mendapatkan izin dari Esha lebih dulu. Sedangkan Ferdy, tampaknya pria itu merasa kesal. Tentu saja ia merasa marah karena tidak langsung dibiarkan masuk ke dalam rumah dan harus menunggu diluar seperti ini.

" Siapa Jan?"

" Katanya mantan Nona."

Esha mengerutkan kedua alisnya. Mantan dia ada 3 jadi kira-kira yang mana yang sekarang ini datang ke rumahnya.

Mengerti bahwa nonanya tampak kebingungan, Janu menjelaskan ciri-ciri pria tersebut. Dan di luar dugaan Esha tidak beranjak dari tempatnya, lalu malah menyuruh Janu untuk duduk dan makan.

" Tapi tamunya Nona?"

" Biarin aja, nggak penting. Sekarang urusan perut lebih penting, ayo makan. Maaf kalau nggak sesuai sama selera kamu."

Shaaaah

Janu seketika melihat Esha, lagi-lagi ini adalah sisi lain dari Esha yang baru ia lihat. Beberapa hari berada di samping Esha, banyak kejutan rupanya dari wanita itu.salah satunya ya ini, sikap ramah dan tidak enak terhadap orang lain. Jarang sekali kan atasan yang berkata maaf hanya karena makanan yang mungkin tidak cocok di lidah. Padahal dia sudah capek memasaknya, tapi masih khawatir jikalau  makanan yang dibuat tidak pas di mulut orang lain.

" Tidak perlu minta maaf Nona, saya yang terimakasih karena sudah dibuatkan makanan. Sekali lagi terimakasih."

" Ya, makanlah."

Keduanya menikmati makan siang sederhana yang dibuat oleh Esha. Ya hanya tumis kangkung dan ayam goreng namun rasanya begitu nikmat di mulut Janu. Terbiasa ia makan sendiri dan memakannya sendiri, Janu merasa ada perasaan yang berbeda ketika memakan makanan dari orang lain yang proses memasaknya dilakukan tepat di depannya.

Ting tong

Ting tong

Tong tong

Bel pintu kediaman Edmund kembali berbunyi. Jujur saja baik Janu maupun Esha lupa kalau ada tamu di luar sana. Tapi Esha tampak tenang dan tidak akan buru-buru untuk menemuinya.

" Biar saya yang bereskan Nona, sebaiknya Nona menemui orang itu."

" Ya oke deh,"

Dengan langkah enggan, Esha berjalan menuju ke pintu. Mendengar ciri-ciri yang disebutkan oleh Janu, tentu ia tahu siapa mantan yang datang bertamu siang-singa begini.

" Dasar pengecut," gumam Esha lirih sambil membukakan pintu. Wajah yang lama sudah tidak ia lihat itu memang masih tampan, tapi Esha sudah terlalu muak dengan wajah tersebut.

" Aah akhirnya kamu buka pintu juga Sha. Kamu tahu aku udah nunggu kamu dari tadi. Pria itu siapa sih, pasti dia lupa ya nggak bilang ke kamu kalau aku dateng, aah iya, gimana kabar kamu Sha? Aku denger kamu udah putus ya dari Remi. Huh dasar bego tuh laki, mutusin kamu, wanita sebaik dan secantik ini."

Ferdy nyerocos tanpa henti, bahkan dia tidak melihat ekspresi Esha yang dingin dan datar. Agaknya Ferdy masih beranggapan bahwa Esha akan seperti dulu yang datang dan merengek jika ada masalah. Tapi semua itu ternyata salah, wanita itu tidak menunjukkan reaksi atau ketertarikan dari ucapan Ferdy.

" Sha, kamu kenapa, kok diam aja? Lalu, kamu nggak nyuruh aku masuk."

" Maaf aku lagi sibuk, dan aku lagi nggak mood buat ngomong sama orang."

Brak!

Dugh dugh dugh

" Eshaaa! Buka Shaaa! Buka, aku cuma khawatir sama kamu Sha."

Ferdy terus berteriak di depan pintu sambil memukul-mukul pintu rumah dengan keras. Dia tidak terima ditinggalkan Esha begitu saja, dan diacuhkan.

Ceklek

" Sha, ka~"

" Maaf Tuan, Anda sungguh mengganggu kenyamanan. Jika Anda masih seperti ini terus maka saya akan panggilkan kemanan setempat. Silakan pergi Tuan, Nona Esha sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun."

Kekecewaan yang begitu besar memenuhi hati Ferdy karena diacuhkan begitu. Entah mengapa Esha sangat lain sekarang. Semua tidak seperti dugaannya. Tapi kali ini Ferdy akan mundur terlebih dulu. Ia hendak mencari cara untuk bisa mengembalikan Esha ke pelukannya. Sungguh rasa percaya diri yang begitu besar bagi si duda satu ini. Padahal dia belum lama bercerai dari istrinya.

Ternyata ketiga mantan Esha benar-benar tidak ada yang benar. Mereka sungguh problematik dengan kehidupan mereka masing-masing.

Dengan tenang Ferdy pergi meninggalkan kediaman Edmund. Dan sepanjang perjalanan dia tengah menyusun rencana guna bisa mendekati Esha kembali. Dan semua dimulai dari hal-hal yang disukai Esha ketika mereka tengah bersama seperti dulu.

" Aku yakin dia akan ingat masa indah saat kami bersama dulu. Ya, itu pasti. Dia pasti akan tersentuh kan? Mari kita mulai dengan itu."

TBC

Dicintai Nona Muda Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang