Pagi itu, suara burung berkicau di luar jendela, tapi Raen masih malas-malasan di tempat tidur. Ia menggulung dirinya dengan selimut, pura-pura tidak mendengar langkah kaki Reon yang masuk ke kamar dengan segelas susu di tangan.
"Raen, bangun. Kita punya rencana hari ini, ingat?" Reon berdiri di samping tempat tidur, suaranya terdengar lembut tapi tegas.
Raen hanya menggumam dari balik selimut, "Iya iya gue tau. Tapi kenapa sih harus pagi-pagi banget? Kan lo tau gue anak malam."
Reon menghela nafasnya, lalu meletakkan susu di meja kecil di dekat tempat tidur. "Saya kasih kamu waktu satu menit untuk bangun atau saya angkat kamu sekarang."
Raen menurunkan selimut yang menutup wajahnya dan menatap Reon dengan tatapan setengah ngantuk. "Lo tega banget ya sama gue, bentar lagi gue bangun, sumpah."
Reon menarik selimut Raen dan menyodorkan susu yang dibawanya tadi karena jelas ia tidak mau menunggu lama. Akhirnya, Raen menyerah dan bangkit dari tempat tidur.
"Lo emang maunya menang mulu ya, gue kaga ngerti kenapa gue bisa sabar dan nurut mulu sama lo." Ucap Raen sambil menerima susu itu dan meminumnya. dan setelah menghabiskan susunya ia pergi ke kamar mandi.
***
Setelah sarapan sederhana yang sudah disiapkan Reon, mereka berangkat ke pantai yang tidak terlalu jauh dari kota. Reon dengan celana panjang dan jaket kulit hitamnya, terlihat tampak rapi seperti biasa. Sementara Raen, dengan kaos oversize dan celana pendek, lebih terlihat santai. Awalnya Reon meminta Raen untuk memakai celana panjang tapi Raen membantah karena ini kan mau kepantai.
Sesampainya di pantai, Reon memilih tempat yang agak sepi di bawah pohon kelapa, membentangkan tikar piknik yang sudah ia bawa. Sementara yang dilakukan Raen, langsung melepas sandalnya dan berlari ke tepi air, ia memandang airnya terlebih dahulu dan tertawa kecil saat ombak menyentuh kakinya.
"Reon!! lo serius ga mau main air? Seru banget ini" Raen memanggil sambil melambai-lambaikan tangannya kearah Reon yang sedang duduk.
Reon yang duduk dengan tenang sambil memotret Raen dengan kameranya, menatap Raen dan senyum kecil. "Kamu saja, kalau saya basah, saya tidak bisa memotretmu."
Raen mendengus, lalu berlari kembali ke arah Reon, berdiri di depannya dengan tangan di pinggang.
"Lo emang pinter banget ngelesnya ya. Sini ikut gue main atau gue cipratin air sekarang!" Ucap Raen sambil bersiap ingin mencipratkan air ke Reon.
Reon meletakkan kameranya, berdiri dengan tenang, lalu mendekat ke Raen. "Kalau kamu cipratkan air ke saya, saya pastikan kamu yang lebih basah duluan."