Reon kembali kerumah Draco untuk menjemput Biru, sepertinya malam ini aman.
"Om udah pulang? Aku gajadi nginep?" Tanya Biru saat membuka pintu dengan bingung, seakan tak terjadi apa apa.
Wajarlah, seperti anak 8 tahun pada umumnya yang bisa melupakan apapun dengan cepat, bahkan ia melupakan tentang dirinya yang membenci Reon. Sekarang baginya semua adalah temannya, kecuali Draco, dia menganggap nya pacar.
"Iya, ayo pulang"
Mendengar ucapan Reon, Biru menoleh kearah Draco dengan sedih ia menatap Reon dengan penuh harap. "Aku mau sama dako"
Draco merangkul bahu Biru dan mengelusnya pelan. "Besok kan ketemu lagi disekolah"
"Ayo pulang, Biru" Ucap Reon penuh penekanan.
Biru masih menatap Reon dengan mata besar penuh harap, bibirnya sedikit mengerucut. Tapi dia tahu, tidak ada gunanya membantah kalau Reon sudah bicara seperti itu.
Dengan malas, Biru melangkah mendekati Reon, tapi sebelum pergi, dia menarik ujung baju Draco dan berbisik, "Besok aku duduk sama kamu ya."
Reon tidak membiarkan Biru berlama-lama. Dia menggenggam tangan anak itu dan menariknya keluar dari rumah Draco. Begitu pintu tertutup, Biru langsung menunduk, mengayun-ayunkan tangan Reon yang menggenggamnya.
"Om Reon..." panggilnya pelan.
"Hm?"
"Boleh nggak aku main ke rumah Dako besok lagi?"
Reon menghela napas. "Tidak boleh."
Biru mendongak dengan wajah kecewa. "Kenapa?" "Kenapa aku nggak boleh main ke rumah Dako?"
Reon berhenti sejenak di samping mobil dan menoleh kearah Biru. "Karena saya bilang tidak boleh."
Biru mengangkat wajahnya, mengerucutkan bibir. "Itu bukan alasan!" Ucap Biru lalu membuka pintu dengan kasar dan menutupnya secara kasar.
Reon tersenyum tipis lalu masuk kedalam mobil, ia memakai seatbelt nya dan memakaikan seatbelt pada Biru. "Karena saya tidak suka, saya cemburu. Paham, Biru?"
Sejenak, hening menyelimuti mereka berdua. Biru menatap Reon dengan mata membulat sementara Reon tetap fokus pada setir, wajahnya tenang seperti biasa.
Lalu, perlahan senyum kecil muncul di wajah Biru. "Om Reon suka aku, ya?" tanyanya penuh kemenangan.