44

6.7K 234 9
                                        

Matanya bergerak cepat ke arah tangga belakang-jalan pintas menuju ruang CCTV yang jarang dipakai. Di sekolah ini, hanya segelintir orang yang tahu kode akses pintunya. Tapi Levano tahu. Dia pernah melihat teknisi sekolah memasukkannya, dan dia menghafalnya diam-diam. Waktu itu, dia hanya iseng.

Tapi sekarang?

Sekarang dia punya tujuan.

Langkahnya pelan tapi pasti, penuh amarah yang dibungkam. Setiap lorong yang dia lewati terasa sepi, hanya berisi gema sepatu dan suara bisik kemarahan dalam pikirannya sendiri.

"Gue bakal tunjukin ke semua orang kalo Raen itu monster."

Tangannya bergerak cepat memasukkan kode-bunyi klik kecil terdengar, pintu terbuka. Aroma debu dan udara dingin menyambutnya saat dia masuk ke ruangan kecil berisi layar-layar dan rekaman yang terus berjalan.

Levano langsung duduk, tangannya gemetar sedikit karena adrenalin saat dia mulai menyisir waktu rekaman dari rooftop tadi.

Levano menatap layar monitor dengan intens, matanya bergerak cepat mengikuti setiap frame yang ditampilkan. Rekaman dari kamera di rooftop terlihat jelas, memperlihatkan dia dan Raen. Namun, yang paling mencolok adalah momen yang begitu mendalam, momen ketika Raen mendekat dengan ekspresi yang tidak bisa dia lupakan.

Raen, yang dulu tampak biasa, kini tampak seperti sosok yang asing, mata yang penuh dengan kebingungan dan amarah yang belum terkontrol. Levano bisa melihat bagaimana Raen menahan dirinya, tapi ada sesosok kekuatan yang sepertinya tak bisa dia tahan.

"Gue hampir mati tadi" pikir Levano, bibirnya tersenyum sinis.

Dia tidak peduli dengan temannya yang tertawa tadi, atau dengan tatapan kosong dari teman-temannya. Yang dia pedulikan sekarang adalah sesuatu yang lebih besar dia ingin agar Raen merasa takut, ingin agar Raen tahu bahwa Levano bukanlah sasaran empuk lagi.

Dia melanjutkan menelusuri rekaman, memperhatikan setiap detil gerakan yang terekam. Dalam satu momen, terlihat jelas betapa Raen hampir kehilangan kendali-tangan yang menggenggam erat, wajah yang memar, dan yang paling penting, kilasan pembunuhan di matanya.

Levano menyeringai. "Ini dia. Ini yang gue butuhin."

Saat itu juga, dia mulai memikirkan rencana. Rencana untuk membuat Raen terpojok, membuatnya membuka sisi gelapnya yang selama ini tersembunyi di balik senyum dan tatapan tajam yang selalu menakutkan. Rencana untuk mempermalukan Raen di depan semua orang.

Tapi saat dia menutup layar monitor, Levano berhenti sejenak. Sebuah pertanyaan datang ke benaknya, dan untuk sesaat, keraguan itu muncul.

"Tapi apa lo yakin Raen bakal diam aja?"

Keraguan itu cepat lenyap. Levano tahu, di dunia ini, ada dua jenis orang: mereka yang di atas dan mereka yang di bawah. Raen selalu berada di atas. Dia selalu bisa memanipulasi orang-orang di sekitarnya. Tapi Levano, yang selama ini selalu terinjak-injak, tidak akan lagi diam. Dia akan menunjukkan siapa yang benar-benar punya kekuatan.

Dengan tekad yang semakin bulat, Levano bangkit dari kursinya. Dia tahu apa yang harus dilakukan. Semua ini hanya soal waktu. Raen akan tahu apa yang rasakan saat posisi itu dibalik.

Sebelum meninggalkan ruangan, Levano menatap rekaman terakhir yang menunjukkan sekilas wajah Raen, ekspresi penuh kebingungannya saat dia berbalik pergi dari rooftop.


Malam hari.

Suasana sekolah sudah lengang. Lorong-lorong panjang yang biasanya ramai kini sunyi, hanya lampu-lampu redup yang menyala otomatis menerangi jalan. Levano menyelinap keluar dari ruang multimedia dengan hoodie hitam menutupi kepalanya. Flashdisk kecil tergenggam erat di tangannya-isi dari rekaman siang tadi.

My Teacher | ReonRaenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang