Season 2 (7)

803 30 7
                                        

Raen membiarkan tubuhnya lemas tak bertenaga, dadanya naik turun drastis seiring dengan tarikan napasnya yang perlahan mulai stabil. Kedua tangan kurusnya yang tadi mencengkeram sprei kini beralih mengusap punggung lebar Reon yang masih basah oleh keringat, memberikan tepukan-tepukan pelan yang menenangkan.

​Di atas perut dan sela pahanya, genangan cairan pelepasan mereka berdua terasa hangat dan lengket. Raen melirik ke bawah sejenak, lalu mendesah lega karena Reon benar-benar menuruti permintaannya untuk tidak menumpahkannya di dalam.

Sumpah demi apa pun, membayangkan harus melewati masa-masa hamil dan operasi caesar lagi dalam waktu dekat benar-benar membuat nyalinya ciut. Satu Ravena saja sudah sukses membuat dunianya jungkir balik.

​"Re... berat, anying. Minggir dikit napa." gumam Raen serak, suaranya terdengar sengau karena sisa gairah yang masih tertinggal di tenggorokan. Ia mencoba mendorong pelan bahu kekar suaminya.

​Reon tidak langsung menjauh. Pria itu justru mengeratkan pelukannya, menyembunyikan wajahnya lebih dalam di ceruk leher Raen sembari menghirup aroma tubuh pasangannya yang bercampur keringat. Aroma yang selalu menjadi candu baginya.

​"Sebentar, Sayang... Biarkan seperti ini dulu." bisik Reon dengan suara beratnya yang masih terdengar seksi dan lelah.

Ia memberikan beberapa kecupan kecil di rahang Raen sebelum akhirnya perlahan menggeser tubuhnya ke samping, berguling di atas kasur tanpa memutuskan kontak kulit mereka.

​Begitu posisinya berpindah, tangan kanan Reon langsung merengkuh pinggang ramping Raen, menarik tubuh polos cowok manis itu agar merapat ke dada bidangnya. Kaki panjangnya pun ikut mengunci tungkai Raen, memperlakukan sang mantan ketua geng seolah-olah dia adalah aset paling berharga yang tidak boleh lepas sedetik pun.

​Raen mendengkus kecil melihat tingkah posesif suaminya yang kembali kumat. Namun, ia tidak menolak. Tubuhnya yang terlanjur lemas dan pegal di bagian pinggang membuatnya pasrah bersandar pada dada hangat Reon, menyurukkan kepalanya di bawah dagu pria itu.

​"Makasih ya, Pa... Udah mau dengerin daddy tadi." bisik Reon lembut.

Tangannya bergerak ke atas, mengusap rambut hitam Raen yang berantakan dan basah oleh keringat dengan penuh kasih sayang. Matanya menatap lekat wajah Raen yang masih merona kemerahan.

​"Hmm." sahut Raen pendek, matanya sudah setengah terpejam karena rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang setelah pelepasan yang begitu hebat.

"Gue juga cuma belum siap aja kalau harus hamil lagi sekarang. Ngurus Ravena aja masih kagok, bisa gila gue kalau ditambah satu lagi."

​Reon terkekeh rendah, dadanya bergetar rata membuat Raen kenyamanan. "Iya, daddy paham. Maaf ya kalau tadi sempat bikin kamu panik. Daddy janji ke depannya akan lebih hati-hati lagi."

​"Baguslah kalau lo sadar." gerutu Raen, tangannya bergerak memukul pelan dada Reon sebelum akhirnya ikut melingkar di pinggang suaminya.

"Udah, buruan bersihin ini. Lengket semua, Re. Entar kalau Ravena kesini, kita malah repot."

​"Iya, sebentar lagi kita mandi bareng." ucap Reon tulus.

Ia menunduk untuk mengecup dahi Raen dengan lama, menyalurkan seluruh rasa cinta dan hormatnya pada pemuda yang telah melahirkan putri kecil mereka.

Reon tidak bohong saat mengatakan mereka akan mandi bersama.

Setelah membiarkan tubuh mereka beristirahat selama beberapa menit, pria itu perlahan menegakkan tubuhnya. Ia menatap Raen yang matanya sudah terpejam rapat, tampak begitu kelelahan setelah pelepasan yang hebat tadi.

My Teacher | ReonRaenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang