Raen sudah berganti baju rumah sakit yang kebesaran, super tidak modis, dan membuat Raen semakin kesal karena panas.
Tapi begitu kontraksi datang lagi, Raen langsung tidak peduli dengan bajunya.
"ANJG, REON! SAKIT BANGET!"
Raen menjerit, keringatnya sudah bercucuran di dahi dan belakang leher. Pipinya basah bukan cuma karena keringat tapi juga air mata yang tidak bisa dia tahan lagi.
Tangan kanannya menggenggam tangan Reon sekuat tenaga sampai buku-buku jari Raen memutih. Tangan kirinya? Memegang pinggiran ranjang rumah sakit sambil teriak-teriak.
Dokter dan doula sudah siap di sampingnya. Mereka akhirnya dipindahkan ke ruang operasi. Raen di beri bius epidural, sakit, tapi tidak sesakit kontraksi tadi. Setelah beberapa menit, tubuh Raen dari pinggang ke bawah terasa mati rasa.
Raen bisa melihat layar di atasnya, ada bayangan dokter-dokter yang sedang bekerja di perutnya. Tapi dia tidak bisa merasakan apa-apa.
Hanya tangan Reon yang tidak pernah lepas dari genggamannya.
Reon duduk di samping kepala Raen, memakai baju operasi steril. Matanya merah karena menahan nangis.
"Daddy di sini, baby." bisiknya. "Kita sebentar lagi bisa melihat putri kita."
Raen tersenyum tipis, masih lemas. Matanya mulai sayu. "Re... gue gantuk banget..."
"Kamu jangan tidur dulu, baby. Sebentar lagi ya. Lihat putri kita dulu."
Tapi Raen sudah kelelahan. Kontraksi berjam-jam, rasa sakit yang luar biasa, ditambah bius yang mulai merambat ke seluruh tubuh, membuat kelopak matanya terasa berat.
Raen berusaha tersenyum. "Lo jangan takut ya, Re... gue cuma... ngantuk.. sebentar aja...."
Dan matanya terpejam.
"Ren? Raen!"
Reon menggenggam tangan Raen lebih erat. "Baby! Jangan tidur dulu! Raen!"
Tapi Raen tidak merespon.
Wajahnya pucat, dadanya masih naik turun perlahan, tanda masih hidup, masih bernapas. Tapi dia seperti jatuh ke alam sadar yang dalam, tidak bisa langsung dibangunkan.
Reon menoleh ke dokter dengan panik. "Dokter, dia kenapa?!! BANGUNIN DIA DOK!"
Dokter bedah tetap tenang. "Tenang, Pak Reon. Ini cuma efek bius biasa. Pasien kelelahan dan tubuhnya memilih untuk istirahat. Kami akan tetap melanjutkan operasi. Bayi Bapak sebentar lagi lahir."
"TAPI DIA TIDAK SADAR, DOK!" suara Reon naik, tangannya gemetar. "RAEN! BANGUN, SAYANG! JANGAN BIKIN DADDY TAKUT!"
Doula yang sigap menghampiri Reon dari samping, memegang pundaknya. "Pak Reon, tarik napas. Raen baik-baik aja kok. Denyut jantungnya stabil. Dia cuma tertidur karena kelelahan. Tugas Bapak sekarang adalah menemani dia dan menyambut putri Bapak."
Reon menelan ludah. Dadanya naik turun kencang. Matanya berkaca-kaca, ia melihat ke arah Raen yang terbaring diam dengan selang infus di tangan, perut terbuka di balik kain steril, dan...
KAMU SEDANG MEMBACA
My Teacher | ReonRaen
Fiksi UmumApa jadinya jika seorang Raen sang preman sekolah di pertemukan dengan guru baru? dan guru baru itu lumayan gila kata Raen. penasaran? silahkan baca
