Raen merasa tubuhnya membeku begitu melihat polaroid di tangan Reon. Pandangannya langsung terpaku pada foto itu gambar dirinya dan Arunika tersenyum bersama seperti tidak ada beban di dunia ini. Foto yang seharusnya sudah hilang. Foto yang tidak boleh ada, Kenapa masih ada foto itu!
Darahnya seperti berhenti mengalir. Tenggorokannya kering. Nafasnya mulai pendek-pendek, dan dada terasa sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang menekan keras dadanya.
"Lo dapet dari mana...?" suara Raen terdengar lemah, hampir tidak berbentuk.
Reon menatapnya dengan tatapan tajam, ekspresinya penuh dengan sesuatu yang sulit ditebak-penasaran, curiga, dan mungkin sedikit kecewa.
"Saya tanya sekali lagi" ucap Reon, suaranya dalam dan penuh tekanan. "Ini siapa, Raen?"
Raen mencengkeram ujung bajunya sendiri, kukunya hampir menembus kulit. Dunia di sekitarnya terasa lebih gelap, lebih sempit.
Ga. Ga . Ini ga nyata. Ini ga boleh nyata.
"Gue... gue gatau... itu cuma... foto lama..." suaranya bergetar hebat.
Reon memperhatikan reaksinya dengan seksama, lalu mengangkat foto itu sedikit lebih tinggi. "Kenapa reaksimu seperti ini kalau ini cuma foto lama?"
Raen merasakan tubuhnya melemas. Jantungnya berdebar terlalu kencang, seperti ingin meledak dari dalam dadanya. Ini bukan hanya tentang foto itu. Ini tentang apa yang tersembunyi di baliknya. Tentang apa yang terjadi setelahnya.
Tentang Arunika. Tentang malam itu. Tentang darah. Tentang-
Tidak!
Tiba-tiba, dunia terasa semakin gelap. Nafasnya tersengal. Suara-suara di sekitarnya menjadi samar. Pandangannya mulai berputar, bayangan Reon terlihat semakin jauh, semakin kabur.
"Reon... bakar itu... gue mohon..."
Raen ingin mengatakan sesuatu, tapi semuanya sudah terlambat. Kegelapan menelannya sepenuhnya.
Dan sebelum ia bisa menyadarinya, tubuhnya ambruk ke lantai. Pingsan.
Reon terkejut saat melihat Raen tiba-tiba limbung dan jatuh ke lantai. Refleks, ia segera berlutut, mengguncang tubuh Raen dengan cemas.
"Raen! Hei bangun!" suara Reon terdengar panik, tapi Raen tidak merespons.
Dada Reon naik turun dengan napas yang tidak beraturan. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Wajahnya pucat, seolah semua warna telah terkuras dari tubuhnya.