45

11.4K 259 19
                                        

Hari Ketiga Setelah Penemuan Mayat Levano

Sekolah berubah seperti ruang interogasi. Polisi datang hampir setiap hari. Mereka mewawancarai murid-murid satu per satu. Guru-guru ikut dipanggil. Tidak ada yang diperbolehkan membocorkan hasil otopsi, tapi kabar burung bilang Levano tidak hanya dibunuh, ia disiksa.

Nama Raen tidak muncul di daftar panggilan awal. Tapi bukan berarti ia aman.

—————

Di Malam Hari..

Ruangan gelap. Hanya cahaya dari layar laptop yang menyala di meja.

Raen duduk di kursi, kaki disilang, tatapannya kosong. Di tangannya, ada bolpoin cetekan. Dia menekan nekan bolpoin itu. Lagi dan lagi, suara klik jadi satu-satunya suara di ruangan.

Tiba-tiba, suara langkah mendekat. Reon masuk tanpa mengetuk.

“Masih belum tidur?”

Raen menoleh pelan. “Ngga bisa tidur. Kepala gue kayak... muter terus.”

Reon menghela napas, lalu duduk di kasur Raen, memperhatikannya dengan tenang. “Kamu makin kelihatan capek. Kamu yakin tidak ada yang kamu inget tentang malam itu?”

Raen menggigit bibir bawahnya. “Kenapa lo terus nanya soal itu dad?”

Reon tersenyum tipis. “Karena saya peduli.”

Raen mengalihkan pandangan, lalu berdiri. “Gue... mau ke dapur.”

Reon bangkit juga. “Mau daddy bikinin teh?”

Raen geleng cepat. “Sendiri aja, Raen cuma butuh... sendiri.”

Dia pergi tanpa menunggu jawaban.

---
Raen berdiri di dekat wastafel, memandangi air yang menetes dari keran. Matanya kosong.

Kilasan datang lagi.

Darah. Bau logam. Napas tercekat.
Tangan mencengkeram leher seseorang.
Levano menatapnya dengan mata melotot, tubuhnya kejang.
Biru tersenyum.

“Lo pikir lo bisa nyentuh dia, ya?”

Lalu... senyap.

Raen terhuyung, memegangi sisi meja. Air matanya menetes tanpa suara.

"Lo siapa sih?" bisiknya lirih.

Tapi tak ada yang menjawab.

—————

Keesokan Harinya

Penyelidikan meluas. Seorang guru menyebutkan bahwa Levano sempat ribut dengan seseorang sebelum kematiannya. Sayangnya, tidak ada saksi yang tahu siapa. Kabar itu menyebar cepat, dan bisik-bisik soal kemungkinan tersangka mulai terdengar di mana-mana.

Di lorong kelas yang sepi, Raen sedang membuka loker saat suara Doni memecah keheningan.

“Raen, lo gak papa?” tanya Doni, berdiri agak ragu di belakangnya. “Lo kaya… beda banget akhir-akhir ini.”

Raen berhenti mengutak-atik isi loker. Ia menoleh perlahan, menyandarkan bahu ke loker dan menatap Doni. “Gue cuma capek aja, Don.”

Doni tidak puas dengan jawaban itu. Ia maju setengah langkah, ekspresinya berubah hati-hati. “Beneran capek? Soalnya... ada yang bilang lo terakhir keliatan bareng Levano. Jangan-jangan lo tau sesuatu?”

Suasana langsung menegang. Gerakan Raen terhenti. Perlahan, dia menatap Doni dengan tatapan kosong yang perlahan berubah tajam.

“Gue bukan pembunuh, Doni.” ucapnya datar.

My Teacher | ReonRaenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang