Cklek!
Pintu besar ruang VIP itu terbuka dengan hentakan yang lumayan keras, memotong perdebatan bisik-bisik di luar.
Dua orang penjaga berbadan tegap yang disewa Reon hanya bisa berdiri pasrah di samping pintu, tidak berkutik karena Draco mengonfrontasi mereka dengan tatapan dingin nan manipulatifnya, sementara Ryleen dan Erland langsung menerobos masuk tanpa permisi.
"RAEN!!!" Erland berteriak heboh, menjadi yang pertama berlari ke samping ranjang.
Wajahnya yang biasanya terlihat sok ganteng kini terlihat berantakan, matanya agak sembab menunjukkan kalau cowok fuckboy itu benar-benar menangis bombay semalaman.
"Gila, lo masih hidup, Ren! Gue kira lo bakal mati kehabisan darah waktu perut lo dibelek!" cerocos Erland tanpa saringan, langsung dihadiahi takolan keras di ruang kosong oleh Ryleen yang menyusul di belakangnya.
"Mulut lo kagak pernah disekolahin ya, Land? Doain yang bener dikit napa!" omel Ryleen.
Namun, begitu matanya beralih menatap Raen yang sedang memegang sendok sup, raut panik di wajahnya langsung luntur, digantikan senyum lega yang lebar.
"Aman, Ren? Mana yang sakit? Bilang sama gue, biar gue gebukin dokternya."
"Gue habis operasi, goblok, bukan habis tawuran. Lo mau gebukin dokter yang udah nyelametin anak gue?" sahut Raen ketus, tapi sudut bibirnya kedutan menahan tawa.
Melihat tampang bodoh teman-temannya membuat energi saat masa sekolahnya mendadak kembali.
Draco dan Zeon masuk paling terakhir dengan langkah yang jauh lebih tenang.
Draco, langsung berjalan mendekat dan meneliti wajah Raen dari atas sampai bawah.
"Muka lo udah agak segeran. Supnya enak?" tanya Draco sambil melirik mangkuk di tangan Reon.
"Enaklah, buatan saya." sahut Reon dingin, memotong pembicaraan.
Ia sengaja menaruh mangkuk sup itu ke atas nakas dengan bunyi dentingan yang sengaja diperkeras, lalu berdiri dari tepi ranjang dan melipat kedua tangannya di depan dada.
Aura dominan dan intimidatifnya langsung keluar, membuat Erland dan Ryleen yang tadinya mau mengacak-acak rambut Raen langsung ciut dan mundur satu langkah.
"Inget janji kalian semalam di grup chat?" tanya Reon dengan suara rendah yang berat, menatap keempat inti Black Wolf itu bergantian.
"Boleh jenguk, tapi jangan berisik. Raen masih butuh banyak istirahat."
"Iya Pak-eh, Bang Reon. Paham kok." cicit Erland, langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
Di sekolah mereka mungkin bisa bertingkah seperti penguasa jalanan, tapi di depan Reon yang punya kendali penuh atas Raen, mereka hanyalah sekumpulan anak ayam.
Zeon, yang sejak tadi diam di dekat ujung ranjang, matanya beralih ke arah bassinet merah muda di sisi lain tempat tidur. "Ren... itu anak lo?"
Atensi seluruh ruangan langsung teralih ke boks bayi. Raen tersenyum tipis, rasa bangga mendadak membuncah di dadanya. "Iya. Sini lo semua kalau mau lihat. Tapi awas ya, tangan lo pada kotor kan habis dari parkiran, jangan berani-berani megang anak gue."
Keempat cowok itu langsung mengerubungi bassinet Ravena dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah jika mereka melangkah terlalu keras, bayi mungil itu bisa pecah.
"Anjir... kecil banget, Ren." bisik Zeon dengan mata melotot heran. "Jari-jarinya kayak ceker ayam."
"Ih, lucu banget monyet! Pipinya gembul kayak bakpao!" Erland gemas sendiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Teacher | ReonRaen
Genel KurguApa jadinya jika seorang Raen sang preman sekolah di pertemukan dengan guru baru? dan guru baru itu lumayan gila kata Raen. penasaran? silahkan baca
