Raen tidak pernah menyukai rumah sakit. Tapi sejak beberapa minggu terakhir, ia terpaksa sering datang.
Hari itu, ia duduk di ruang tunggu, menatap kosong ke layar televisi kecil di dinding yang menayangkan berita. Tangannya menggenggam formulir, tetapi pikirannya melayang.
"Menunggu giliran?"
Raen menoleh. Seorang pria duduk di kursi sebelahnya, tersenyum ramah.
"Iya" jawab Raen singkat.
Pria itu mengulurkan tangan. "Bae Hanwoo."
Namun siapa sangka, Bae Hanwoo hanya nama samaran dan nama aslinya adalah Bae Hanseok, Hanseok menggunakan samanan karena mungkin Raen sudah familiar atau mungkin hafal karena saat itu Arunika menyebut namanya.
Raen menatap tangan itu sesaat sebelum menjabatnya. "Raen." jawab Raen tanpa rasa curiga.
Hanseok tampak biasa saja—sikapnya santai, suaranya tenang, dan ada kesan akrab dalam cara bicaranya. Raen tidak merasa ada yang aneh. Mereka berbicara ringan, dan meski Raen bukan tipe yang mudah berbasa-basi, ia mendapati dirinya menanggapi percakapan Hanseok tanpa banyak berpikir.
Saat perawat memanggil namanya, Raen berdiri. "Sampai jumpa" kata Hanseok dengan senyum kecil.
Raen tidak terlalu memikirkannya. Baginya, itu hanya pertemuan biasa.
---
Namun, sejak hari itu, mereka sering bertemu.
Tiap kali Raen datang ke rumah sakit, Hanseok selalu ada.
Kadang di ruang tunggu, kadang di kafetaria, atau bahkan di taman dekat gedung. Raen tidak merasa curiga—ia mengira Hanseok memang memiliki urusan di sana.
"Kayanya lo sering kesini ya?" tanya Raen suatu hari.
Hanseok mengangkat bahu. "Cukup sering."
Raen menerima jawabannya begitu saja. Hanseok selalu tampak bersahabat, dan obrolan mereka terasa ringan.
Namun, Raen tidak menyadari sesuatu.
Hanseok tidak pernah benar-benar mengatakan kenapa ia ada di rumah sakit. Tidak pernah terlihat masuk ke ruang pemeriksaan. Tidak pernah berbicara dengan dokter.