Season 2 (3)

1.3K 64 2
                                        

Empat bulan setelah USG itu, Raen resmi memasuki trimester ketiga, minggu ke-32 menuju 40. Perutnya kini seperti bola basket ukuran 7, berat badannya naik drastis, kakinya terasa bengkak seperti kaki gajah, dan punggung nyeri konstan gara-gara menopang beban janin yang makin aktif nendang-nendang.

Hormon estrogen dan progesteron sedang berada di puncak-puncaknya, membuat emosi Raen naik-turun seperti roller coaster. Sensitif, cemas, gampang nangis, tapi juga excited campur takut menyambut "putri kecil" nya.

Sedangkan Reon? Pahlawannya sehari-hari yang siap 24/7, rumah mereka sudah dilengkapi baby nursery lengkap, tas RS siap di mobil, dan dokter kandungan swasta langganan.

Pagi-pagi, Raen terbangun dengan muka pucat, susah tidur gara-gara kaki kebiruan (edema) dan janin yang terasa berguling-guling. "Re... punggung gue sakit banget, anjir. Kayak ada batu yang nahan di tulang belakang."

Reon langsung memijatnya dengan minyak hangat, lalu suapin sarapan bergizi untuk istrinya (oatmeal buah, susu hamil) sambil berbisik. "Putri kita lagi latihan bela diri kayanya nih, baby. Sabar ya."

Tapi Raen sering mood swing. "Lo cuma bisa ngomong aja! Gue yang bawa ini tiap hari, lo cuma pijetin doang!" Berakhir dengan menangis lima menit, lalu manja lagi dan meminta pelukan ke Reon.

Geng Black Wolf bolak-balik bawa buah impor terutama Draco, atau ada juga Zeon yang memijat kaki ala-ala yang malah bikin tambah sakit.

Siang itu, Raen hanya bisa rebahan full time karena susah jalan jauh, napas pendek gara-gara rahim tekan diafragma. Ngidamnya juga semakin aneh. "Pengen rujak pedes campur es kelapa muda, tapi harus yang dingin banget!"

Reon langsung memesan instan, tapi Raen malah cemas sendiri. "Nanti kalo anak gue kenapa-kenapa gimana? Gue takut lahiran... Sakit ngga ya?"

Reon memeluknya erat. Satu tangan mengusap lembut perut Raen yang besar, tangan lainnya merangkul kepala Raen dan membawanya ke bidangnya. "Daddy bakal pegangin tangan kamu terus" ujarnya pelan. "Dokter terbaik sudah siap. Semuanya sudah kita siapin, sayang."

*****

Malam-malam seperti ini rasanya seperti medan perang untuk Raen.

Di satu sisi, dia senang bukan main setiap kali merasakan gerakan putri mungil mereka di dalam perut. Tendangan kecil itu selalu membuatnya tersenyum sendiri, membayangkan wajah lucu yang mungkin mirip Reon.

Tapi di sisi lain... kontraksi palsu yang datang tiba-tiba. Tanpa aba-aba. Dadanya terasa sesak, perutnya mengencang seperti batu, dan Raen hanya bisa menahan napas sampai rasa sakit itu pergi.

Braxton-Hicks. Kata dokter sih normal. Tapi kenapa rasanya jauh dari kata normal anj?

Malam itu, tidur jadi musuh nomor satu. Raen bolak-balik bangun. Berguling ke kiri, ke kanan, lalu duduk dengan tangan memegangi perutnya yang besar.

"Re..." cicitnya, membangunkan Reon yang langsung sigap meski matanya masih setengah merem.

"Dia nendang keras banget! Liat nih!" Raen menarik tangan Reon ke perutnya.

Dan benar saja tuk! satu tendangan kuat sampai terasa di telapak tangan Reon.

Mata Reon langsung terbuka penuh. Binar bahagia itu tidak bisa disembunyikan. "Kuat banget ya anak daddy." bisiknya serak, lalu menempelkan bibirnya pelan di perut Raen. "Dia kayaknya mirip kamu, baby. Nggak sabaran."

*****

Reon tak main-main. Sejak Raen masuk trimester tiga, dia sudah kalang kabut lebih parah dari yang lain.

My Teacher | ReonRaenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang