Raen membuka matanya perlahan, disambut oleh sinar matahari pagi yang menyelinap lewat tirai jendela. Kepalanya masih berat, tapi ada sesuatu yang berbeda hari ini. "Sekarang libur?" pikirnya sambil mengusap wajah.
Tiba-tiba, hidungnya menangkap aroma harum yang menggoda, kopi susu dengan pancake hangat, dan... bacon?
Sebelum sempat duduk, pintu kamarnya terbuka dengan suara berderit. Di ambang pintu, Reon berdiri dengan pose percaya diri, mengenakan apron yang dibelinya secara impulsif bulan lalu. Di tangannya, sebuah nampan berisi sarapan mewah, tumpukan pancake empuk bertabur stroberi dan blueberry, bacon renyah, serta segelas kopi susu kesukaannya yang dihiasi foam berbentuk hati. Di atas pancake, lilin kecil berbentuk angka "20" menyala dengan lembut.
"Selamat ulang tahun, Sayang" ucap Reon dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk Raen berdiri.
Raen mengerutkan kening, mencoba menahan senyum. "Hah? Lo kira gue gak tau ya kalo ini hari ultah gue? Gue sengaja tidur-tiduran aja biar bisa liat lo ngapain."
Reon menaruh nampan di pangkuannya, lalu mendekatkan wajahnya hingga jarak antara mereka hanya sehelai napas. "Oh... Saya tau kamu tidak tidur. Saya juga tau kamu sudah bangun sejak jam 5 pagi karena gugup."
Raen tersedak. "Gue ga—"
"Denyut nadimu berdetak kencang sejak tadi" bisik Reon sambil menekan jarinya ke pergelangan tangan Raen. "Jadi, siapa yang menang di sini?"
Raen mendesah, menyerah. "Bajingan."
Reon tertawa, lalu mencium keningnya. "Sarapan dulu. Hari ini akan panjang."
---
Siang itu, Raen dibawa ke ruang tamu dengan mata tertutup. Begitu penutup mata dibuka, pemandangan yang menyambutnya membuatnya terkesiap, seluruh ruangan dipenuhi balon emas dan hitam, banner bertuliskan "Happy Birthday, Raen!" dengan font elegan, dan... "apa itu? tumpukan kado setinggi manusia?"
"Apa-apaan ini?" Raen berbalik ke Reon, yang berdiri di sampingnya dengan senyum puas.
"Kamu pikir saya akan membiarkan ulang tahunmu berlalu begitu saja?"
Teman-teman sekelas Raen yang biasanya terlalu takut untuk mendekatinya berdatangan dengan ucapan selamat. Bahkan beberapa murid yang pernah dia lindungi datang dengan hadiah-hadiah kecil. Tapi yang paling mengejutkan adalah kehadiran kepala sekolah, yang dengan enggan menyerahkan sebotol anggur mahal.
"Ini dariku dan istriku" kata kepala sekolah dengan suara datar. "Dia memaksa."
Raen hampir tersedak melihat ekspresi Reon yang tiba-tiba gelap.
Tapi puncak kejutan datang ketika Reon memutar video di layar besar. Adegan-adegan dari masa lalu mereka terpampang jelas, pertemuan pertama di ruang guru, pertengkaran mereka di lorong sekolah, bahkan momen-momen intim yang tidak seharusnya direkam.
"LO NGEREKAM SEMUA INI?!" Raen berteriak, wajahnya memerah.
Reon hanya tersenyum licik. "Hanya untuk mengingatkanmu betapa lucu nya kamu ketika dibawahku."
Raen masih berdiri terpaku di depan layar besar, wajahnya merah padam sementara Reon terus memutar video itu dengan ekspresi paling puas sepanjang sejarah. Beberapa teman sekelasnya mulai bersorak dan bertepuk tangan, sementara yang lain malah menutup mata, terlalu malu untuk melihat guru mereka dalam situasi seperti itu.
"Matiin itu sekarang!" Raen hampir melompat ke arah Reon, tapi Reon dengan gesit menghindar sambil memegang remote control tinggi-tinggi.
"Tunggu, bagian favoritku belum" goda Reon, matanya berbinar nakal.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Teacher | ReonRaen
General FictionApa jadinya jika seorang Raen sang preman sekolah di pertemukan dengan guru baru? dan guru baru itu lumayan gila kata Raen. penasaran? silahkan baca
