Reon menghela napas panjang, masih memeluk pinggang Raen erat. Sorot matanya menelusuri wajah Ryleen dan yang lainnya-menakar, mengukur, menghakimi dalam diam. Seolah bertanya "siapa di antara kalian yang pantas dekat-dekat dengan milikku?"
"Saya... tidak yakin ini ide bagus" ucap Reon akhirnya, suaranya rendah tapi dingin. Cukup keras untuk membuat suasana jadi kaku. "Kamu baru pulih, Raen. Apa kamu yakin bisa-"
"Yaelah Dad, ayolah." Raen menyela cepat, matanya berbinar penuh semangat. "Gue sehat, bugar, lincah, nih liat!" Dia langsung lompat-lompat kecil sambil menepuk dadanya sendiri. "Gue cuma butuh angin luar, becanda bareng mereka. Lagian lo bisa ikut kalo mau."
Ryleen tersenyum getir, karena biasanya Raen tidak pernah mau mengajak Reon, aneh.
Reon menatap Raen yang kini menatap balik dengan sorot mata yang lembut, memohon, dan sedikit nakal. Gaya manja yang bukan Raen banget. Dulu tapi, sekarang?
Hanya Reon yang bisa lihat sisi itu.
"...Baiklah" akhirnya Reon mengangguk. Tangannya tak lepas dari pinggang Raen. "Tapi saya ikut."
"Yeeaay" Raen langsung loncat kecil dan noleh ke teman-temannya. "Ayo jalan sekarang! Sumpah gue kangen banget suasana basecamp!"
Zeon dan Erland langsung bersorak, Ryleen ikut ketawa kecil. Draco? Masih diam. Tapi sorot matanya memperhatikan dengan sangat hati-hati.
**
Di dalam mobil, Raen duduk di antara Ryleen dan Zeon. Mereka langsung tenggelam dalam obrolan yang ribut dan penuh nostalgia. Soal joki liar, motor yang pernah mogok tengah jalan, sampai cerita waktu Raen ngebut tanpa helm dan hampir ditabrak truk.
Tapi meski mulutnya ketawa keras, tangan Raen kadang mencengkeram sabuk pengaman terlalu erat. Atau menggenggam sisi jok dengan kekuatan aneh. Refleks yang aneh. Seolah tubuhnya ingat bahaya, tapi otaknya enggak ngerti kenapa.
"Eh, gue dulu pernah tawuran ya?" tanya Raen tiba-tiba, memotong tawa yang baru meledak. "Soalnya kalian ngomongin 'ngacir bareng' kayak familiar banget..."
Zeon langsung berhenti ketawa dan melirik Raen cepat. "Hah? Serius lo nanya gitu, Ren?"
Erland ikutan noleh, dahinya berkerut. "Lah, lo yang paling heboh waktu itu malah sekarang nanya? Lo beneran kaga inget?"
Ryleen sempat menoleh ke Reon, lalu ke Raen lagi, pelan-pelan. "Ren... lo kenapa sih? Lo beneran gak inget kejadian itu?"
Raen cuma mengangkat bahu. "Serius dah, gue kayak... familiar, tapi gak ngerti. Kayak cuma potongan doang di kepala."