Pagi itu, sinar matahari menyusup melalui pepohonan pinus di basecamp lama mereka, tempat rahasia di pinggir hutan kota, penuh kenangan petualangan liar masa SMA.
Raen akhirnya setuju bertemu teman-temannya, setelah berminggu-minggu ragu. Dengan satu syarat, Reon ikut. Bukan karena takut, tapi karena... yah, dia butuh support system. Perutnya kini semakin jelas membuncit di bawah jaket longgar, dan rahasia ini terasa seperti bom waktu..
Mereka sudah berkumpul di ruang tamu yang sudah mulai tua. Zeon dengan rambut pendek acak-acakannya, Ryleen yang selalu berisik karena dijahili oleh Erland, Draco yang hanya diam menikmati drama, dan Devran, si bungsu yang kini sudah seperti anggota tetap.
"Wih! Akhirnya ketua muncul!" teriak Zeon sambil melompat dari bangku, pukulannya mendarat di pundak Raen. "Lo pada kemana aja? Udah kayak pasutri yang lagi hamil, diem aja dirumah."
Raen tersedak kopi instannya, batuk keras. "Bacot lo! Gue lagi sibuk!"
Ryleen menyipitkan mata dengan curiga, tatapannya menyapu tubuh Raen dari atas hingga bawah. "Eh... Ren, lo... gemukan ya? Keliatan gembul banget sekarang." Nada suaranya setengah bercanda, setengah serius, matanya tertuju tepat pada perut Raen yang sedikit menonjol walau ditutupi hoodie tebal.
Semua mata langsung tertuju ke sana. Udara basecamp yang santai tiba-tiba membeku. Raen menelan ludahnya, tangannya refleks memegangi perutnya, merasakan denyut kecil dari dalam. Jantungnya berdegup kencang, keringat dingin mengucur di punggung.
"Gue... anu..." gumamnya, suaranya hampir hilang.
Reon yang selama ini diam di samping seperti penjaga setia, maju selangkah. Tangannya menyentuh punggung Raen pelan, untuk menenangkannya. Dengan tenang, suaranya yang dalam memecah hening. "Duduk dulu. Kita akan jelaskan semuanya."
Suasana langsung berubah tegang. Mereka semua duduk di bangku dengan melingkar, matanya tak lepas dari Reon dan Raen. Draco menatap Raen dengan ekspresi tak terbaca, tapi ada kilau penasaran di matanya.
Raen menarik napas dalam-dalam, tangan Reon masih di punggungnya seperti jangkar. "Jadi gini... Gue... hamil."
Hening total. Angin hutan berhembus pelan dan daun-daun bergesekan, tapi tak ada suara dari mereka. Burung berkicau di kejauhan, seolah mengejek ketegangan itu.
Erland membuka mulutnya, tapi tak ada kata-kata yang keluar. Zeon mengerjapkan mata berkali-kali. Ryleen membatu, napasnya tertahan.
Devran tiba-tiba melompat berdiri, berteriak dengan histeris. "HAH?! LO BISA HAMIL?!"
Semua tersentak, hampir jatuh dari bangku. Raen memegang perutnya lebih erat, wajahnya pucat pasi.
"Dev, jangan kenceng-kenceng! Anaknya bisa keganggu!" Ryleen memukul kepala Devran dengan keras, suaranya campur antara kesal dan panik.
"Tapi... tapi... cowok kok bisa hamil?!" Devran masih melongo, tangannya menunjuk perut Raen seperti melihat uang dijalanan. "Gimana caranya? Lo dikasih makan apa sama abang gue sampe bisa kaya begitu?!"
Reon menghela napas panjang, senyum tipis di bibirnya yang selalu terkendali. "Ada kondisi medis langka. Persistent Müllerian duct syndrome varian genetik, ovarium rudimenter yang aktif. Dokter sudah menkonfirmasi dengan USG. Dan ya, Raen hamil. Anak saya."
Erland akhirnya bersuara, suaranya pelan tapi terdengar serius. "Jadi... lo beneran bakal jadi bapak-bapak, Ren?"
Raen mengangguk lemah, pipinya merona. "Iya..."
Zeon tiba-tiba berdiri meledak, tinjunya ke udara. "ANJIR! GUE JADI OM!"
Ryleen menyusul, matanya berkaca-kaca. "GUE JADI OM JUGA! Gue bakal ajarin dia naik motor!"
KAMU SEDANG MEMBACA
My Teacher | ReonRaen
General FictionApa jadinya jika seorang Raen sang preman sekolah di pertemukan dengan guru baru? dan guru baru itu lumayan gila kata Raen. penasaran? silahkan baca
