36

10.8K 489 13
                                        

HALOO SEBELUM MEMBACA DIHARUSKAN JOIN SALURAN WHATSAPP REONRAEN DULU YAAA

HALOO SEBELUM MEMBACA DIHARUSKAN JOIN SALURAN WHATSAPP REONRAEN DULU YAAA

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Ikuti saluran Reon And Raen di WhatsApp: https://whatsapp.com/channel/0029VajbgZqC1Fu6DIdTQx3U

Udah?? OKEEE SILAKAN MEMBACA SAYANGGG
**************************************

Draco tidak tertawa. Ia justru melangkah lebih dekat, membuat Raen refleks menyandarkan tubuhnya ke kursi.

"Lo pikir ini lucu, Raen? Lo pikir gue seneng ngeliat lo bawa cewek asal-asalan ke sini, cuma buat lo manfaatin?" suara Draco rendah hampir seperti desisan, namun setiap kata terasa tajam.

Erland dan yang lain memperhatikan dengan tegang Devran sempat ingin melerai mereka namun Ryleen melarangnya karena mereka tahu ketika Draco seperti ini, ada baiknya untuk tidak ikut campur.

"Ah elah Drac, lo lebay deh. Itu cuma tugas, santai ajalah" Raen mencoba tetap terlihat santai, tapi ia tidak bisa menyembunyikan sedikit kegugupan di suaranya.

"Santai?" Draco menyeringai tipis, namun tidak ada kehangatan di matanya. "Gue sering bilang ke lo kan, kalo lo ada gapaham sesuatu tanya ke gue, gausah caper"

Raen terdiam dan sedikit kesal karena Draco memanggilnya caper, merasa tersudut. Namun ia tahu Draco tidak bercanda.

"Lo tau ga, Raen?" lanjut Draco, mendekat hingga hanya ada beberapa inci di antara wajah mereka. "Gue udah capek ngeliat lo caper terus terusan ke cewek dengan alasan ga paham pelajaran"

Raen menelan ludah lagi, kali ini lebih keras. "Draco, gue... gue kaga ada maksud kaya gitu, oke? Gue cuma iseng.

"Iseng?" suara Draco hampir seperti geraman. "Gue ga peduli lo iseng atau apa kalo lo masih suka caper ke cewek dengan alasan itu, lo termasuk ngeremehin gue."

Satu detik, dua detik, suasana menjadi semakin tegang. Raen akhirnya menundukkan kepala sedikit, tidak berani menatap langsung. "Oke, gue ngerti. Gue nggak bakal ngulangin."

Draco memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang untuk menenangkan diri. "Bagus. Sekarang lo duduk disini sama gue kerjain tugas bareng, tapi lo harus sambil ngerjain juga, gue nggak mau ada drama lagi."

Raen mengangguk pelan, wajahnya sedikit pucat. Sementara itu, di dalam hatinya Draco, ia menyimpan kekesalan yang bercampur dengan rasa peduli yang sulit ia jelaskan. Perasaannya pada Raen lebih dalam dari sekadar teman atau rekan, tapi ia terlalu takut untuk mengungkapkannya. Namun, satu hal yang pasti. Ia tidak akan membiarkan siapa pun terlihat lebih dibutuhkan Raen dibanding kan dirinya saat dikelas, ia sudah kalah dengan Reon, ia tak mau kalah saat tidak ada Reon.

Waktu terus berjalan, dan ruangan itu dipenuhi suara ketikan keyboard serta klik mouse. Draco duduk di samping Raen, memperhatikan layar komputer dengan cermat. Tugas informatika mereka adalah membuat program sederhana untuk memproses data, tapi Raen tampak kesulitan memahami logika kodenya.

My Teacher | ReonRaenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang