Tiga tahun telah berlalu sejak hari kelulusan itu, hari di mana Raen akhirnya melepaskan seragam SMAnya dengan senyum lebar, sementara Reon menatap dari jarak jauh, mata hitamnya penuh janji tak terucap. Kehidupan mereka kini mengalir seperti sungai yang tenang namun dalam ritme mapan yang dibangun dari rutinitas kecil, keintiman malam-malam panjang, dan ikatan yang semakin kuat.
Reon masih mengajar di SMA yang sama, meski itu kini hanya pelengkap. Bisnis keuangan miliknya telah meledak, cabang-cabang baru bermunculan di kota-kota tetangga. Sedangkan Raen? Ia menolak untuk pergi kuliah, ia memilih jalan bebas yang lebih sesuai dengannya. Reon, dengan senyum liciknya, "mempekerjakannya" sebagai asisten pribadi. Eufemisme manis untuk selalu ada di dekatnya dan Raen tidak keberatan. Baginya, menjadi bayangan Reon adalah kebebasan terbesar.
Pagi itu, sinar matahari pagi menyusup melalui tirai kamar apartemen mewah mereka di pusat kota. Raen terbangun dengan gelombang mual yang ganas, perut bergejolak seperti ombak badai. Tanpa pikir panjang, ia melompat dari tempat tidurnya, meninggalkan Reon yang masih tertutup dalam selimut, mata setengah terpejam.
"Huekk!!"
Muntahannya memenuhi kloset putih mengkilap. Raen terduduk di lantai dingin kamar mandi, wajahnya pucat pasi, keringat membasahi dahinya. Suara itu seperti alarm yang langsung membangunkan Reon. Pria itu bangkit seketika, langkahnya cepat menuju sumber suara.
"Sayang?" Suaranya lembut, mengarahkan tangannya langsung ke punggung Raen yang membungkuk. "Kamu kenapa?"
Raen mengusap mulutnya dengan punggung tangan, napasnya tersengal. "Gatau... Udah lima hari gue mual-mual tiap pagi. Paling cuma salah makan, gausah lebay."
Reon mengerutkan kening. "Lima hari?" Instingnya Laksamana Ganendra yang selalu satu langkah di depan, langsung berkata. "Kita ke dokter hari ini."
"Hah? Gausa lah, cuma mual doang—" Raen mencoba bangkit, tapi Reon sudah memeluk pinggangnya, menahan dengan kekuatan yang tak bisa ditolak.
"Raen." Satu kata itu saja, nada rendah dan otoritatif, sudah cukup memotong protesnya. Raen menghela nafas, tahu dia kalah telak
*****
Klinik swasta di pinggir kota itu nyaman, aroma antiseptik bercampur kopi segar dari ruang tunggu. Raen duduk nyaman di kursi empuk, kakinya bergoyang-goyang seperti anak kecil. Dan Reon, seperti biasa, mengurus semuanya mulai dari administrasi, antrean, bahkan secangkir teh hangat untuk Raen.
"Silahkan masuk, Kak Raen." Perawat tersenyum ramah.
Mereka masuk ke ruang konsultasi. Dokter wanita paruh baya menyambut dengan senyuman hangat, kacamata bulatnya bertengger di hidung mancung. "Silakan duduk. Ada keluhan apa hari ini?"
Raen menjelaskan dengan nada malas, tangannya menggaruk tengkuk. "Mual tiap pagi, Bu. Udah hampir seminggu. Kalo soal makanan kayaknya sih enggak aneh-aneh."
Dokter mengangguk, memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, dan mengambil sampel darah untuk tes cepat. Tak ada yang mencurigakan secara fisik. Tapi saat hasil laboratorium muncul di layar tabletnya, tutupnya terangkat tinggi.
"Pak Raen…maaf, apakah Anda pernah melakukan pemeriksaan hormon sebelumnya?"
Reon yang selama ini diam di kursi samping sambil mengamati, langsung menegak. "Apa ada masalah?" Suaranya dingin, tapi ada kekhawatiran di baliknya.
Dokter menghela nafas panjang, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Ini agak... tidak biasa. Hasil tes menunjukkan kadar hormon hCG Anda sangat tinggi, mirip dengan profil kehamilan awal. Saya tahu ini terdengar tidak masuk akal, tapi ada kondisi medis langka seperti sindrom saluran Müllerian yang persisten atau varian genetik yang memungkinkan ovarium rudimenter berkembang. Kita perlu USG untuk memastikan."
KAMU SEDANG MEMBACA
My Teacher | ReonRaen
Ficção GeralApa jadinya jika seorang Raen sang preman sekolah di pertemukan dengan guru baru? dan guru baru itu lumayan gila kata Raen. penasaran? silahkan baca
