Season 2 (6)

811 33 2
                                        

Satu minggu kemudian, suasana hangat rumah sakit resmi berganti dengan huru-hara nyata di dalam rumah mewah milik Reon.

​Hari pertama mereka membawa Ravena pulang ke rumah langsung disambut dengan kepanikan luar biasa.

Ternyata, mengurus bayi mungil seberat 3,2 kilogram itu jauh lebih menguras tenaga dan emosi daripada memimpin tawuran satu sekolah atau mengurus bisnis dunia bawah.

​"REON! INI GIMANA ANYING?! DIA NANGIS LAGI!"
​Suara lengkingan Raen menggema dari arah kamar utama, memecah keheningan jam dua dini hari.

Preman sekolah yang biasanya garang itu kini berdiri kaku di samping ranjang dengan rambut acak-acakan dan kaos yang melorot sebelah.

Wajahnya panik bukan main menatap Ravena yang sedang menangis kencang hingga wajah bayinya memerah.

​Reon yang baru saja memejamkan mata di sofa kamar langsung tersentak bangun.

Dengan langkah tergesa-gesa, pria dominan itu menghampiri Raen. "Kenapa, Sayang? Coba daddy lihat. Popoknya penuh gak?"

​"Gak tau! Kan tadi kamu yang terakhir gantiin!" sahut Raen ngegas, matanya melotot panik sekaligus mengantuk berat.

"Perut aku masih agak perih kalau buat gendong sambil berdiri, Dad... Buruan kamu ambil, kasihan anak aku!"

​Reon dengan cekatan mengangkat Ravena ke dalam dekapannya, menimangnya dengan gerakan lembut yang sudah ia pelajari dari suster rumah sakit. Ajaibnya, begitu berpindah ke dada bidang Reon, tangisan Ravena perlahan mereda menjadi lenguhan kecil.

​"Tuh, kan. Dia cuma mau digendong." ucap Reon pelan, mengulas senyum kemenangan ke arah Raen.

​Raen yang melihat itu langsung mendengkus sebal, menenggelamkan tubuhnya kembali ke atas kasur sambil menarik selimut sebatas dada. "Dih, pilih kasih banget tuh bocah. Padahal yang perutnya dibelek demi dia tuh aku, bukan kamu."

​"Kamu cemburu sama anak sendiri, hm?" kekeh Reon, ikut mendudukkan diri di tepi ranjang sembari terus menimang Ravena yang matanya sudah mulai berkedip-kedip mengantuk.

​"Kagak! Ngapain juga aku cemburu." gerutu Raen, memalingkan wajahnya yang merona tipis.

Namun, sedetik kemudian ia melirik Ravena lagi. "Dad, taruh boxnya aja. Kamu gak capek apa dari tadi siang bolak-balik mulu? Besok kan kamu harus kerja lagi."

​"Tidak apa-apa, demi kalian berdua daddy tidak capek." jawab Reon lembut.

Ia menunduk, mendaratkan kecupan di kening Ravena yang mulai tertidur pulas, lalu beralih mengecup dahi Raen dengan lama. "Kamu tidur duluan ya, Papa... Biar Ravena daddy yang jaga malam ini."

​Raen menatap wajah lelah Reon yang masih terlihat tampan meski memiliki kantung mata tipis. Jauh di lubuk hatinya, rasa hangat dan haru kembali membuncah. Suami posesif di hadapannya ini benar-benar membuktikan ucapannya untuk selalu menjaga mereka.

​Raen mengulurkan tangannya dari balik selimut, menyenggol pelan lengan Reon. "Gak usah sok kuat. Sini taruh tengah aja bayinya, kita tidur bareng-bareng. Kalau dia nangis lagi, baru kamu aku tendang dari kasur."

​Reon terkekeh geli mendengar ancaman khas pasangannya. Ia menuruti kemauan Raen, membaringkan Ravena dengan sangat hati-hati di tengah-tengah kasur ukuran king size mereka, mengapitnya dengan bantal pembatas.

​Begitu Reon ikut merebahkan tubuhnya di sisi lain, tangan kanannya langsung menyelinap di bawah leher Raen, menarik cowok manis itu ke dalam pelukannya tanpa menyenggol bekas jahitan operasi di perutnya.

​"Makasih ya, Sayang." bisik Reon di tengah kegelapan kamar.

​"Buat apa?" gumam Raen yang matanya sudah terpejam, merasa nyaman dalam dekapan hangat Reon.

My Teacher | ReonRaenCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang