PART 37 - BOGOR 2

282 10 0
                                        

❗❗PLAGIAT???!!! JAUH JAUH❗❗

❗❗JANGAN LUPA VOTE & KOMEN❗❗
.
.
.
.
.
{AHLAN WA SAHLAN}



Di malam yang sunyi ini, Gus Hafidz tengah berjalan seorang diri mulai dari masjid, menuju ke rumah yang ia dan sang istri tempati. Semilir angin malam sedikit demi sedikit berhembus menerpa kulit nya hingga menembus sampai ke tulang.

Suasana pesantren yang nampak sepi serta lampu-lampu di sekeliling nya yang temaram agaknya tidak membuat ia takut, Gus Hafidz justru berjalan pelan sambil melantunkan aqidatul awam.

Akan tetapi ia tiba-tiba mendengar tangisan dengan disertai rintihan yang bersumber dari belakang gudang, "Astaghfirullah hal'adzim, suara siapa itu?" Gumamnya sembari mengeluarkan handy talkie miliknya untuk berjaga-jaga jika ia memerlukan bantuan dari beberapa ustadz.

"Bismillahirrahmanirrahim" Setelah mengucap basmalah Gus Hafidz mencoba memberanikan diri untuk mendekat ke arah sumber suara dengan jantung yang berpacu lebih cepat.

Tangisan itu semakin jelas terdengar, namun Gus Hafidz masih mengumpulkan keberanian untuk sekedar mengintip dari tembok samping gudang.

Hingga akhirnya suara yang sangat ia yakini milik laki-laki terdengar, "Kenapa sih orang-orang malah nuduh gua yang lakuin, padahal kan gue jelas-jelas nyentuh dia aja gak pernah, apalagi sampai berbuat gak senonoh kaya gitu, emang brengsek"

Sembari mengucap syukur berkali-kali di dalam hatinya Gus Hafidz mendekat, tetapi nihil, ia sama sekali tidak menemukan orang di belakang gudang tersebut.

Prakkk!!
Genteng tiba-tiba terjatuh dari atas membuat atensi Gus Hafidz menjadi teralihkan, ia lalu mendongak ke atas dan betapa terkejutnya Gus Hafidz ketika menemukan seorang santri putra tengah duduk diam di atas sana.

"Nizam? Itu kamu?"

Santri yang merasa terpanggil pun menoleh kebawah, "G-gus, maaf" Ucapnya dengan raut wajah bersalah karena telah menjatuhkan genteng hingga pecah.

"Turun" Hanya satu kata, namun mampu membuat Nizam segera turun dari atas atap gudang melalui pohon di samping nya.

"Maaf Gus" Pemuda berumur tujuh belas tahun itu menunduk takut sambil memegangi ujung kaos oblong miliknya.

Perkataan Nizam tak ditanggapi oleh Gus Hafidz, matanya justru terfokus pada tangan kiri Nizam yang berdarah,

Tak peduli mahal atau tidak Gus Hafidz merobek sarung miliknya kemudian ia perlahan menarik tangan Nizam hingga membuat sang empu kaget dan reflek ingin menarik tangannya kembali, namun tidak bisa karena ditahan oleh Gus Hafidz.

"Tunggu, saya hanya ingin membalut lukanya"

Nizam terdiam memperhatikan laki-laki itu membalut luka di tangannya, "Anjir, kok kesannya kek gay" Pikir nya.

"Saya tau pikiran mu, dan buang jauh-jauh, karena saya hanya menganggap mu adik bukan lebih, mengerti Nizam"

"Buset ni Gus kok tau isi pikiran gue? Apa dia cenayang? Ah udahlah pusing gue mikirin nya" Ujar Nizam membatin.

Selesai, Gus Hafidz lalu menepuk bahu Nizam dua kali hingga membuat nya tersadar. Pemuda itu langsung mengecek pergelangan tangannya yang sudah di balut robekan sarung milik Gus Hafidz tadi.

Nizam tersenyum kikuk ke arah Gus Hafidz, "Syukran Gus, maaf sarung nya nanti ana ganti" Ucapnya, ya walaupun ia tau harga sarung yang di pakai Gus Hafidz bisa berjuta-juta harganya.

JALUR LANGITTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang