❗❗PLAGIAT???!!! JAUH JAUH❗❗
❗❗JANGAN LUPA VOTE & KOMEN❗❗
.
.
.
.
.
{AHLAN WA SAHLAN}
Terlihat, Gus Hafidz kini tengah duduk di salah satu bangku kayu yang berada di belakang rumahnya, dekat dengan pintu dapur yang terbuka. Menikmati hembusan angin pagi hari sambil memandangi sungai buatan para anak-anak pesantren.
Sang istri juga terlihat sedang berkutat dengan bahan-bahan masakan, seraya sesekali mereka bercengkrama atau pun bercanda, membuat suasana hangat tercipta di antara keduanya.
"Oh iya Mas, Annisa kok gak pernah kesini ya mas? Kan setau Zahra, Annisa itu paling lengket kalau sama kamu" Tanya Zahra, dengan tangan yang lincah memotong-motong beberapa bawang putih.
"Mas tidak tau, tapi mas juga berpikir seperti itu, tumben sekali dia tidak ikutin mas" Setelah menyahuti, Gus Hafidz lalu berjalan masuk sembari menutup pintu dapur dan duduk di salah satu kursi makan.
Tangan laki-laki itu mulai menjangkau setoples camilan di dekatnya kemudian memakannya. Hingga beberapa menit, lalu lalang sang istri membuat ia jadi bertanya-tanya, apa yang sedang dicari olehnya.
Perlahan Gus Hafidz menutup toples camilan sambil melontarkan pertanyaan, "Mencari apa?"
Mendengar pertanyaan tersebut, Zahra menoleh, "Zahra nyari teflon Mas"
Kening laki-laki berusia dua puluh lima tahun itu mengernyit dalam, "Warnanya merah bukan?"
Sekarang gantian kening Zahra yang tiba-tiba mengernyit mendengar pertanyaan sang suami, "Iya kok mas tau?"
"Yang ditangan kiri kamu apa sayang?"
Zahra mengangkat tangan kiri nya, benar saja teflon itu sedari tadi ia pegang, dan seketika membuat dirinya cengengesan tidak jelas, "Zahra lupa, hehe, mas sih terlalu ganteng jadi nya Zahra fokus mikirin mas doang, gak ingat lagi kalau teflon nya di tangan Zahra sendiri"
Gus Hafidz berdiri dari tempat duduknya sambil berjalan mendekati perempuan itu, sampai tepat di depan sang istri. Badan nya sengaja ia condongkan, mencoba menatapnya dalam dengan alis yang di naikkan satu, "Apa kamu bilang?"
Di tatap seperti itu oleh Gus Hafidz sontak membuat Zahra gelagapan, "Eum, anu tadi apa itu anu, Zahra mau lanjut masak mas"
Kekehan terdengar, berbarengan dengan Gus Hafidz yang geleng-geleng kepala melihat tingkah sang istri. Menurutnya Zahra seperti itu sangat lah menggemaskan.
Suara desiran dari arah penggorengan, disertai aroma bawang goreng yang menyeruak seketika menimbulkan rasa lapar diperut Gus Hafidz.
"Wangi sekali, masak apa?" Laki-laki itu melingkarkan tangannya di perut sang istri, yang sontak membuat ia mematung di tempat.
Lama mematung, sebuah bisikan lembut menyadarkan nya, "Jangan diam saja sayang, nanti gosong masakan kamu"
ASTAGHFIRULLAH GUS HAFIDZ, gak tau aje ape ye jantung nya si zahra lagi dugun dugun gegara di peluk dari belakang, eh malah nambah panggil sayang, alahh author juga mau kalo gini mah biar jantung nya sehat :v
Tangan Zahra kembali mengaduk-aduk masakan didepannya dengan posisi masih sama, namun tak begitu lama pelukan dilepas oleh Gus Hafidz pasalnya ia mendengar suara langkah kaki menaiki tangga rumah.
Zahra menoleh hingga mereka saling pandang, "Sebentar mas cek" Ucap Gus Hafidz kemudian berjalan menuju lantai atas.
Beberapa menit, Gus Hafidz turun dengan Annisa yang sudah berada di dalam gendongan nya, "Kak Ara!!" Sapa gadis kecil tersebut sembari memberontak ingin di turunkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
JALUR LANGIT
RomantizmIni tentang kisah cinta dalam diam di pondok pesantren Al-Qamar, pondok pesantren ternama di kota Jakarta, dengan di pimpin oleh Kyai Hasan selaku anak tunggal dari pemilik pesantren yang sudah lama meninggal. Zayyad Hafidz Al-Ghifari, laki-laki ta...
