PART 39 - SEBUAH KALUNG

169 7 0
                                        

❗❗PLAGIAT???!!! JAUH JAUH❗❗

❗❗JANGAN LUPA VOTE & KOMEN❗❗
.
.
.
.
.
{AHLAN WA SAHLAN}


Amar berdiri menatap pintu gerbang rumah di depannya sembari menghela napas pelan dengan jantung berdegup kencang tak karuan, "Tekan tidak ya?" Ia terus saja bertanya kepada dirinya sendiri sedari tadi.

Sudah hampir setengah jam laki-laki itu berdiri didepan pagar yang menjulang tinggi tersebut, keraguan dari dalam hatinya sangat membuat ia tertekan.

"Bismillah, tekan" Gumamnya lalu jari telunjuk kanannya menekan sebuah bel rumah dan setelahnya cepat-cepat ia memejamkan mata seolah takut untuk menghadapi hal yang akan terjadi selanjutnya.

Hening, tidak ada apapun yang terjadi, Amar segera membuka matanya pelan hingga akhirnya ia dikejutkan dengan kemunculan seorang satpam yang sedang mendorong sedikit pagar itu.

"Ada apa ya?" Tanya nya tanpa basa-basi.

"Eum anu sebelumnya saya minta maaf mengganggu waktu bapak, Afifah nya ada?" Ujarnya balik bertanya.

"Astaghfirullah Mar, lancang sekali kamu langsung bertanya ke intinya" Batin Amar sambil memukul pelan bibirnya.

"Siapa nya Afifah kamu?"

"Anu pak, saya teman pengajar satu pondok dengan Afifah" Tutur Amar kemudian berusaha tersenyum manis walaupun sedikit kaku.

"Oh iya, mari masuk den" Ajak Satpam itu yang seketika membuat Amar tidak percaya, tadi wajahnya begitu judes, sekarang? Mengajak ia untuk masuk ke dalam? Mimpi kah.

Rumah Afifah sangatlah mewah berbeda dengan rumahnya yang begitu sederhana, hanya berbahan dasar kayu, kayu jati maksudnya. awokwok lanjut.

Ketika masuk ke dalam rumah, Amar langsung disuruh duduk oleh satpam tersebut hingga tanpa sengaja ia mendengar teriakan dari lantai atas, "KAMU ITU MEMBANTAH SAJA!!! INI LAH AKIBAT MASUK KE PESANTREN TIDAK MENURUTI KEINGINAN ORANG TUA MU YANG INGIN KAMU LANJUT SEKOLAH DI LONDON"

"AKU TIDAK PERNAH MENGAJARIMU MEMBANTAH, APAKAH GURU-GURU MU ITU YANG MENGAJARIMU MEMBANTAH? HAH???"

"MAU JADI APA KAMU??? TIDAK USAH LAGI KEMBALI KE PESANTREN KUMUH ITU"

"Pi, papi gak pernah tau gimana rasanya masuk pesantren"

"YA!!! MAKA DARI ITU AKU TIDAK AKAN PERNAH MAU MASUK PESANTREN, INGAT ITU"

"DIKASIH YANG BEBAS MALAH MEMILIH YANG TERKEKANG, DASAR ANAK SIALAN TAK TAU TERIMAKASIH"

"Papi gak usah bahas bahas tentang pesantren, hati papi yang keras akan tetap keras karena perempuan pelakor itu yang sudah menghasut papi"

"YA SUDAH, KALAU KAMU TIDAK SUKA, MENDING KAMU PERGI KE LONDON SAJA"

"Ke tempat asal perempuan pelakor itu? gak sudi Afifah ke sana, lebih baik Afifah ke pesantren"

"ANAK SIALAN" Tangan pria bernama Anton tersebut hampir melayang menampar pipi Afifah kalau saja Amar tidak mencegahnya.

"Siapa kamu? Berani nya memasuki rumah saya"

"Saya Amar om" Jawab Amar.

"Saya tidak peduli namamu siapa, yang saya pertanyakan tentang siapa kamu dan sedang apa kamu disini?"

Menghela napas pelan Amar kemudian menyahut, "Saya Amar, dan saya kesini berniat ingin melamar Afifah untuk menjadi istri sah saya" Sahutnya, padahal tadi tujuan ia ke rumah Afifah adalah menjemput gadis itu agar kembali ke pesantren namun pada akhirnya ia malah menuturkan hal yang lain.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jul 21, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

JALUR LANGITTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang