❗❗PLAGIAT???!!! JAUH JAUH❗❗
❗❗JANGAN LUPA VOTE & KOMEN❗❗
.
.
.
.
.
{AHLAN WA SAHLAN}
"Huek, huek, huek" Zahra memuntahkan isi perut yang baru saja di telannya dengan dielus oleh seorang santriwati pada punggung belakang nya atas paksaan Zahra sendiri.
"Maaf ya kalau kamu jijik sama muntahan saya"
Santriwati tersebut menggeleng pelan, "Sama sekali tidak ning, kecuali muntah kucing baru saya akan jijik" Sahut nya seraya menuangkan minyak kayu putih di tangan kiri dan mengoleskan nya kembali ke punggung Zahra dengan telaten.
Setelah dirasa agak mendingan, Zahra duduk perlahan di atas kursi makan, lalu santriwati bernama Salwa itu pun menuangkan air putih ke gelas kosong sembari menyerahkan kepada Zahra untuk diminum.
Salwa adalah santriwati yang hampir menumpahkan minuman di ruang tamu ketika awal kedatangan Zahra dan Gus Hafidz sekeluarga ke pondok pesantren Darul Falah.
Tadinya Salwa hanya ingin mengantarkan makanan dari Ummi untuk keluarga kecil Zahra, namun saat sampai di depan ndalem ia mendengar suara pecahan kaca yang membuat ia terpaksa masuk untuk mencari tahu sumber suara tersebut, dan alhasil ujungnya ia dipaksa Zahra agar membantu nya.
Satu jam telah berlalu, keduanya asik mengobrol santai hingga baru menyadari bahwa bel ndalem berbunyi lalu Salwa berjalan membukakan pintu utama yang langsung terpampang jelas empat pemuda kurang lebih seumuran Gus Hafidz.
Ucapan salam terdengar dari salah seorang diantara mereka, Salwa sontak membalas salam tersebut kemudian bertanya, "Mencari Gus Hafidz?"
Pemuda berkumis tipis menjawab, "Em benar, ada Gus Hafidz nya?"
"Beliau lagi ngajar, mungkin sebentar lagi pulang, tapi maaf kalau mau nunggu, tunggu saja di teras, saya tidak bisa mempersilahkan kalian masuk sebab tidak ada laki-laki didalam, kursi duduknya di sana"
Keempat pemuda tersebut mengikuti arah tunjuk Salwa kemudian mengangguk paham, "Okey, terimakasih"
"Saya izin masuk lagi, mari"
Gadis itu masuk kembali tanpa menutup pintu nya rapat-rapat, karena menurutnya terkesan tidak sopan jika pintu dibiarkan tertutup rapat sedangkan tamu masih berada di teras.
"Siapa Sal?" Tanya Zahra sembari menjangkau setoples kismis.
Salwa melirik, "Ada empat pemuda mencari Gus Hafidz, tapi saya suruh tunggu di teras saja kalau mau nunggu"
"Empat pemuda? Oh mungkin itu Amar, Qais, Abu dan Farid, teman Gus Hafidz sewaktu di tarim, tiga dari mereka jomblo loh" Kata Zahra menjelaskan dengan berakhir menggoda Salwa.
Mendengar hal tersebut Salwa sontak memanyunkan bibir, "Ih apa sih ning" Ketus nya hingga membuat Zahra tertawa.
"Ya apa Salwa, saya cuman menjelaskan, barangkali aja tertarik yakan" Tidak ada henti-hentinya Zahra menggoda gadis itu dan dapat dilihat pipi Salwa memerah sekarang.
"Ah udahlah ning, saya ma-mau cuci piring dulu" Ujar Salwa dengan sedikit terbata-bata lalu berjalan ke arah pencucian piring.
"Salwa, saya kan menyuruh kamu tetap disini karena minta di temani, bukan untuk menjadikan kamu pembantu"
KAMU SEDANG MEMBACA
JALUR LANGIT
RomanceIni tentang kisah cinta dalam diam di pondok pesantren Al-Qamar, pondok pesantren ternama di kota Jakarta, dengan di pimpin oleh Kyai Hasan selaku anak tunggal dari pemilik pesantren yang sudah lama meninggal. Zayyad Hafidz Al-Ghifari, laki-laki ta...
