9.

80 20 6
                                        

Assalamu'alaikum...

~HAPPY READING~
.
.
.
.

9. Biasa

"Ikhlas itu... seperti halnya surat Al-Ikhlas, tau apa persamaannya?" yang ditanya hanya menggeleng.  "kalau surat Al-Ikhlas itu tak ada kata ikhlasnya di setiap ayatnya, sedang ikhlas pada kita itu tidak ada maksud lain ketika kita berbuat kebaikan... kecuali hanya karna Allah saja. Istilahnya kalau tangan kanan kita memberi, maka jangan sampai tangan kiri kita mengetahui. Nah... seperti itu juga ikhlas. Sekarang ada pertanyaan?" tak ada seorang pun yang menjawab.

Pada akhirnya dia membereskan kitab-kitab di miliknya. "Ya sudah sampai disini saja pengajian hari ini, wallahu'alam ...."

Setelahnya semua santri membaca do'a sebelum beranjak pulang.

"Teh Aya!" panggil salah seorang santri putri pada orang yang tadi mengajar, yang tak lain adalah Aya.

"Iya Fitri, kenapa?" tanya Aya pada santri yang bernama Fitri itu.

Terlihat raut ragu dari wajah Fitri. "Teh aku mau minta tolong,  bantu kelompok hadroh aku buat nanti malam acara mimgguan. Bisa gak teh?" tanyanya. Ya, semua santri memanggilnya teteh karna memang itu keinginannya sendiri daripada harus di sebut ibu.

"Bantu gimana?" tanya Aya lembut.

"Temenin aku jadi vocalis, mau gak Teh?"

Aya tersenyum. "Insyaallah aku usahain oke, sekarang ayo kita pulang dulu !"

Setelahnya mereka pulang bersama karna memang jalurnya juga sama, di sebabkan rumah Abi Zaki yang saat ini Aya tempati itu... ada di komplek asrama putri.

"Mangga teh ..." pamit Fitri yang di angguki oleh Aya dibarengi sebuah senyuman.

"Assalamu'alaikum..." ucap Aya ketika memasuki rumah dengan senyuman yang masih terparti di wajahnya.

Namun, itu tak berlangsung lama. Karena saat dia memasuki kamarnya dan Azka, tanpa sengaja dia melihat Azka yang tengah mengelus sebuah cetakan poto seorang gadis yang sangat Aya kenali.

Araa...

"Gimana keadaan kamu sekarang, Ra?" monolog Azka sembari terus menatap bingkai poto di tangannya tanpa menyadari adanya Aya di belakangnya. 

"Kenapa kamu harus berkorban sebesar itu, Ra? jujur saja segimanapun usaha Aya buat dekati aku... tetap aja Ra, nama kamu yang masih tersimpan rapi di hatiku."

Deg...

'Secinta itu A, kamu sama Ara?' batin Aya menjawab ucapan Azka.

"Aku juga berusaha buat nerima Aya seperti yang kamu minta. Tapi Ra, jangankan buat dekat dengan dia, ketika ada orang yang menyebutkan namanya saja... dadaku tiba-tiba sesak Ra. Sakitt banget lihat dia, yang seharusnya itu adalah kamu."

Tes...
Tes...

Tanpa terasa air mata Aya terjatuh dari pelupuk matanya. Perrkataan Azka itu bagaikan pisau tumpul yang menusuk dada Aya sampai ke jantungnya.

Behind You (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang