47

114 4 11
                                        

HAPPY READING 😺

47. Kara

"Ada pertanyaan?" tanya Azka kala ia selesai menjelaskan materi acara. "Barangkali ada yang mau di tanyakan di luar materi pun, boleh!" lanjutnya.

Suasana ricuh seketika. Banyak yang unjuk tangan, membuat Zyan selaku pemilih orang-orang yang akan di terima pertanyaannya, menggeleng pusing.

Sebenarnya sudah biasa di tiap ia menemani Azka pasti ada saja kejadian seperti ini. Dan dia yang selalu jadi korbannya. Tapi kali ini lebih parah, karena kajiannya di adakan di sebuah sekolah menengah atas yang isinya sudah pasti di penuhi dengan anak-anak remaja menjelang dewasa.

"Pilih lima!" ujar Azka, menegaskan.

Tanpa menjawab, Zyan kembali mengedarkan pandangannya memperhatikan siapa kira-kira yang benar-benar ingin bertanya. "Cowok samping tiang!" tunjuknya dengan suara yang menggema di seluruh aula.

Orang yang di panggil berdiri di tempatnya dengan seluruh atensi mengarah kepadanya. "Perkenalkan saya Zidan. Saya mau bertanya, tapi ini sedikit melenceng dari materi!" ungkapnya dengan gestur tubuh yang kentara ragunya.

"Tanyakan saja!"

Cowok bernama Zidan tadi mengangguk. "Mohon ma'af sebelumnya. Apa A Azka udah nikah?"

Suasana yang sempat hening kembali ricuh. Bisikan-bisikan awal mulai terdengar mengeras dan jelas. Melihat kondisi yang tidak kondusif, Zyan berinisiatif untuk meminta MC mengakhiri sesi tanya jawabnya itu.

"Oke para hadirin, karena suasana tidak kondusif, kita lanjutkan saja ke acara selanjutnya!"

Helaan kekecewaan terdengar di sepenjuru aula. Melihat hal itu, ada rasa kurang mengenakkan di hati Azka. Sebelum dia berpamit, satu kata terluncur dari mulutnya yang membuat para mustami' terdiam mencerna maksudnya, sebelum kembali membuat kericuhan.

"Saya punya istri, tapi telah pergi! Saya pamit, wassalamu'alaikum."

Azka pergi tanpa menunggu Zyan yang tengah membereskan barang-barangnya. Matanya memutar malas melihat ke tidak pedulian iparnya yang semakin menjadi semenjak di tinggal istrinya.

"Cih... emang gak pernah mikirin gue dia tuh!"

***

Langit mendung dengan tebaran awan hitamnya, matahari bersembunyi seakan tak ingin memanasi suhu bumi, semilir angin pantai yang terasa menyejukkan di tengah rasa panas yang menimpa kulit, membuat hati Azka terasa lebih tenang.

Menatap langit... Azka teringat dengan istrinya yang telah pergi. Mungkin jika dia masih ada, saat ini mereka tengah duduk berdampingan menatap anak mereka yang tengah berlarian di samping pantai.

Helaan napas berat keluar dari peredarannya. Azka membuka ponselnya, memeriksa adakah pesan dari iparnya yang tiba-tiba menghilang itu. Dan... yap, ada. Tengah fokus membalas pesan, ada seorang anak kecil yang terjatuh kala tak sengaja tersandung kakinya yang tengah selonjoran di atas pasir.

"Aduh Om, maaf ya!" seru anak laki-laki berusia sekitar lima atau enam tahunan.

"Kenapa kamu yang minta maaf, kamu yang terluka?!" tanya Azka sembari membantu anak itu berdiri.

"Kata bunda mau kita salah atau enggak, kalo kita gak sengaja nyinggung orang lain... baiknya minta maaf!"

Azka terbujur kaku di tempatnya. Bukan... bukan sebab ucapan yang terkesan dewasa dari anak itu, melainkan saat anak itu mengangkat wajahnya dan menatap Azka, di sana ia menemukan sesuatu yang terasa familiar, menyenangkan sekaligus menyedihkan di waktu bersamaan.

Mata itu... lengkungan senyum di bibirnya, dan sebuah tahi lalat di dekat bibir terasa sangat kebetulan untuk sebuah kemiripan. Namun Azka menggelengkan kepalanya kala pikirannya telah berkelana jauh.

Enggak, mereka cuman mirip gak lebih!

Azka mengedarkan pandangannya ke sekitar, mencari seseorang yang mungkin saja tengah mencari anak kecil ini. "Kamu sama siapa di sini?" tanyanya.

"Tadinya sama bunda, tapi katanya dia ada panggilan mendadak dari bosnya. Jadinya aku sendiri." Azka terkejut mendengar penuturan santai anak itu yang seperti penuturan orang dewasa. Sempat akan menjawab, tapi anak itu kembali berucap, "Jangan khawatir Om! Rumah aku deket kok, tuh di sana!" tunjuknya pada sebuah villa yang berdiri tak jauh dari pantai.

Azka menghela napasnya lega. Tak tahu kenapa ada perasaan tenang kala mengetahui anak di depannya tidak bermasalah. "Nama kamu siapa?" tanyanya.

Anak itu mengulurkan tangan kecilnya, lucu. "Kenalin Om! Saya Adzkara Zhafin Putra Malik, panggilannya Kara, adiknya Kira! Jangan tanya nama bunda ya... PAMALI!"

Azka memiringkan kepalanya dengan raut terkejut yang kentara. Baru kali ini dia melihat ada anak kecil yang berkenalan seperti itu. Sedikit aneh, tapi tak dapat dipungkiri memang anak bernama Kara ini... menggemaskan.

Pandangan Azka tak sengaja terpaku di luka kecil yang berada di lutut Kara. Sedikit bengkak dan juga berdarah, tapi tak sedikitpun Kara terlihat kesakitan. Sebaliknya dia malah tengah melompat-lompat berusaha menggapai wajah Azka yang berdiri menjulang di depannya.

"Kenapa?"

"Om jongkok dulu deh, bentar!"

Tak menolak, Azka segera menekuk lututnya—mensejajarkan tubuhnya dengan Kara. Tanpa di duga Kara malah mengusap rambut Azka dengan pelan, yang membuat Azka kembali dibuat tertegun olehnya.

"Maaf ya Om, kalo ini gak sopan. Habisnya rambut Om kotor dan sedikit acak-acakan," ujar Kara terlampau jujur. "Nah kalo gini kan bagus, jadi keliatan gantengnya!" ujarnya lagi sembari menepuk-nepuk kedua tangannya setelah merapikan rambut Azka.

Lagi dan lagi Azka di buat speechless oleh anak kecil di depannya. Dia merasa seperti dirinya yang seorang anak kecil, dan anak kecil ini orang dewasa.

"Sudahlah om mending anter aku pulang!" Kara menarik tangan Azka tanpa persetujuan Azka sendiri. Azka yang di perlakukan seperti itu, pasrah saja mengikuti alur bocil aneh ini.

"Om tau gak, bunda aku tuh cantik tau! Tapi sayangnya ayah aku malah ninggalin dia pas aku baru lahir!"

Azka sedikit tersentak kala mendengar penuturan tanpa beban itu. "Darimana kamu tahu?"

"Gak sengaja dengar pas bunda lagi ngobrol sama Tante aku."

"Tapi kamu tahu ayah kamu seperti apa?"

Kara berbalik, menatap Azka kesal. "Enggak lah, Om. Lagian bunda gak pernah cerita langsung dan Kata juga gak peduli sih."

Mereka kembali melanjutkan perjalan beberapa detik dalam diam. Ya... sebab tak lama dari itu, mereka sampai di depan villa yang katanya tadi milik Kara.

"Sudah sampai!" seru Kara yang membuat Azka tersenyum tanpa disadari. "Assalamualaikum... Ounty, oh Ounty. Kara pulang nih!"

"Wa'alaikumsalam, sebentar Kara!"

Deg

Azka tertegun mendengar suara itu, suara yang sangat familiar di telinganya, alunan masa lalu seketika terngiang di benaknya.

"Om kalo mau pergi, silahkan. Kalo mau masuk dulu juga gapapa, nanti Kara izin ke onty Ya dulu!"

Belum sempat Azka menjawab, suara pintu yang dibuka mengalihkan perhatian keduanya. Seorang wanita berkerudung hitam menatap Azka terkejut, begitupun sebaliknya.

CEKLEKK...

"A Azka?!"

"Aya?!"

***

HOLLA!!!

GIMANA KABARNYA HARI INI? ALWAYS BAIK KAN?
JANGAN LUPA VOTEMENTNYA YAA KAWAN-KAWAN!!!
BUBAYYY 👋 👋 👋

2025-08-13
TBC

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Aug 13, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Behind You (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang