20.

87 12 2
                                        

20. Back story 2

Sebulan setelah kejadian yang menimpa Aya, Ara harus menghadapi tekanan sosial yang semakin menghimpitnya.

"Katanya cewek yang gagal nikah tuh bakal susah dapet jodoh."

"Pantes aja nggak jadi nikah, orang sikapnya gitu. Sok eksklusif, nggak mau bergaul."

"Kayaknya dia cuma pura-pura mau nikah, padahal yang nikah kan temennya."

"Temennya cantik, baik, ramah pula. Pantes lebih dipilih daripada dia."

"Dia kan anak sial, buktinya dia sendiri yang bunuh kakaknya."

"Cantik-cantik kriminal."

"Pantes aja nggak ada yang mau sama dia, dia itu pembunuh."

Ara sebenarnya tidak peduli dengan omongan orang-orang. Tapi dari mana mereka tahu tentang pernikahannya yang batal? Dan yang lebih menyakitkan, kenapa mereka terus-terusan mengungkit kematian kakaknya?

Dada Ara terasa sesak. Luka yang dulu sempat terkubur perlahan-lahan terbuka lagi. Trauma yang selama ini ia tekan kembali merayap masuk.

Ara bukan anak pertama. Ia punya seorang kakak laki-laki, Zhafran Zaidan Zegan-satu-satunya abang yang ia punya.

Waktu itu, keluarganya sedang liburan. Ara, yang baru berusia enam tahun, berlarian ke sana kemari, masih tenggelam dalam dunianya sendiri. Sampai akhirnya, ia melihat seekor kucing berlari ke jalan besar.

Tanpa berpikir panjang, Ara mengejarnya. Ia tak sadar ada bus yang melaju ke arahnya.

Zhafran, yang saat itu baru berumur sepuluh tahun, melihat bahaya itu lebih dulu. Tanpa ragu, ia berlari dan mendorong tubuh Ara hingga jatuh ke trotoar.

Namun, sebelum Ara sempat bernapas lega, ia menyaksikan sesuatu yang akan menghantuinya seumur hidup.

Tubuh Zhafran hancur di depan matanya. Bus itu melindasnya tanpa ampun. Darah tercecer di mana-mana. Wajah abangnya tak berbentuk. Lengan dan kaki terlempar jauh dari tubuhnya.

"ABANGGGG!!" Jeritan Ara menggema di udara.

Orang tuanya yang mendengar teriakan itu langsung berlari mencari mereka. Saat melihat tubuh Zhafran yang tak bernyawa, dunia terasa runtuh.

Ayahnya, Hamza, memeluk tubuh Ara yang gemetar. "Papa ... abang ..." lirihnya sambil menangis.

Hamza tak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa memeluk putrinya erat, sementara ibunya, Kayla, pingsan di tempat.

"Papa... ini semua gara-gara Ara... Abang pergi gara-gara Ara... kenapa Abang nyelamatin Ara? Kenapa nggak Ara aja yang pergi?!" teriak Ara dengan suara serak.

Hamzah mengelus kepala Ara, menahan air mata yang nyaris jatuh. "Sayang, abang lakuin itu karena dia sayang sama kamu. Dia pergi karena Allah lebih sayang sama abang kamu."

Ara menggeleng keras. "Kenapa nggak Ara aja, Pa?! Biar Ara nggak lihat abang kayak gitu... pasti abang sakit... tangan Abang aja sampai kelempar..."

Hamzah menguatkan diri. "Ara, kalau kamu terus nangis, abang kamu nggak akan tenang di sana. Kamu mau Abang kamu gelisah?"

Ara terdiam. Pandangannya kosong ke arah tubuh Zhafran yang sudah dibawa ke ambulans. Tak lama kemudian, ia jatuh tak sadarkan diri.

Hamzah menghela napas berat, dia menggendong ara dan masuk kedalam mobil menyusul istri dan kedua anaknya.

"Ya Allah ... " lirihnya.

Setelah kejadian itu, Ara berubah. Ia menjadi lebih pendiam, lebih tertutup. Trauma itu begitu dalam, membuatnya harus menjalani terapi selama tiga tahun sebelum akhirnya bisa kembali 'normal'.

Namun, normal yang ia rasakan hanyalah kepura-puraan.

Setiap kali mendengar atau melihat kecelakaan, tubuhnya bergetar. PTSD yang ia derita tak benar-benar hilang. Sama seperti yang Aya alami.

Ketika mendengar Aya mengalami kecelakaan, Ara sempat mengalami tremor. Tapi, ia sudah belajar mengendalikan dirinya. Setidaknya, cukup untuk tidak terlihat lemah di depan orang lain.

Namun, sebulan terakhir, omongan orang-orang menghidupkan kembali mimpi buruknya. Mereka terus membicarakan Zhafran. Seolah-olah Ara benar-benar bertanggung jawab atas kematian abangnya.

Sebenarnya baik Hamza, Kayla maupun keluarga yang lain tidak ada yang menyalahkan Ara atas kematian Zhafran. Tapi, Ara selalu menganggap bahwa kejadian itu adalah ulah dirinya.

Awalnya ia tak memberi tahu keluarganya. Ia mengatasi semuanya sendiri, dengan mengonsumsi obat penenang.

Tapi tetap saja, bayangan itu tak mau pergi. Sosok Zhafran dengan wajah hancur, tangannya yang terlempar, darah yang membasahi tubuh Ara... semuanya terus menghantuinya.

Zoya juga tidak mengetahui jikalau kematian kakak tertuanya itu karna menyelamatkan Ara.

Saat dia mengetahuinya juga, disaat dia melihat ara yang tak sadarkan diri di kamarnya dengan banyak pecahan kaca. Bahkan terlihat sayatan memanjang dari lehernya yang untungnya tidak mengenai nadinya.

Ara membuka matanya perlahan. Tatapannya kosong.

Zoya memeluk Ara. "Kakak ," ucapnya, tapi Ara tak menggubris.

"Zoyaa..." lirih Ara sembari melihat ke arah Zoya.

Zoya menggenggam tangannya. "Kakak... kenapa..."

Ara melepas genggamannya. "Jangan deket-deket sama kakak. Kakak nggak mau kamu juga ikut pergi gara-gara kakak...."

Zoya menggeleng, mencoba memeluknya lagi. Tapi Ara menolak.

"Pergi, Zoya! Pergi dari sini!" Ara melempar barang-barang di sekitarnya.

"Nggak, Kak! Kakak nggak bakal bikin aku pergi kayak abang!" Zoya berusaha mendekat, sementara diam-diam ia memanggil dokter.

"Bohong! Kalian semua bohong! Buktinya Aya juga kehilangan keluarganya gara-gara deket sama Ara! Tunangannya juga mati!" Ara berteriak histeris, sebelum dokter menyuntikkan obat bius ke tubuhnya.

Zoya meneteskan air mata. Ia tak pernah tahu kakaknya selama ini menanggung beban seberat itu.

Kayla menangis di pelukan Hamzah, sementara Hamzah sendiri berusaha menenangkan Zoya. "Ara pasti bakal baik-baik aja. Kita harus percaya."

"Kenapa kalian nggak kasih tahu aku tentang trauma kakak?" tanya Zoya lirih.

Hamzah tersenyum sedih. "Kakak kamu sendiri yang nggak mau kamu tahu. Dia takut kamu bakal menjauhinya kalau kamu tahu."

"Padahal aku nggak akan pernah ninggalin Kakak..." bisik Zoya, bersandar di dada ayahnya.

Kayla memperhatikan Zoya yang tengah memejamkan matanya di pelukan Hamza. "Kami juga sudah bilang sama Ara, bahwa kamu gak akan menjauhinya kalau tahu. Hanya saja Ara tetap memaksa. Jadi, daripada Ara harus kembali bersedih lebih baik kami menurutinya," ucap Kayla sembari menghapus bekas air mata di pipi Zoya.

"Kakak bakalan baik-baik aja, kan?" tanya Zoya yang diangguki ragu oleh ke duanya.

Butuh tiga bulan bagi Ara untuk bisa kembali. Tapi itu lebih baik daripada harus menunggu bertahun-tahun kembali.

Meskipun dinyatakan stabil, Ara tetap rutin berkonsultasi dengan dokter. Ia tahu, trauma ini bisa kembali kapan saja.

"Ara aja butuh tiga bulan buat sembuh... gimana dengan Aya?"

***

_aku terjatuh saat melihatmu juga jatuh, tapi aku tak yakin saat aku sembuh kamu juga akan sembuh_
~zara zhafina zulfa~

Holaa!!

Gimana guys part kali ini?

Jan lupa votmentnya kawan-kawan!!!!

Bubayyy👋👋👋

2025-03-21
Tbc

Behind You (ON GOING)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang